Suara.com - Upaya global menuju penggunaan energi bersih sebenarnya menunjukkan perkembangan menggembirakan.
Harga tenaga surya dan angin kini lebih murah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama dalam skala besar.
Namun dibalik kabar baik tersebut, pertumbuhan energi terbarukan masih terhambat oleh berbagai faktor, mulai dari politik, pembiayaan, hingga perbedaan strategi negara-negara besar.
Dalam laporan The Conversation (17/11/2025), para ahli energi menyebutkan bahwa transisi energi memang bergerak, tetapi tidak cukup cepat untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Padahal, manfaatnya bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat.
Sejak satu dekade lalu, pembangkit berbahan bakar batubara atau gas adalah pilihan paling murah untuk memenuhi kebutuhan listrik.
Kini, kondisi itu terbalik. Tenaga surya dan angin menjadi opsi paling ekonomis karena tidak membutuhkan bahan bakar.
Sepanjang 2024, penggunaan energi terbarukan berhasil menghemat sekitar US$467 miliar dari biaya bahan bakar global.
Data dari International Renewable Energy Agency menunjukkan bahwa pada 2024, lebih dari 90% kapasitas listrik yang baru dibangun di dunia berasal dari energi bersih.
Baca Juga: Pramono Anung Resmikan Pemanfaatan Biogas Septik Komunal di Jakarta Timur
Total kapasitas energi terbarukan global kini mencapai 46% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik yang terpasang. Tahun itu juga menandai rekor penambahan 585 gigawatt energi terbarukan.
Meski harganya semakin terjangkau, adopsi energi terbarukan tetap menghadapi hambatan. Di Amerika Serikat misalnya, proyek energi besar membutuhkan waktu rata-rata 4,5 tahun hanya untuk mengantongi izin.
Proyek pembangunan jaringan transmisi bahkan bisa memakan waktu lebih dari satu dekade. Usulan reformasi perizinan melalui Energy Permitting Reform Act tahun 2024 akhirnya gagal disahkan, salah satunya karena perdebatan politik.
Di negara-negara berkembang, tantangannya berbeda. Permintaan energi meningkat tajam seiring bertumbuhnya ekonomi.
Namun proyek energi terbarukan cenderung lebih mahal untuk dibiayai dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
Para pemberi pinjaman menilai proyek energi konvensional lebih aman karena sudah didukung mekanisme jaminan, kontrak pasokan, dan struktur finansial yang matang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Sita Si Buruh Belia: Upah Minim dan Harapan yang Dijahit Perlahan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
Terkini
-
Grok Buat Wanita Berbikini: Komdigi Soroti Pelanggaran Privasi, Tuai Polemik Internasional
-
Harga POCO M8 5G Lebih Mahal: Pakai Layar Curved AMOLED, Dukung Fitur Tangguh
-
Dimensity 8500 Bakal Setara Snapdragon Berapa? Jadi SoC POCO X8 Pro
-
5 HP 'Kembaran' iPhone 17 Versi Lebih Murah, Kamera Jernih Spek Flagship
-
Langkah Mudah Mengubah Margin di Microsoft Word: Jadikan Dokumen Lebih Rapi
-
55 Kode Redeem FF 8 Januari 2026: Cara Klaim Bundle Yuji Itadori Gratis
-
36 Kode Redeem FC Mobile 8 Januari 2026: Saatnya Panen Pemain MU dan Hadiah Update Kamis
-
Game GTA 6 Belum Sepenuhnya Selesai, Siap Hadirkan Peta Lebih Besar
-
67 Kode Redeem FF Terbaru 8 Januari 2026: Ada Gloo Wall HRK dan Bundle Mr Fiery
-
5 HP Murah RAM 8GB Terbaik untuk Live TikTok Lancar Tanpa Lag