Di Ekuador, di mana pada satu tahap jenazah dibuang di jalan-jalan karena pihak berwenang tidak bisa mengatasinya, sebuah laboratorium utama kehabisan bahan kimia yang diperlukan untuk menguji virus corona.
Dan di mana ekonomi sudah lemah, memaksakan lockdown untuk mengekang virus berpotensi membawa risiko yang jauh lebih besar daripada di negara maju.
Dr Nabarro mengatakan masih ada peluang untuk memperlambat penyebaran infeksi tetapi hanya dengan dukungan internasional yang kuat. "Saya tidak suka memberikan pesan yang menyedihkan," katanya, "tetapi saya khawatir tentang persediaan dan keuangan sampai bagi mereka yang membutuhkannya."
Sudut pandang politik
Namun hal tersebut bukan satu-satunya hal yang mendorong peningkatan kasus virus corona. Banyak politisi telah memilih alasan mereka sendiri untuk tidak mengikuti saran dari ahli kesehatan.
Presiden Tanzania mengambil langkah berani dengan menyatakan bahwa negaranya sebagian besar telah mengalahkan virus tersebut. Sejak awal Mei ia telah memblokir rilis data yang tepat tentang itu, meskipun tanda-tanda bahwa ancaman Covid-19 masih sangat besar.
Di AS, Presiden Trump telah mengecilkan Covid-19 atau menyalahkan China dan WHO untuk itu, serta mendesak pembukaan kembali cepat ekonomi Amerika.
Dia memuji gubernur Partai Republik Texas, Greg Abbott, karena termasuk orang pertama yang memutuskan negaranya keluar dari lockdown, suatu langkah yang sekarang berbalik ketika kasus-kasus meningkat.
Bahkan pemakaian masker di tempat publik, yang telah menjadi rekomendasi resmi pemerintah AS sejak awal April, menjadi simbol perpecahan politik.
Baca Juga: Israel Dihantam Gelombang Kedua Virus Corona Covid-19
Abbott telah menolak untuk mengizinkan walikota Texas untuk mendesak mereka sehingga, seperti yang ia katakan, "kebebasan individu tidak dilanggar". Sebaliknya gubernur California, yang berasal dari partai Demokrat, mengatakan "sains menunjukkan bahwa masker berperan". Sementara itu, Trump menolak untuk mengenakannya.
Presiden Brasil Jair Bolsonaro, telah terjebak dalam argumen yang sama. Setelah menganggap Covid-19 sebagai "flu ringan", dia berulang kali mencoba untuk menghentikan pejabat melakukan apa pun yang dapat mengganggu perekonomian. Dan setelah secara teratur tampil di depan umum tanpa masker, dia sekarang diperintahkan oleh pengadilan untuk mengenakannya.
Sikap seperti inilah yang mendorong kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, untuk memperingatkan bahwa ancaman terbesar bukanlah virus itu sendiri melainkan "kurangnya solidaritas global dan kepemimpinan global".
Di manakah kasus Covid-19 terkendali?
Sebagai pulau terpencil di Pasifik, Selandia Baru dapat mengisolasi diri dengan mudah, dan pemerintahan Jacinda Ardern telah dipuji secara luas atas tanggapan agresif yang baru-baru ini mengarah ke periode 24 hari tanpa ada kasus baru.
Situasi itu berakhir ketika warga mulai kembali dari luar negeri, beberapa dari mereka terinfeksi, dan tindakan lebih lanjut diperlukan untuk memantau orang-orang pada saat kedatangan. Tetapi alih-alih hal ini menjadi pukulan terhadap harapan Selandia Baru untuk bebas Covid-19, banyak ahli melihatnya sebagai bukti sistem pengawasan yang pada umumnya bekerja secara efektif.
Demikian pula, Korea Selatan dipuji karena menggunakan teknologi dan pelacakan kontak untuk menurunkan infeksi ke jumlah yang sangat rendah dan mengalami tiga hari berturut-turut tanpa kasus baru.
Pejabatnya sekarang mengatakan mereka melihat gelombang kedua, dengan klaster-klaster yang berpusat di klab malam di ibukota Seoul, meskipun jumlahnya relatif kecil.
Walikota Seoul telah memperingatkan bahwa jika kasus di atas 30 selama tiga hari, langkah-langkah penjarakan sosial akan diberlakukan kembali. Sebaliknya, Inggris memiliki sekitar 1.000 kasus baru per hari, juga Indonesia memiliki rata-rata lebih dari 1.000 kasus per hari.
Yang paling membanggakan adalah Vietnam, yang mengklaim tidak memiliki kematian sama sekali dari Covid-19. Penguncian cepat dan kontrol perbatasan ketat digabungkan untuk menjaga agar jumlah infeksi tetap rendah.
Apa berikutnya? Yang tidak diketahui adalah apa yang terjadi di sebagian besar negara-negara Afrika, yang dalam banyak kasus belum melihat skala penyakit dibandingkan yang dikhawatirkan.
Sebuah pandangan menyatakan kurangnya infrastruktur untuk pengujian massal mengaburkan penyebaran virus yang sebenarnya. Yang lain adalah bahwa dengan populasi yang relatif muda, jumlah yang tertular cenderung lebih rendah.
Perspektif ketiga adalah bahwa komunitas dengan koneksi yang lebih sedikit ke dunia luar akan menjadi yang terakhir disentuh oleh pandemi.
Di negara-negara yang paling berhasil mengendalikan virus, tantangannya tetap waspada ketika mencoba kemungkinan sejumlah normalitas berjalan kembali.
Tetapi kenyataan bagi banyak kawasan lain adalah ramalan suram Dr Nabarro tentang "peningkatan terus jumlah orang dengan Covid-19 dan penderitaan yang terkait".
Itulah sebabnya ia dan banyak negara lain berharap bahwa negara-negara berkembang akan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, sebelum krisis semakin parah.
Tag
Berita Terkait
-
BPOM Temukan 11 Kosmetik Lokal Berbahaya, Cek Daftar Lengkapnya
-
Timnas Voli Putri Indonesia Hadapi Korea Selatan, Ujian Jelang SEA V League 2026
-
Ulasan The 100-Year-Old Man: Petualangan Seorang Kakek yang Absurd dan Penuh Makna
-
Gagal di Piala Dunia 2026, Hong Myung-bo Tinggalkan Korsel: Keluarga Saya Mau Dibunuh
-
Nanoplastik ditemukan di Antartika: Bagaimana bisa Sampai ke Sana?
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda
-
Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya
-
Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak
-
Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah
-
Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle
-
Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur