Suara.com - Beberapa hari ini sempat beredar batalnya pernikahan yang ternyata pasangannya adalah sejenis. Kini algoritma komputer dapat mengetahui apakah seseorang gay atau tidak, hanya dengan memindai gambar wajah mereka.
Lewat Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang dikembangkan di University of Stanford dapat memprediksi seksualitas seseorang. Akurasinya jauh lebih tinggi daripada manusia itu sendiri.
Tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan aplikasi "gaydar".
Algoritma mampu mengetahui apakah seorang lelaki itu gay atau tidak menggunakan satu gambar dan bisa menentukan seksualitas perempuan pada waktu itu. Cara kerjanya, saat komputer diberi lima foto seseorang, ia menjawab dengan tepat.
Para peneliti melatih AI dengan menggunakan gambar 36.630 lelaki dan 38.593 perempuan, diambil dari profil kencan online orang gay dan tidak. Algoritma ini mampu mendeteksi perbedaan struktur wajah yang halus sehingga manusia tidak dapat menutupinya.
Menurut periset yang dikutip dari The Economist, perbedaannya mungkin berhubungan dengan tingkat hormon seperti testosteron yang dimiliki janin dalam rahim, yang dapat menentukan seksualitas.
Teknologi pengenal wajah menjadi semakin cepat, andal dan akurat. Ini termasuk dalam smartphone terbaru sebagai fitur keamanan dan digunakan oleh pemerintah untuk menangani kejahatan.
Sebuah aplikasi pengenalan wajah Rusia bernama FindFace, bekerja sama dengan polisi setempat untuk mengidentifikasi tersangka. Kepolisian Cina, menggunakan teknologi tersebut untuk menangkap penjahat di festival bir.
Seperti diketahui, Homoseksualitas adalah ilegal di belasan negara. Kebencian terhadap gay, lesbian, biseksual dan transgender di Inggris telah meroket dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan AlphaGo Taklukkan Juara Dunia asal Cina
Sehingga kehadiran teknologi AI tersebut dapat berisiko bagi mereka yang gay.
"Mengingat bahwa perusahaan dan pemerintah semakin menggunakan algoritme penglihatan komputer untuk mendeteksi secara rinci seseorang, temuan kami menunjukkan ancaman terhadap privasi dan keamanan lelaki dan perempuan gay," ujar Michal Kosinski dan Yilun Wang, para peneliti di balik proyek tersebut.
Para periset menemukan bahwa program komputer kurang dapat diandalkan di dunia nyata, di luar penggunaan foto untuk situs kencan. [Telegraph]
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP 5G Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan!
- Polisi Ungkap Fakta Baru Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Diduga Ada di TKP
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Rusak Parah, Warga Kulon Progo Pasang Spanduk Protes: 'Ini Jalan atau Cobaan?'
- Resmi Gabung Persib, Bojan Hodak Ungkap Jadwal Latihan Kurzawa dan Kedatangan Markx
Pilihan
-
Menperin Pastikan Industri Susu Nasional Kecipratan Proyek MBG
-
MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?
-
Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
-
IHSG Anjlok Hampir 8 Persen Gegara MSCI, BEI: Kita Melakukan Segala Effort
-
IHSG Anjlok 7 Persen Usai MSCI Soroti Transparansi dan Likuiditas Saham RI, BEI Buka Suara
Terkini
-
Daftar Kode Redeem TheoTown Januari 2026: Cara Dapat Diamond Gratis Tanpa Ribet!
-
PUBG Mobile Raih Rekor Dunia dari Lapangan Banteng Jakarta
-
Bocoran Tampilan dan Fitur Android 17, Desain 'Liquid Glass' Mirip iOS
-
63 Kode Redeem FF Terbaru Aktif 28 Januari: Sikat Gloo Wall Gojo dan Bundle Sukuna
-
Infinix Note Edge 5G vs Redmi Note 15 5G: Duel HP Rp3 Jutaan Paling Panas di Awal 2026!
-
Cara Meningkatkan Budaya di TheoTown agar Kota Lebih Maju dan Warga Bahagia
-
5 HP Murah Redmi dan POCO Memori 256 GB Januari 2026: Cuma Rp1 Jutaan, Chip Kencang
-
Tecno Hadirkan Megabook T14 Air di Indonesia, Laptop AI Ultra-Ringan 999 Gram untuk Mobilitas Tinggi
-
GoTo Perkenalkan Empat Inisiatif Baru untuk Perkuat Kesejahteraan Mitra Driver
-
Ubisoft Lakukan PHK Massal, 6 Proyek Game Besar Dibatalkan