Suara.com - Pengguna Google Search di Australia terancam bakal tidak bisa menggunakan layanan lagi. Langkah ini dilakukan Alphabet Inc, sebagai perusahaan induk Google, jika pemerintah setempat tetap mewajibkan mereka membayar hak cipta kepada perusahaan media yang menggunakan konten mereka.
Direktur pelaksana lokal raksasa penelusuran Melanie Silva, mengatakan dalam sidang komite Senat pada Jumat (22/1/2021) bahwa Google akan menutup layanan Search di Australia jika kode perundingan media yang diusulkan pemerintah menjadi undang-undang.
Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan, Australia tidak akan menanggapi ancaman tersebut karena perusahaan media berita membalas tuduhan bahwa konten mereka tidak menambah nilai pada platform.
“Australia membuat aturan kami untuk hal-hal yang dapat Anda lakukan di Australia. Itu dilakukan di Parlemen kita. Itu dilakukan oleh pemerintah kami, dan begitulah cara kerjanya di sini di Australia. Kami tidak menanggapi ancaman," katanya dilansir laman The Sydney Morning Herald, Minggu (24/1/2021).
Aturan tersebut bertujuan memaksa platform digital membayar perusahaan media untuk konten berita dan mengikuti tinjauan 12 bulan ke Google, dan Facebook oleh pengawas Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC).
Undang-undang tersebut, yang diperkenalkan ke Dewan Perwakilan Rakyat pada Desember lalu, muncul di tengah desakan oleh pemerintah global untuk mengendalikan kekuatan monopoli digital.
Ancaman Google mengikuti pernyataan serupa yang dibuat oleh direktur pelaksana Facebook Australia Will Easton pada September lalu, yang mengumumkan rencana untuk menghapus artikel berita dari aplikasi utama media sosial jika aturan media disahkan oleh Parlemen.
Manajer dana Montaka Global Andrew Macken, yang perusahaannya memiliki saham di Google dan Facebook, mengatakan dia yakin itu bukanlah ancaman kosong.
"Saya curiga itu [sah]. Google mungkin lebih suka kehilangan Australia (pasar global yang relatif kecil) untuk menghindari preseden bagi pasarnya yang lebih besar," kata Macken.
Baca Juga: Google Desain Ulang Hasil Pencarian di Ponsel, Jadi Lebih Bersih
Komentar Google menandai pertama kalinya raksasa digital itu secara terbuka mengancam akan menonaktifkan fungsi penelusuran utamanya untuk semua warga Australia sebagai tanggapannya terhadap undang-undang yang diusulkan.
ACCC menyarankan pada Agustus lalu bahwa hal ini seharusnya tidak memengaruhi bisnis Google Search.
“Google tidak akan diminta untuk menarik biaya kepada warga Australia untuk penggunaan layanan gratisnya seperti Google Search dan YouTube, kecuali jika ia memilih untuk melakukannya," tulis pengumuman tersebut dilansir laman The Verge.
Tentu saja, Google tidak setuju. Seperti yang dijelaskan Google dalam pernyataan lengkap Wakil Presiden Google Australia dan Selandia Baru Mel Silva, dan entri blog yang menyertainya, Google lebih memilih membayar penerbit khusus untuk produk Google News-nya.
Program ini sudah diumumkan di Australia, Jerman, dan Brasil pada bulan Juni lalu. Namun, Australia tampaknya tidak menganggapinya.
ACCC percaya bahwa undang-undang yang diusulkan membahas ketidakseimbangan kekuatan tawar yang signifikan antara bisnis media berita Australia dan Google dan Facebook.
Berita Terkait
-
Epidemiog Ungkap Kunci Kendalikan Pandemi Covid-19 di Indonesia, Apa Itu?
-
Penanganan Tidak Terkendali, Pandemi Covid-19 di Indonesia Bisa Makin Lama
-
Epdemiolog Ungkap Faktor yang Bikin Pandemi Covid-19 Makin Lama, Apa Itu?
-
Cara Menghapus Tanda di Google Maps
-
Waduh! April Nanti, Pengguna Android Tak Bisa Lagi Gunakan Message
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Anime Digimon Baru Resmi Diumumkan Jelang Anniversary ke-30, Tayang 2027
-
Dugaan Prajurit TNI Aniaya Brimob Hingga Tewas di Slipi, Mabes TNI: Pasti Diproses!
-
5 Rekomendasi Sepatu Lari 910 Nineten Terbaik untuk Daily Run, Nyaman Dipakai Sesuai Review
-
Lewat Roadshow, OBAGI Medical Bawa Edukasi Medical-Grade Skincare di Foreverskin Clinic
-
Persija Tantang Persib di Semifinal Piala Presiden 2026, STY Utamakan Proses Ketimbang Gelar
-
Sunscreen Apa yang Bisa Memutihkan Wajah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik sesuai Review dan Harga
-
Gojek Salurkan 35.000 Paket Perlengkapan Sekolah untuk Anak Mitra Driver di 100 Kota
-
Prediksi Skor, Susunan Pemain Persib Bandung vs Persija Jakarta, El Clasico di Piala Presiden
-
Polisi Sita 18 Motor Curian, Komplotan Curanmor Bersenjata Api Rakitan Dibekuk di Sumedang
-
Semakin Diterima Luas, Truk Listrik Fuso eCanter Diserahkan ke Konsumen di GIIAS 2026