Suara.com - Para fisikawan menemukan partikel langka langka, yang diproduksi oleh sejenis fusi aneh di dalam Matahari untuk pertama kalinya.
Partikel-partikel yang disebut neutrino yang diproduksi CNO melakukan perjalanan dari Matahari ke detektor yang terkubur dalam di bawah gunung di Italia. Penemuan ini memberikan pemahaman bagi para ilmuwan untuk memahami reaksi nuklir yang memicu Matahari.
"Dengan hasil ini, Borexino (eksperimen fisika partikel untuk mempelajari neutrino surya energi rendah) benar-benar telah membongkar dua proses yang mendorong kekuatan Matahari," kata Gioacchino Ranucci, fisikawan di Institut Nasional Italia untuk Fisika Nuklir di Milan, seperti dikutip dari Space.com, Selasa (28/7/2020).
Dua jenis reaksi fusi nuklir terjadi di inti Matahari. Pertama dan yang paling umum adalah fusi proton-proton, di mana proton berfusi untuk mengubah hidrogen menjadi helium. Para ilmuwan memprediksi reaksi seperti itu menghasilkan 99 persen energi Matahari.
Reaksi yang paling jarang, fusi nuklir yang terjadi melalui proses enam langkah yang disebut siklus CNO, di mana hidrogen menyatu menjadi helium menggunakan karbon (C), nitrogen (N), dan oksigen (O). Fusi proton dan siklus CNO menciptakan berbagai jenis neutrino, partikel subatom yang hampir tak bermassa dan dapat melewati materi biasa.
Fisikawan secara rutin mendeteksi neutrino yang diciptakan selama proses proton-proton. Namun pada 23 Juni, pada Pertemuan Virtual Neutrino 2020, para ilmuwan dari detektor Borexino Italia mengumumkan bahwa mereka telah mendeteksi neutrino surya yang diproduksi CNO untuk pertama kalinya.
Eksperimen Borexino bawah tanah di Laboratori Nazionali del Gran Sasso, dekat Kota L'Aquila, Italia, dirancang untuk mempelajari interaksi neutrino yang sangat langka tersebut.
Detektor Borexino terdiri dari tangki setinggi sekitar 18 meter yang berisi 280 ton cairan berkilau, yang memancarkan cahaya ketika elektron dalam cairan berinteraksi dengan neutrino. Kilatan terang, yang menunjukkan energi lebih tinggi, lebih cenderung berasal dari neutrino yang diproduksi CNO.
Terkubur jauh di bawah tanah dan berselubung dalam tangki air, tangki internal Borexino dilapisi dengan detektor sensitif yang sangat terisolasi dari radiasi latar belakang dari sinar kosmik yang ada di permukaan Bumi. Tanpa pelindung ini, sinyal lain akan menenggelamkan sinyal langka yang datang dari CNO neutrino.
Baca Juga: Ilmuwan Temukan Cara Mendaur Ulang Plastik Keras
Membandingkan pengamatan neurtino CNO dengan jumlah neutrino proton-proton yang diamati, akan membantu mengungkapkan seberapa banyak Matahari terdiri dari unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen seperti karbon, nitrogen, dan oksigen.
Hasil saat ini menunjukkan signifikasi lebih besar dari 5 sigma dengan tingkat kepercayaan lebih besar dari 99 persen, yang berarti hanya ada peluang 1 banding 3,5 juta bahwa sinyal diproduksi oleh fluktuasi secara acak, daripada proses CNO.
Kolaborasi internasional Borexino terdiri dari para ilmuwan dari Italia, Perancis, Jerman, Polandia, Rusia, dan tiga universitas dari Amerika Serikat, Princeton, Virginia Tech, dan University of Massachusetts di Amherst.
Berita Terkait
-
Hasil Penelitian: Hiu di Dekat Terumbu Karang Mulai Berkurang
-
Ilmuwan: Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Tak Siap Hadapi Kuman Luar Angkasa
-
Pertama Kalinya, Ilmuwan Temukan Kebocoran Gas Metana di Antartika
-
Tidak Sakit, Tes Covid-19 Ini Klaim Berikan Hasil Akurat Hanya 45 Menit
-
Ilmuwan Kembangkan Kamera Super Kecil, Bisa Diletakkan di Atas Kumbang
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- 5 Sepeda Lipat yang Ringan Digowes dan Ngebut di Tanjakan
Pilihan
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Terkini
-
5 Rekomendasi Smartwatch Mirip Apple Watch: Desain Premium, Harga Merakyat
-
Waspada Kesenjangan Digital! BINUS Tegaskan Teknologi Harus Jadi Milik Rakyat, Bukan Elit Saja
-
Cara Buat Jalan dan Atur Lalu Lintas TheoTown agar Tidak Macet, Pemula Harus Tahu!
-
35 Kode Redeem FF 7 Februari 2026: Bocoran Lengkap P Joker Revenge, Transformasi Peta Bermuda Gurun
-
22 Kode Redeem FC Mobile 7 Februari 2026, Prediksi Hadirnya CR7 dan Messi OVR Tinggi
-
Apakah Smart TV Bisa Tanpa WiFi? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Layar Jernih 32 Inch
-
7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
-
TV OLED dengan Dukungan NVIDIA G-SYNC, Hadirkan Pengalaman Main Game Tanpa Lag
-
Kolaborasi Honkai Star Rail dan Fortnite, Hadirkan Skin Spesial dan Berbagai Keseruan
-
5 Smart TV 24 Inci 4K Murah, Visual Jernih untuk Nonton Maupun Monitor PC