Suara.com - Bumi disebut sedang dalam proses menuju kiamat keenam oleh sejumlah ilmuwan dalam penelitian mereka yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Dalam hasil penelitian itu dibeberkan bahwa separuh dari mamalia darat telah kehilangan 80 persen habitatnya dalam 100 tahun terakhir. Selain itu, miliaran mamalia, burung, reptil, dan binatang amfibi sudah lenyap dari muka Bumi.
Para peneliti mengatakan bahwa pemicu kiamat keenam ini adalah membengkaknya populasi manusia dan pola konsumsi manusia yang semakin rakus.
"Manusia akan membayar harga sangat mahal atas pemusnahan massal satu-satunya himpunan kehidupan yang kita kenal di alam semesta saat ini," tulis para peneliti dalam artikel mereka.
Jika kiamat keenam yang sedang berlangsung ini dipicu oleh ulah manusia, bagaimanan dengan lima kiamat lainnya? Berikut penjelasan ringkasnya:
1. Kiamat Ordovician-Silurian
Ini adalah kiamat terbesar ketiga dalam sejarah Bumi. Terjadi sekitar 443 juta tahun silam, di akhir periode Ordovician dan awal periode Silurian.
Proses kiamat ini memiliki dua masa puncak, yang terpisah ratusan ribu tahun. Di periode Ordovician, sebagian besar mahluk hidup masih berhabitat di dalam air, seperti trilobite, brachiopoda, dan graptolite. Binatang-binatang ini yang sebagian besar punah ketika terjadi kiamat pertama di Bumi.
Secara keseluruhan, diperkirakan 85 persen kehidupan di lautan ketika itu punah akibat membekunya air laut. Sebuah lempengan es raksasa membentang di selatan Bumi akibat perubahan iklim.
Alhasil permukaan air laut semakin surut. Ketika lapisan es mulai mencair, kandungan oksigen di dalam lautan berkurang drastis.
2. Kiamat di akhir Periode Devonian
Sekitar tiga perempat spesies di muka Bumi pada periode ini (sekitar 360 juta tahun silam) punah, termasuk terumbu-terumbu karang yang sangat berharga bagi ekosistem Bumi.
Proses kiamat pada periode ini tak terjadi seketika, tetapi merupakan gabungan dari serangkaian tragedi kepunahan yang menggerus lebih dari 70 persen kehidupan di Bumi.
Yang terdampak paling parah adalah mahluk-mahluk hidup di lautan dangkal, terutama terumbu karang yang baru bisa berkembang biak lagi 100 juta tahun kemudian.
Pada masa ini sebagian besar dasar lautan tak memiliki oksigen dan hanya bakteri yang bisa bertahan hidup di sana.
Pemicu kepunahan massal kedua dalam sejarah Bumi ini adalah perubahan ketinggian permukaan laut, hantaman asteroid, perubahan iklim, dan munculnya tumbuhan-tumbuhan baru.
3. Kiamat di Periode Permian-Triassic
Kepunahan massal ini terjadi sekitar 250 juta tahun silam dan merupakan yang paling parah dalam sejarah Bumi. Ketika itu, sekitar 96 persen mahluk hidup di Bumi lenyap.
Kita yang tersisa saat ini di Bumi merupakan turunan dari sektiar 4 persen mahluk hidup yang selamat dari kiamat terbesar ini (The Great Dying).
Menurut para ilmuwan, pemicu kiamat ini sangat rumit karena berlangsung dalam dua fase yang berjarak jutaan tahun. Yang terdampak paling parah adalah mahluk-mahluk hidup di lautan dan terutama serangga raksasa.
Penyebab tragedi ini diperkirakan lebih dari satu, mulai dari hantaman asteroid, letusan gunung berapi di Siberia, berkurangnya oksigen, dan fluktuasi permukaan laut.
4. Kiamat di Periode Triassic-Jurassic
Terjadi sekitar 200 juta tahun silam, sekitar 18 juta tahun jelang berakhirnya Periode Triassic, proses kiamat ini berlangsung dalam tiga tahap.
Sebagian besar binatang punah, termasuk reptil-reptil laut, sejumlah amfibi raksasa, dan sejumlah besar molusca cephalopoda. Uniknya, tumbuh-tumbuhan tak banyak terdampak dalam kepunahan masal ini.
Pemicunya diduga perubahan iklim, letusan gunung berapi, dan hantaman asteroid.
5. Kiamat di Periode Crataceous-Tertiary
Pada masa inilah, sekitar 65 juta tahun silam, dinosaurus punah. Sebenarnya bukan cuma dinosaurus, tetapi juga kelompok binatang laut amonit, sejumlah besar tumbuhan berbunga, dan sebagian besar pterosaurus, sejenis reptil terbang.
Diduga kepunahan dinosaurus itu dipicu oleh beberapa faktor, termasuk menurunnya permukaan laut, letusan gunung berapi, dan puncaknya hantaman asteroid raksasa di semenanjung Yucatan, Meksiko.
Setelah periode ini, mamalia mulai menguasai Bumi dan manusia kemudian muncul sebagai spesies yang paling unggul. (BBC/The Guardian)
Berita Terkait
-
Kuba 'Kiamat Kecil' Gara-gara Mati Listrik, Negara Lumpuh Total di Tengah Cuaca Panas Ekstrem
-
Terungkap Fakta Baru, Bayi T. Rex Langsung Langsung Jadi Predator Setelah Menetas
-
Fosil Tyrannosaurus Rex Gus Jadi Rebutan Miliarder dan Ilmuwan, Harganya Tembus Jutaan Dolar AS
-
Jurassic Shadows, Anime Orisinal Ninja vs Dinosaurus Resmi Diumumkan
-
Kiamat Kecil Bernama Baterai Sisa Satu Persen dan Ponsel Ketinggalan
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan