Suara.com - Sejak meluasnya penggunaan media sosial di internet, salah satunya Facebook yang tergolong paling populer, tidak saja saja dampak berupa kebaikan, tapi kejahatan terkait dengannya pun banyak muncul di masyarakat. Termasuk di antaranya adalah kejahatan berupa pembunuhan, yang beberapa tahun belakangan cukup banyak melibatkan aktivitas melalui Facebook.
Hal ini pun menjadi objek studi dua peneliti dari Birmingham City University, belum lama ini. Tepatnya, Elizabeth Yardley dan David Wilson, nama dua peneliti itu, coba mengidentifikasi bagaimana saja antara lain Facebook telah "digunakan" dalam kasus-kasus pembunuhan.
Sebagaimana dikutip Sky News, Senin (3/11/2014), kedua peneliti memeriksa sebanyak 1.000 laporan bertema "Facebook murder" di seluruh dunia. Laporan-laporan itu sendiri diambil berdasarkan catatan media massa yang memuat pengakuan kejahatan (pelaku), termasuk di antaranya pembunuhan biasa, pembantaian, serta tipe pembunuhan yang mungkin "tak disengaja" (culpable homicide).
Hasilnya, para peneliti menemukan adanya enam cara di mana Facebook telah "digunakan" dalam kasus-kasus pembunuhan. Mereka juga menemukan bahwa kasus-kasus pembunuhan terkait Facebook itu, dibandingkan dengan kasus pembunuhan secara umum, lebih berdampak pada orang-orang berusia lebih muda, dengan korban kebanyakan adalah perempuan, namun yang terlibat berasal dari kelompok sosial-ekonomi beragam. Ditemukan juga sejumlah signifikan kasus pembunuhan berujung bunuh diri.
Namun begitu, para peneliti menyimpulkan bahwa istilah "Facebook murder" sendiri tidak memiliki arti apa-apa. Istilah itu bahkan menurut mereka harus diperlakukan dengan hati-hati, mengingat kemungkinan pengaruhnya dalam memahami makna beragam dan kompleksitas dari tindak (kejahatan) pembunuhan itu sendiri.
"Kasus-kasus yang kami identifikasi tidak unik maupun tak lazim secara kolektif, jika dibandingkan dengan tren dan karakteristik umum -- jelas tidak sampai pada tingkat di mana perlu memperkenalkan kategori baru pembunuhan atau mengesahkan label besar seperti Facebook Murder," tulis para peneliti.
Para peneliti pun menyatakan bahwa terkaitnya Facebook dalam kasus-kasus itu sebenarnya tidaklah benar-benar mengejutkan. Alasannya, karena hubungan sosial yang dekat antara korban dan pelakunya adalah sebuah karakteristik yang sudah diketahui dalam tipe kejahatan ini, sementara hubungan seperti itu kini makin banyak ditampilkan di situs-situs jejaring sosial.
Berikut enam tipe "pembunuh di Facebook" yang diidentifikasi oleh kedua peneliti:
1. Tipe "Reactor" (Sosok yang Bereaksi Keras)
Ini merupakan yang paling banyak muncul dalam berbagai kasus, mencapai 27% dari kasus-kasus yang diteliti. Pada tipe ini, pelaku pembunuhan biasanya bereaksi terhadap informasi yang tampil di Facebook dan lalu menyerang korbannya di kehidupan nyata. Contoh untuk ini adalah kasus pada 2008, di mana lelaki bernama Wayne Forrester di Croydon, membunuh istrinya, Emma, usai membaca tulisan sang istri yang menyatakan mereka telah berpisah dan bahwa dia ingin bertemu lelaki lain.
2. Tipe "Informer" (Sosok yang Suka Berbagi Informasi)
Tipe ini juga tergolong banyak, mencapai 22,9% dari kasus-kasus yang diteliti. Dalam tipe ini, para pelaku menggunakan Facebook untuk menyampaikan kepada teman-temannya soal rencana atau niat, bahkan juga pembunuhan yang telah mereka lakukan. Contohnya ada pada 2013 lalu, di mana lelaki asal Colorado, Merrick McKoy, menculik putrinya yang berusia dua tahun dari eks-pasangannya. McKoy lantas menaruh foto dan menulis beberapa pesan di Facebook, termasuk yang berbunyi: "Aku sudah bilang aku tak bisa hidup tanpamu. Lol (tertawa), kamu pikir aku bercanda. Kini aku dan Mia keluar b****." Lalu dia menembak mati putrinya dan dirinya sendiri.
3. Tipe "Antagonist" (Sosok Antagonis)
Tipe ini tercatat mencapai 16,7% dalam kasus-kasus yang diteliti. Pada tipe ini, komunikasi panas di situs jejaring sosial itu biasanya berujung pada konfrontasi berhadapan-hadapan yang berdampak fatal yaitu pembunuhan (kematian).
4. Tipe "Fantasist" (Sosok yang Berfantasi)
Ini termasuk salah satu dari tiga tipe dengan persentase lebih sedikit dalam kasus-kasus yang diteliti. Pada tipe ini, pelaku diketahui menggunakan Facebook sebagai wadah "mengembangkan" fantasinya sendiri.
5. Tipe "Predator" (Sosok Pemangsa)
Tipe ini cukup gamblang penjelasannya, namun tidak akan begitu mudah menemukannya. Pelaku biasanya membuat profil palsu, lalu entah dengan motif apa, mendekati dan membujuk calon korbannya untk kemudian melakukan tindak pembunuhan.
6. Tipe "Imposter" (Sosok Pemalsu Identitas)
Tipe ini mungkin hampir mirip dengan "predator", bedanya hanya bahwa sang pelaku secara sengaja membuat profil yang meniru atau seolah-olah dia adalah sosok tertentu, lalu mendekati atau mendapatkan akses ke lingkungan korbannya. Ada juga bahkan yang lantas "menyamar" sebagai korbannya, demi memberi kesan bahwa sosok malang itu masih hidup. [Sky News]
Berita Terkait
-
Tangis Ibunda Radit di DPR: Mahasiswa IPK 4,0 Jadi Terdakwa Pembunuhan di Pantai Nipah
-
Viral Suami Bunuh Istri dan Anak di Tempat Umum, Terekam Acara Siaran Langsung
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Google dan Meta Dituntut Karena Desain Aplikasi Bikin Anak Kecanduan
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Trending di Steam, Sea of Remnants Bakal Menjadi Game RPG Gratis Tahun Ini
-
67 Kode Redeem FF Terbaru Aktif 26 Februari: Sikat Skin Trogon dan Mythos Fist
-
350 Kg Sampah Elektronik Dikumpulkan, LG Gaungkan Gerakan Daur Ulang E-Waste di Indonesia
-
Menanti THR MLBB 2026: Ini Hadiah dan Potensi Skin Gratisnya
-
Samsung Galaxy Buds4 Pro Resmi, Ini Harga dan Spesifikasi Earbuds ANC 24-bit di Indonesia
-
Game Silent Hill: Townfall Hadirkan Horor First-Person yang Mencekam di 2026
-
Trailer Anyar Film Mortal Combat 2 Beredar, Johnny Cage Bergabung ke Pertarungan
-
3 HP Motorola dapat Update Android 17 Beta: Ada Lini HP Murah, Hadirkan Fitur Baru
-
Spesifikasi Samsung Galaxy S26 di Indonesia: Pakai Chipset Exynos Anyar dan Fitur AI
-
Harga Samsung Galaxy S26 Series di Indonesia, Spesifikasi Lengkap dan Fitur Galaxy AI Terbaru 2026