Suara.com - Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara meningkatnya pengguna internet dengan berkurangnya kepercaan akan agama-agama. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal MIT Technology Review 4 April kemarin.
Allen Downey, pakar komputer dari Olin College of Engineering, Massachusetts, Amerika Serikat, dalam penelitian itu menganalisis data pemeluk agama di Amerika Serikat selama 1990 sampai 2010 yang dikeluarkan oleh University of Chicago.
Dari analisis awal dia menemukan bahwa selama dua dekade itu jumlah penduduk AS yang tidak beragama menjadi 25 juta. Dia juga menemukan bahwa keluarga adalah faktor utama yang menyebabkan seseorang tetap setia pada agama. Jika dibesarkan dalam keluarga religius maka seseorang akan tumbuh sebagai pemeluk agama.
Meski demikian ia juga menemukan bahwa sejak 1990 jumlah orang yang dibesarkan dalam keluarga beragama sudah sangat berkurang. Artinya dalam periode itu keluarga tidak lagi menjadi faktor penting. Faktor keluarga hanya menyumbang 25 persen terhadap pertambahan orang tidak beragama.
Tingkat pendidikan, jelas Downey, juga berhubungan lurus dengan turunnya jumlah pemeluk agama. Tetapi meski jumlah orang yang menempuh pendidikan hingga tingkat pendidikan tinggi meningkat 10 persen sejak 1980an, pengaruhnya hanya lima persen terhadap bertambahnya kelompok tidak beragama.
Dalam analisis lebih lanjut Downey menemukan bahwa penggunaan internet adalah salah satu faktor utama yang mendorong bertambahnya jumlah orang tidak beragama di AS. Setidaknya internet menjelaskan 25 persen kasus bertambahnya jumlah umat tidak beragama di AS.
Pada era 1980an, internet belum digunakan secara umum di AS. Tetapi pada 2010, 53 persen warga AS menghabiskan minimal dua jam di dunia maya setiap pekan dan 25 persen lagi menghabiskan tujuh jam setiap pekan untuk mengakses internet.
Downey memang mengingatkan bahwa studinya tidak serta merta menunjukkan hubungan sebab akibat, tetapi hanya menampikkan perbandingan lurus antara peningkatan jumlah umat tidak beragama dengan tingginya penggunaan internet.
Dalam studi itu ia memasukkan sejumlah faktor, selain internet, keluarga, dan pendidikan, seperti pendapatan, status sosial ekonomi, serta lingkungan tempat tingal. Ia hanya menemukan korelasi tinggi antara penggunaan internet dengan turunnya jumlah orang tidak beragama. (CNET/ Daily Mail)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Sengketa Lahan Bertahun-tahun, Warga Banjarsari Bermalam di Kantor Bupati Lahat
-
Babakan Cileungsi Mencekam, Pemilik Rumah Pingsan Menyaksikan Tempat Tinggalnya Ludes Terbakar
-
Pengadaan Smartboard Disdik Bogor Diusut KPK
-
Depok Buka Kuota Gratis Kerjaan Sopir di Jepang untuk 1.000 Warga
-
Gunung Gede Pangrango Tutup Pendakian Sampai Waktu yang Belum Ditentukan
-
Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi
-
Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Dorong Efisiensi BTT APBD untuk AI Karhutla
-
Keracunan Massal Santri Usai Santap MBG Jadi Perhatian Khusus Bupati Sidoarjo
-
Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut
-
Jonatan Christie Kejar Poin di China Masters, Tiket World Tour Finals Jadi Target