/
Rabu, 05 April 2023 | 20:25 WIB
Kolase foto Slamet Tohari alias Mbah Slamet saat menunjukkan lokasi ke-12 korban (Suara.com)

SuaraTasikmalaya.id – Nama Slamet Tohari alias Mbah Slamet, sang dukun pengganda uang baru-baru ini menghebohkan publik.

Pasalnya dukun asal Banjarnegara, Jawa Tengah ini telah melakukan pembunuhan berantai terhadap 12 orang yang diduga korban praktik penggandaan uang.

Pihak kepolisian pun bergerak cepat untuk mengungkap kasus ini, dan mencari para korban pembunuhan yang dilakukan oleh Mbah Slamet.

Setelah semuanya ditemukan, Polda Jawa Tengah kemudian menerjunkan tim Disaster Victim Investigation (DVI) untuk memeriksa korban pembunuhan oleh dukun maut tersebut.

Namun, hasil mengejutkan di ungkap oleh Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi di Semarang pada Rabu, 5 April 2023.

Ahmad Luthfi menerangkan jika hasil sementara tidak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan pada tubuh korban.

“Hasil pemeriksaan sementara tidak ada unsur kekerasan. Penyebab kematian secara medis karena lemas,” kata Ahmad Luthfi.

Dugaan sementara, penyebab para korban tewas adalah dari minuman yang diberikan oleh Mbah Slamet.

“Minuman racun. Saat ini sedang diselidiki apa jenis racunnya, dan sedang di tes di laboratorium forensik,” kata Ahmad Luthfi.

Baca Juga: Pelatih Persib Bandung Luis Milla Dikabarkan Incar Mantan Anak Kesayangannya di Timnas Indonesia, Siapakah Dia?

Ahmad Luthfi menerangkan jika Mbah Slamet membujuk para korbannya untuk meminum minuman yang telah disiapkan oleh sang dukun tersebut.

Para korban akhirnya menenggak minuman itu, karena sebelumnya Mbah Slamet menantang para korbannya tersebut.

Mbah Slamet mengatakan, jika kuat minum minuman yang ia siapkan, maka uang akan digandakan.

Rupanya Mbah Slamet telah mempersiapkan semuanya agar bisa menghabisi para korbannya.

"Akan gandakan 50 juta menjadi 6 miliar. Padahal tipu-tipu. Begitu ditagih pelaku kepepet. Kemudian ia meminta korban datang ke rumah, disediakan minuman. Kalau kuat, uang akan digandakan. Setelah diminum mati lemas, lalu korban dikubur,” terang Ahmad Luthfi.

Semua ke-12 korban telah diperiksa oleh Tim Forensik Polda Jateng.

Selain dua korban yang sudah teridentifikasi atas nama Paryanto dan Mulyadi, 10 mayat lainnya belum diketahui identitasnya.

Bahkan sejauh ini pihak kepolisian baru bisa mendeteksi sembilan mayat lainnya, yakni enam laki-laki umur 40-50 tahun dan tiga perempuan umur 25-35 tahun.

Kapolda pun meminta kepada masyarakat yang merasa kehilangan keluarganya agar segera menghubungi polisi, terutama dari daerah yang disebut tersangka.(*)

Load More