2. Angkutan umum yang nyeleneh
Di kebanyakan negara, transportasi publik memiliki sistemnya sendiri. Penggunanya pun memakai fasilitas tersebut dengan tertib. Tapi di Indonesia, angkutan umum atau yang lebih dikenal dengan nama angkot, terkenal dengan sopirnya yang suka 'ngetem' atau sang sopir menghentikan kendaraannya dalam jangka waktu yang cukup lama dengan harapan akan mendapat penumpang tambahan.
Selain itu, beberapa daerah di Indonesia, penumpang angkot pun terkadang naik dengan cara ekstrim seperti bergelantungan di bagian atas pintu angkot, hingga duduk di bagian atas angkot.
3. Mudik
Mudik atau yang lebih dikenal dengan pulang kampung, selalu dilakukan orang Indonesia dan umumnya menjadi kebiasaan saat momen Lebaran tiba. Ini adalah salah satu kebiasaan unik, dimana mayoritas orang Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing hanya untuk bertemu dengan sanak saudara yang sudah lama tak dijumpainya.
4. Mengobati masuk angin dengan kerokan
Masuk angin, orang asing mungkin menyebutnya dengan flu atau tidak enak badan. Biasanya, mereka menggunakan obat pereda nyeri seperti Parasetamol untuk menyembuhkannya. Tapi di Indonesia, penyakit masuk angin bisa disembuhkan dengan menggosok bagian permukaan kulit menggunakan minyak dan benda tumpul seperti uang logam atau umumnya disebut dengan kerokan. Cara penyembuhan seperti ini menjadi hal unik tersendiri bagi warga negara asing.
Foto: Kerokan. [YouTube/@Udin Fahrudin]
Baca Juga: Viral Bocah Dihukum Mandi Oli, Ini Peristiwa Sebenarnya
5. Anak-anak sudah punya smartphone
Beberapa negara besar seperti Amerika membatasi usia seseorang menggunakan smartphone. Bahkan, pemerintah Taiwan melarang anak di bawah usia 2 tahun berinteraksi dengan benda elektronik apapun. Penggunaan perangkat elektronik bagi anak usia di bawah 18 tahun pun juga dibatasi maksimal 30 menit.
Ironisnya, orang tua di Indonesia justru dengan bebas memperkenalkan anak-anak mereka dengan benda elektronik tersebut, hanya karena alasan sepele seperti membuat anaknya tidak menangis. Padahal, anak-anak yang menggunakan smartphone sejak dini, bisa membuatnya kecanduan dan itu akan berdampak dengan kinerja otak, penurunan nilai akademis di sekolah serta resiko rusaknya pengelihatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan