Dalam psikologi sosial fenomena ini disebut dengan bias konfirmasi. Bias ini lebih parah bila partisan tersebut memiliki kapasitas intelektual yang cenderung rendah.
Beberapa studi setelah kemenangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan bahwa individu dengan kemampuan kognitif yang rendah justru akan menganggap diri mereka sangat kompeten, padahal sebenarnya tidak. Sebab mereka terjangkit ilusi bahwa dirinya superior, sehingga menganggap kompetensi mereka di atas rata-rata orang kebanyakan. Fenomena ini dikenal sebagai efek Dunning-Kruger.
Bohong dan tipu daya
Dari penjelasan di atas, penelitian menunjukkan manusia cenderung mudah dikelabui. Terlepas dari mudahnya manusia mempercayai kebohongan, kita perlu menyelidiki juga mengapa manusia berbohong.
Psikolog Sosial dari University of California Santa Barbara Bella DiPaulo dan koleganya menginvestigasi mengapa manusia cenderung berbohong dengan meminta 147 responden mencatat kegiatan mereka sehari-hari dalam sebuah diari selama seminggu. Dalam studi tersebut, responden penelitian melaporkan bahwa rata-rata mereka berbohong 1-2 kali setiap harinya.
Kebohongan yang dilakukan partisipan kebanyakan kebohongan ringan yang tak berbahaya atau intensional. Kebohongan minor biasanya dilakukan untuk menutupi kekurangan mereka atau mencegah agar perasaan orang lain tidak terluka.
Umumnya, kebohongan terjadi karena ada motif mencari keuntungan pribadi dan motif ini erat kaitannya dengan tujuan interaksi sosial. Seseorang berbohong untuk mendapatkan pengaruh atas orang lain, mendapatkan dukungan sosial, bahkan dapat digunakan untuk membantu dan mendukung orang lain.
Beberapa kebohongan lainnya yang dilaporkan cenderung menunjukkan derajat amoralitas, misalnya seperti berbohong bahwa “saya adalah kerabat presiden”, biasanya bertujuan untuk membentuk citra diri yang positif. Tujuan utamanya agar orang lain membentuk kesan positif tentang dirinya, meski dengan cara yang kurang pantas.
Sebutan pathological liar sering digunakan untuk menandai seseorang yang ketahuan berulang kali berbohong tanpa menunjukkan rasa penyesalan. Memang, kebohongan berulang sering dikaitkan dengan gangguan kesehatan mental seperti kecenderungan antisosial, narsistik, dan psikopati. Namun ada banyak kasus pembohong tidak menunjukkan gejala-gejala lainnya, sehingga tidak memenuhi kriteria diagnosis gangguan-gangguan tersebut.
Kebohongan tidak terbatas pada konteks interpersonal, karena dapat juga diproduksi oleh institusi sosial. Filsuf Marxis Italia Antonio Gramsci menyebut hegemoni sebagai narasi yang sengaja dibentuk oleh perangkat negara untuk mencengkeram nalar publik, agar tak digunakan untuk mengganggu kekuasaan.
Konsep ini lahir dari perenungan Gramsci ketika dia dipenjara rezim Benito Mussolini. Mulanya, ia gelisah melihat kelas pekerja di Italia yang pasrah, bahkan merayakan ketertindasan yang mereka alami. Kebohongan yang direproduksi oleh perangkat negara adalah yang paling meyakinkan, sekaligus yang paling berbahaya.
Studi Noam Chomsky dan Edward Herman pada konten pemberitaan media massa utamanya pada masa Perang Dingin, Perang Teluk dan setelah kejadian 9/11 menunjukkan bahwa media massa punya peran penting dalam membentuk persepsi publik–dengan narasi dan sudut pandang yang dibentuk dengan tujuan melindungi kepentingan elit.
Di era digital saat ini, produsen informasi bohong (hoax) tidak selalu menggunakan media massa arus utama sebagai saluran utama untuk mendistribusikan kebohongan, karena media sosial terbukti sebagai alat yang jauh lebih ampuh untuk mengamplifikasi penyebaran kabar bohong.
Betapa serius dan berbahayanya penyebaran kabar bohong. Persoalan ini ternyata bukan sekadar perkara terbatasnya kemampuan manusia mencerna dan memilah informasi, tapi menunjukkan adanya krisis moral yang terjadi dalam masyarakat kita.
Alat mencegah tipu daya: skeptisisme
Berita Terkait
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Ada Proyek Gentengisasi Prabowo, Purbaya Pikir-pikir Pangkas Anggaran MBG
-
Prabowo Sebut Tanaman Ajaib, Sawit Kini Berubah Arti Jadi 'Pohon' di KBBI
-
Sudah Rampung 90 Persen, Prabowo Segera Teken Dokumen Tarif Trump
-
Siswa SD Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Rocky Gerung: Ada yang Salah Kebijakan Pemerintah
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Kasus Saham Gorengan, Bareskrim Tetapkan 3 Tersangka Baru, Salah Satunya Eks Staf BEI!
-
Bareskrim Geledah Kantor Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Saham Gorengan
Terkini
-
6 Alasan iPhone Sangat Worth It untuk Pemakaian Jangka Panjang di 2026
-
17 Kode Redeem MLBB 3 Februari 2026 Terbaru: Ada Skin Eksklusif hingga Diamond Gratis
-
31 Kode Redeem FF 3 Februari 2026 Terbaru: Ada Skin SG2, Emote Langka, dan Bundle Eksklusif Gratis
-
Acerpure Clean V2 Resmi Hadir, Vacuum Cordless Ringan dengan Fitur Canggih Khusus Pemilik Hewan
-
Dua Eksekutif Teknologi Senior Siap Pacu Akselerasi Cloud dan AI di Asia Tenggara
-
Xiaomi Pad 8 Global Muncul di Geekbench: Siap ke Indonesia, Pakai Chip Kencang Snapdragon
-
Siapa Daud Tony? Viral Ramal Kejatuhan Saham dan Kripto, Harga Perak Meroket
-
5 Rekomendasi Smartwatch Terbaik di Bawah Rp1 Jutaan, Spek Canggih!
-
Xiaomi Rilis Monitor Gaming Anyar: Tawarkan Refresh Rate 200 Hz, Harga Kompetitif
-
53 Kode Redeem FF Terbaru 3 Februari 2026, Ada Jujutsu Kaisen Monster Truck Gratis