Suara.com - Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr Pandu Riono MPH, Ph.D upaya menghambat penyebaran Covid-19 di Indonesia akan mencapai titik krusial pada hari Lebaran mendatang, ketika publik semakin sukar untuk dikendalikan agar tidak bepergian.
Hal itu dikatakan Pandu saat memaparkan data pergerakan publik di Indonesia selama masa wabah Covid-19 menggunakan data Google Mobility Index, Rabu (20/5/2020).
Pandu mengatakan, berdasarkan pantauan Google, warga Indonesia mulai mengabaikan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjelang hari raya Lebaran, meski awalnya aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih dipatuhi.
Dia menyebut pergerakan penduduk masih terlihat banyak pada Februari dan mulai berkurang sedikit pada Maret 2020. Pergerakan penduduk kemudian jauh berkurang pada April 2020 di Pulau Jawa dan mulai kembali bertambah pada periode 1-10 Mei 2020.
"Di bulan puasa penduduk tidak lagi patuh, keluar mencari takjil, belanja di bulan Ramadhan, kembali terjadi kenaikan. Tapi ini titik krusialnya," katanya.
Pandu kemudian memperingatkan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri menjadi titik yang harus ditingkatkan kewaspadaannya karena pergerakan penduduk tidak bisa dikendalikan saat orang-orang berlebaran.
Dia bersama tim epidemiolog FKM UI memanfaatkan data Google Mobility Index untuk mengorelasikan jumlah orang positif Covid-19 dengan pergerakan masyarakat yang dipantau dari fitur lokasi pada ponsel.
Pandu menjelaskan pihaknya menggunakan data dari Google karena tidak ada indikator yang jelas untuk memantau keberhasilan PSBB di lapangan.
Menurut dia, dengan membandingkan data pergerakan penduduk menggunakan Google Mobility Index dengan laporan kasus harian yang disampaikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menunjukkan penurunan kasus di DKI Jakarta.
Pandu menyebut sebanyak 60 persen warga DKI mengikuti anjuran diam di rumah dan hal tersebut berkorelasi dengan penurunan jumlah kasus di Ibu Kota.
Baca Juga: Jokowi Resmikan Peluncuran Produk Hasil Riset Penanganan Covid-19
Akan tetapi, jika melihat data secara nasional di seluruh Indonesia tidak mengalami penurunan dikarenakan hanya 50 persen penduduk yang membatasi pergerakannya.
Dia menyimpulkan bahwa dampak penurunan kasus bisa terjadi apabila penduduk yang mematuhi aturan PSBB dengan diam di rumah lebih dari 60 persen. [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Apes! Gara-gara GPS, Dua Maling Motor di Bandar Lampung Tertangkap Hanya dalam 2 Jam
-
114 Rumah di Gambir Hangus Terbakar, Seluruh Warga Selamat
-
Persib Bandung Lolos ACL Two, Igor Tolic Langsung Pasang Alarm: Jangan Terlena
-
Sekadar Ikuti Tren, Amagra Bangun Warna Musik Sendiri Lewat Butterflies
-
Super League Diklaim Paling Kompetitif di Asia Tenggara, Data AFC Jadi Buktinya
-
Sekadar Ikuti Tren, Amagra Bangun Warna Musik Sendiri Lewat Butterflies
-
Tukang Becak Disebut Kaya Raya, Mengapa Kemiskinan Semu di Mata Prabowo?
-
4 Pilihan Mobil Manual yang Cocok untuk Pemula
-
Solusi Mudah Menghitung Luas Segitiga Sembarang Tanpa Perlu Tahu Tingginya
-
9 Pilihan HP Infinix RAM 8GB Kelas Entry Level Harga Rp1-3 Jutaan