Suara.com - Anggota keluarga korban serangan teror San Bernardino menggugat Facebook, Google dan Twitter. Mereka menuduh perusahaan telah membantu kelompok Islam (ISIS) menyebarkan propaganda, merekrut pengikut dan pengumpulan dana.
Gugatan yang diajukan pada hari Rabu (4/5/2017) waktu setempat, di pengadilan federal di Los Angeles, menuduh perusahaan membantu dan mendukung terorisme, memberikan dukungan material kepada kelompok teroris dan bertanggung jawab atas kematian dari 14 korban yang terbunuh dalam serangan 2 Desember 2015 di sebuah Acara pelatihan departemen kesehatan dan pesta liburan.
Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik, suami-istri pelaku penembakan dengan senapan bertenaga tinggi, terinspirasi ISIS. Malik mengungkapkan bahwa dirinya telah berjanji setia kepada kelompok tersebut di halaman Facebook-nya sekitar saat penembakan tersebut, yang juga melukai 22 orang.
Klaim ini menargetkan penyedia media sosial tersebut yang tersebar di seluruh negeri untuk segera diadili. Pengacara yang sama telah menggugat perusahaan yang sama untuk pembantaian di klub malam Pulse di Orlando, Florida pada 2016.
Tuntutan hukum tersebut mengklaim bahwa perusahaan tersebut tidak bertindak tegas untuk memblokir atau menghapus akun para anggota ISIS dan dinilai memberikan peluang bagi mereka untuk meraup keuntungan dari iklan.
"Tanpa tergugat Twitter, Facebook, dan Google (YouTube), pertumbuhan ISIS yang eksplosif dalam beberapa tahun terakhir menjadi kelompok teroris yang paling ditakuti di dunia tidak akan mungkin terjadi," tulis gugatan tersebut.
Gugatan yang diajukan oleh saudara Sierra Clayborn, Tin Nguyen, dan Nicholas Thalasinos mencari ganti rugi uang yang tidak ditentukan.
Sementara itu, Facebook menyampaikan rasa simpatinya kepada korban dan keluarga mereka. Bahkan, perusahaan bergerak cepat menghilangkan konten yang diklaim dibuat ISIS.
"Tidak ada tempat di Facebook untuk kelompok yang terlibat dalam aktivitas teroris atau konten yang mengungkapkan dukungan untuk aktivitas semacam itu," kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: ISIS Bikin 'Facebook' dan 'Twitter' Sendiri Khusus Teroris
Sedangkan, Google dan Twitter belum berkomentar. [US News]
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Komisi Ojol Turun Jadi 8 Persen, Gojek dan Grab Terapkan Kebijakan Baru Mulai 1 Juli 2026
-
HP Vivo Rp1 Jutaan Seri Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik untuk Multitasking Stabil
-
7 Laptop dengan Baterai Paling Awet, Tetap Produktif saat Mati Listrik
-
Microchip: Tren Migrasi Teknologi Menuju Edge AI Mulai Saingi Dominasi Cloud
-
Lenovo ThinkPad Siap Tempur di Lapangan dan Dunia Digital, Tahan Ekstrem hingga Serangan Siber
-
Musisi Global Siap Buka Kompetisi Esports World Cup 2026 di Paris
-
Kolaborasi Ini Siapkan Teknologi Intel 14A untuk Chip AI, HPC, dan Smartphone Generasi Baru
-
4 HP Baterai 7000 mAh di Bawah Rp3 Juta: Performa Mantap, Anti Lowbat Seharian
-
Meta Glasses Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp5 Jutaan, Siap Tantang Pasar Kacamata AI
-
AI Agents Diprediksi Bernilai 450 Miliar Dolar AS, Drife Perkuat Adopsi Agentic Automation