Suara.com - Sebuah komet besar, mungkin yang terbesar yang pernah terdeteksi, meluncur menuju tata surya.
Menurut penelitian baru diterbitkan di server pracetak arXiv.org, diperkirakan waktu kedatangan 10 tahun dari sekarang.
Komet tersebut, yang dikenal sebagai komet Bernardinelli-Bernstein atau C/2014 UN271, memiliki diameter setidaknya 62 mil (100 kilometer), sekitar 1.000 kali lebih besar daripada komet biasa.
Ukuran ini sangat besar sehingga para astronom sebelumnya mengira itu sebagai planet kerdil, diumumkan penemuan komet pada Juni 2021.
Tetapi analisis yang lebih dekat terhadap objek tersebut mengungkapkan bahwa objek tersebut bergerak cepat melalui awan Oort, tempat pembuangan batu es yang luas, miliaran mil dari Bumi.
Objek itu tampaknya menuju ke arah kita dan bahkan memiliki ekor bercahaya atau "koma", di belakangnya.
Dianggap indikasi dari komet es yang mendekati tata surya bagian dalam yang relatif hangat.
Sekarang, para peneliti telah mempelajari komet besar secara lebih rinci dan mereka memiliki perkiraan baru tentang perjalanannya menuju matahari.
Sebagai permulaan, batu besar tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.
Baca Juga: Sumber Hujan Meteor Geminid, Asteroid Phaethon, Perilakunya seperti Komet
Saat ini, Bernardinelli-Bernstein (BB) sedang melintasi awan Oort dengan jarak sekitar 29 kali jarak antara Bumi dan matahari, atau 29 unit astronomi (AU).
Pendekatan terdekat komet ke Bumi akan terjadi sekitar 2031, ketika para ilmuwan memperkirakan komet akan menukik dalam jarak 10,97 AU dari matahari.
Kondisi ini menempatkannya tepat di luar orbit Saturnus, menurut para peneliti sebagaimana melansir laman Space, Senin (4/10/2021).
Meskipun jaraknya cukup jauh dari Bumi sehingga manusia tidak akan dapat melihat komet tanpa teleskop, itu jauh lebih dekat daripada kunjungan terakhir batu itu ke bagian tata surya kita.
Setelah memodelkan lintasan komet, penulis studi menghitung bahwa komet BB melakukan pendekatan terakhirnya 3,5 juta tahun yang lalu, datang dalam jarak 18 AU dari matahari.
Sejak itu, komet melakukan perjalanan sejauh 40.000 AU, jauh ke dalam awan Oort yang misterius, menurut para peneliti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif