Suara.com - Dongeng-dongeng biasanya menggambarkan burung bangau yang membawa bayi, tetapi yang satu ini berbeda. Satwa liar itu justru membawa tagihan telepon yang sangat besar ke sebuah badan amal.
Kelompok lingkungan Polandia EcoLogic telah memasang pelacak pada bangau putih, yang disebut Kajtka, untuk mengetahui kebiasaannya bermigrasi. Mereka mencatat rute migrasi musim dingin Kajtka melalui Afrika dan bersiap-siap untuk kembali musim semi.
Namun, setelah melakukan perjalanan lebih dari 3.700 mil ke Lembah Blue Nile di Sudan timur, mereka kehilangan kontak.
EcoLogic mengatakan kepada Super Express dikutip Metro bahwa seseorang telah merampas pelacak pada burungnya dan meletakkan kartu SIM di telepon mereka sendiri, sebelum melakukan lebih dari 20 jam panggilan.
Apesnya, badan amal ini telah diminta untuk membayar lebih dari 2.064 poundsterling (Rp 39 jutaan), atas penggunaan telepon sesuai dari tagihan tersebut.
Jelas seseorang melakukan beberapa panggilan dan tidak mau membayar untuk itu. Pada dasarnya, pelacak bangau memainkan peran penting dalam penelitian lingkungan dan konservasi burung migran, dan data dari pelacak GPS dapat digunakan untuk membantu para ilmuwan menilai kebiasaan burung, perilaku sosial, dan ancaman.
Bangau putih saat ini tidak berisiko, tetapi industrialisasi dan pengeringan lahan basah mendorong spesies tersebut mendekati kepunahan lima puluh tahun yang lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan