Infografis di bawah ini menunjukkan bahwa di seluruh dunia, sepanjang periode 1960-2019, suhu udara rata-rata secara umum meningkat sekitar satu derajat celsius.
Meski demikian, jika Anda mendekati Kutub Utara, dengan lintang 90°, merahnya semakin kelam. Ini menunjukkan bagaimana suhu di daerah itu meningkat lebih tinggi dari kawasan lain - sekitar empat derajat celsius.
Mengapa kita harus khawatir dengan pemanasan di Arktika?
Pemanasan cuaca di Arktika berujung pada pencairan permafrost yang tadinya beku di bawah tanah.
Ini membuat para ilmuwan risau karena ketika permafrost mencair, karbondioksida dan metana yang sebelumnya terkunci di bawah tanah akan lepas ke udara.
Pelepasan gas rumah kaca ini bisa mendorong pemanasan yang lebih besar dan permafrost semakin meleleh—atau lebih dikenal sebagai lingkaran setan.
Suhu yang lebih tinggi juga bisa menyebabkan daratan beku di Arktika meleleh lebih cepat, sehingga permukaan air laut meninggi.
Satelit mata-mata ungkap miliaran ton es meleleh di pegunungan Himalaya Gunung es ratusan miliar ton melepaskan diri dari Antarktika Apakah pandemi Covid-19 turut berkontribusi dalam perusakan hutan tropis? Mengapa kebakaran Kutub Utara begitu parah?
Hilangnya es putih di daratan Arktika, menurut BBC Weather, juga membuat tanah dan laut menyerap panas. Hal ini menyebabkan lebih banyak pemanasan.
Baca Juga: Sekali Bayar Pajak Mobil Ini, Sule Keluarkan Duit Setara Yamaha NMAX
Dampak kebakaran hutan juga menjadi perhitungan. Musim panas lalu, kebakaran hutan merajalela di sejumlah bagian Arktika. Meski peristiwa tersebut jamak terjadi pada musim panas, suhu yang tinggi dan angin kencang membuat kebakaran hutan saat itu begitu parah.
Kebakaran hutan biasanya dimulai pada awal Mei, memuncak pada Juli dan Agustus.
Akan tetapi, pada akhir April tahun ini, kebakaran hutan di Krasnoyarsk, Siberia, 10 kali lebih besar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menurut menteri Rusia di bidang kedaruratan.
Apakah tahun ini akan menjadi tahun terpanas?
2020 belum berakhir dan siap menjadi calon tahun terpanas.
Jarang sekali sebagian besar Eropa utara dan Asia mengalami musim semi yang hangat dan awal musim panas dengan suhu 10 derajat celsius lebih tinggi ketimbang biasanya di beberapa area.
Sejauh ini 2016 adalah tahun terpanas, namun jaraknya "sangat dekat" dengan 2020.
Tentu saja, ini bukan kejutan.
"Kita membuat kacau keseimbangan energi planet ini," kata Prof Chris Rapley dari University College London (UCL).
Tahun demi tahun, khalayak Bumi memecahkan rekor suhu tertinggi, kata ilmuwan bidang iklim itu.
"Ini adalah pesan peringatan dari Bumi. Abaikan, dan kita akan menanggung bahayanya."
Berita Terkait
-
Bahlil Beberkan Tahap Kedua Impor Minyak Rusia Berjalan, RI Siapkan Kontrak Jangka Panjang
-
Suplai Rudal Patriot Kritis, Pertahanan Udara Ukraina Bobol Hingga Makan Korban Jiwa
-
Rusia - Ukraina Saling Tembak Drone dan Rudal, 14 Orang Tewas
-
Pendiri Telegram Pavel Durov Masuk Daftar Buronan Terorisme Rusia
-
Anomali Harga Minyak, Mengapa Tidak Melonjak Meski Timur Tengah Memanas?
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung