Suara.com - Kini, setiap orang dapat membuat Bumi 2.0 versi sendiri dengan situs web Earth-like (mirip Bumi). Kehadiran situs ini untuk menunjukkan berapa banyak planet ekstrasurya, yang disebut sebagai "earth-like" atau mirip Bumi karena ukurannya.
"Sangat menggoda untuk berpikir bahwa ada sebuah planet seukuran Bumi seperti Bumi kita yang dapat dihuni. Tetapi mengubah hanya satu properti planet ini dapat mempengaruhi lingkungan secara signifikan," ucap Kana Ishimaru, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Arizona.
Ishimaru memimpin pengembangan situs web Earth-like dan Twitterbot dengan nama yang sama saat ia masih seorang mahasiswa sarjana di Universitas Tokyo. Dalam situs web tersebut, pengguna dapat memanipulasi faktor-faktor, termasuk fraksi tanah dan gunung berapi di dalam planet dan di mana planet itu berada dalam zona layak huni. Pengubahan kecil pada interior planet dapat secara dramatis mempengaruhi lingkungan di permukaan planet.
Dari sekian ribu planet ekstrasurya yang ditemukan Teleaskop Luar Angkasa Kepler dan instrumen lainnya, banyak planet yang ditemukan memiliki massa dan ukuran mirip dengan Bumi sehingga sering dikategorikan sebagai "earth-like".
Namun, ada berbagai faktor penting yang sebenarnya membedakan Bumi dari planet-planet tersebut. Penasihat Ishimaru, Elizabeth Tasker, khawatir hanya karena memiliki massa dan ukuran yang sama seperti Bumi, planet ekstrasurya itu terlalu sering dipandang sebagai kembaran Bumi yang sesungguhnya.
Kekhawatiran tersebut yang mendasari pembuatan situs web Earth-like, di mana siapa pun dapat menyelidiki bagaimana perubahan kecil dalam kondisi planet dapat mengubah kelayakhuniannya.
Sebagai contoh, di Bumi sebagian besar karbon disimpan di bebatuan dan sedimen, laut, dan atmosfer. Hujan dapat memulai siklus karbon, karena karvon atmosfer bergabung dengan air yang jatuh ke permukaan.
Asam yang dihasilkan dapat melarutkan batuan melalui pelapukan kimia untuk melepaskan berbagai ion. Ion-ion tersebit dibawa ke laut, di mana kalsium dan ion karbon bergabung membentuk kalsium karbonat.
Di laut, organisme juga dapat menghasilkan kalsium karbonat yang dapat disatukan dan berubah menjadi batuan setelah organisme itu mati. Sementara, lempeng tektonik dapat mengubuh satu lapisan batu yang kaya karbon di bawah lapisan lain dan membuatnya meleleh di bawah tekanan yang ekstrem dan melepaskan karbon dioksida. Kemudian, gunung berapi yang meletus membawa gas karbon ke permukaan dan kembali ke atmosfer, tempat siklus tersebut dimulai kembali.
Baca Juga: Anaknya Diberi Tugas Susah, Curhatan Emak-emak Ini Malah Bikin Ngakak
Situs web Earth-like ini memungkinkan pengguna bermain-main dengan daratan dan vulkanisme planet. Selain itu, pengguna juga dapat menggerakkan planet mendekat atau menjauh dari bintangnya untuk melihat opsi lain dari kustomisasi planet.
Selain situs web, proyek ini juga memiliki Twitterbot @EarthLikeWorld, di mana pengguna dapat berinteraksi dengan bot yang mencuitkan daratan-fraksi planet, vulkanisme, dan lokasi zona layak huni serta mengembalikan citra planet yang tampak realistis.
Menurut Tasker, bagian tersulit dari pembuatan situs tersebut adalah menjaga kode cukup ringan untuk dijalankan di situs, mengingat opsi untuk membuat gambar atau citra planet bisa membuat situs berjalan dengan lambat. Berkat bantuan Nicholas Guttenberg, ia menciptakan jaringan saraf yang menciptakan lanskap tampak realistis berdasarkan gambar dari Google-Earth.
Dilansir laman Space.com, Senin (6/4/2020), untuk menyiasati agar situs web tidak macet, perhitungan awal dijalankan secara terpisah dari gambar. Input hanya membutuhkan beberapa detik sementara gambar bisa memakan waktu 10 detik atau lebih lama.
Untuk membuat planet ciptaan sendiri, pengguna dapat mengakses situs web https://www.earthlike.world
Berita Terkait
-
Kabar Baik, Ilmuwan Sebut Lapisan Ozon Mulai Pulih
-
Pemburu Alien Klaim Temukan Fosil Penghuni Planet Mars
-
Besok, Ada Asteroid Besar Mendekati Bumi Berkecepatan 85 Ribuan KM/Jam
-
Penampakan Bumi Istirahat Gegara Wabah Virus Corona, Bikin Sedih
-
Astronom Temukan Lebih dari 300 Planet Minor Baru di Luar Neptunus
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
- Syifa Hadju Anak Siapa? Ayah Kandung Dikabarkan Siap Jadi Wali Nikah
Pilihan
-
Rekam Jejak Jenderal Dudung Abdurachman: Dari Pencopot Baliho Kini Jadi Tangan Kanan Presiden
-
Reshuffle Kabinet: Qodari Geser dari KSP ke Bakom, Dudung Ambil Alih Peran Strategis di Istana
-
Profil Mohammad Jumhur Hidayat, Aktivis Buruh yang Kini Jadi Menteri Lingkungan Hidup
-
Prabowo Kocok Ulang Kabinet: Jumhur Hidayat Dilantik Jadi Menteri LH hingga Dudung Jabat Kepala KSP
-
Jumhur Hidayat Tiba di Istana Dikabarkan Jadi Menteri LH: Banyak Tugas, Harus Kerja Keras
Terkini
-
35 Kode Redeem FF Terbaru 27 April 2026: Ada SG2 Rapper Underworld, Senjata Legendaris
-
5 Rekomendasi Tripod HP Murah tapi Bagus dan Kokoh, Anti Goyang saat Ngonten
-
Game Sepak Bola Mobile Total Football VNG Mulai Masuk ke Ranah Esports Regional
-
Performa Kamera Ungguli iPhone 16 Pro Max, Ini 3 Fitur Menarik Motorola Signature
-
Spesifikasi Oppo Pad 5 Pro: Andalkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 dengan Layar 144 Hz
-
7 Rekomendasi AC Inverter 1/2 PK Terbaik, Hemat Listrik dan Dingin Maksimal
-
6 Rekomendasi Tablet Murah Terbaru April 2026: Layar Luas, Cocok Buat Streaming Film
-
Serial TV Far Cry Panen Kritik Pedas, Ternyata Ini Biang Keroknya
-
Panduan Lengkap Cara Melacak Lokasi HP yang Hilang Lewat Gmail, Tak Perlu Panik
-
78 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 April 2026: Ada Gloo Wall Gintama dan Diamond Gratis