Suara.com - Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa otak manusia ternyata tidak berkembang secara bertahap dan linear seperti yang selama ini diasumsikan. Para ilmuwan menemukan bahwa otak melewati lima fase besar perkembangan, yang masing-masing dipisahkan oleh “titik balik” penting.
Mengutip IFL Science (27/11/2025), temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dan melibatkan hampir 4.000 pemindaian otak dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir hingga orang berusia 90 tahun.
Tim peneliti mengidentifikasi empat titik perubahan signifikan dalam perjalanan perkembangan otak, yaitu pada usia 9, 32, 66, dan 83 tahun. Perubahan inilah yang membagi kehidupan manusia ke dalam lima periode perkembangan otak.
Menurut peneliti utama, Dr. Alexa Mousley dari University of Cambridge, studi ini menjadi yang pertama menunjukkan gambaran besar bagaimana struktur otak berubah sepanjang hidup manusia. Ia menyoroti bahwa pemahaman tersebut penting untuk menjelaskan kapan dan bagaimana jaringan otak rentan terhadap gangguan.
Tahap pertama, sejak lahir hingga sekitar usia 9 tahun, merupakan fase kritis ketika otak membangun jutaan koneksi antara neuron. Pada periode ini, otak bekerja sangat aktif membentuk sinapsis baru, lalu melakukan proses “pemangkasan” untuk mempertahankan koneksi yang paling penting.
Volume materi abu-abu dan materi putih bertambah, sementara lipatan pada korteks mulai terbentuk dan menstabil. Fase ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak.
Memasuki usia 9 tahun, otak beralih ke masa yang disebut sebagai awal remaja. Pada tahap ini, materi putih terus berkembang dan komunikasi antarbagian otak menjadi lebih efisien. Kemampuan kognitif meningkat pesat, tetapi risiko gangguan kesehatan mental juga ikut naik.
Para peneliti menjelaskan bahwa perubahan hormon selama pubertas turut memberikan dampak besar pada struktur dan fungsi otak pada periode ini.
Titik balik berikutnya terjadi pada usia sekitar 32 tahun, yang disebut sebagai perubahan topologis paling kuat dalam studi tersebut. Mousley menjelaskan bahwa meski pubertas dapat menjadi tanda awal remaja, menentukan akhir masa remaja jauh lebih sulit. Berdasarkan struktur otak, perubahan yang menyerupai pola remaja ternyata berlanjut hingga awal usia 30-an. Setelah itu, barulah seseorang memasuki periode perkembangan otak yang stabil.
Baca Juga: Bahasa Rahasia Musik: Bagaimana Beat Mengatur Fokus dan Kreativitas
Fase ketiga adalah masa dewasa, antara usia 32 hingga 66 tahun. Ini merupakan periode terpanjang, di mana pola kepribadian, kemampuan intelektual, dan karakter seseorang cenderung sudah mapan. Pada masa ini, perkembangan otak tidak lagi menunjukkan perubahan besar. Namun kesehatan umum dan gaya hidup tetap memainkan peran penting dalam menjaga kualitas fungsi otak.
Memasuki usia 66 tahun, otak tidak mengalami perubahan struktural drastis, tetapi para peneliti menemukan tanda-tanda reorganisasi jaringan otak. Konektivitas mulai berkurang, seiring degenerasi materi putih yang menjadi bagian alami dari proses penuaan. Pada tahap ini, kondisi kesehatan seperti tekanan darah tinggi atau penyakit vaskular dapat memberi dampak lebih besar terhadap kemampuan otak.
Tahap terakhir terjadi sekitar usia 83 tahun, ketika konektivitas otak menurun lebih jauh. Bagian-bagian otak mulai bekerja secara lebih terpisah, tidak seterintegrasi seperti pada tahap sebelumnya. Menurut para ilmuwan, kondisi ini menjelaskan mengapa sejumlah fungsi kognitif melemah pada usia sangat lanjut. Meskipun demikian, pola penuaan ini dianggap sebagai bagian alami dari perjalanan otak.
Professor Duncan Astle selaku penulis senior studi tersebut, mengutip dari IFL Science (27/11/2025), menegaskan bahwa pemahaman mengenai lima fase perkembangan otak ini dapat membantu ilmuwan lebih memahami berbagai gangguan neurologis dan kesehatan mental. Banyak kondisi seperti autisme, ADHD, demensia, dan depresi berkaitan dengan cara jaringan otak tersusun atau berubah.
Dengan mengetahui kapan otak mengalami titik balik, para ilmuwan dapat mengidentifikasi periode yang paling rentan dan berpotensi mengembangkan pendekatan perawatan yang lebih tepat.
Astle juga menyebut bahwa, sama seperti banyak orang yang merasa hidup mereka terbagi dalam beberapa fase, otak pun mengalami hal serupa. Temuan ini memberi gambaran ilmiah tentang bagaimana perubahan-perubahan besar itu terjadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
Terkini
-
The Division 3 Dalam Pengembangan, Ubisoft Janjikan Game Shooter Luar Biasa
-
54 Kode Redeem FF Terbaru 13 Januari 2026, Ada Scar Megalodon Alpha dan Bundle Heartrocker
-
5 HP yang akan Rilis di 2026: dari Ekonomis hingga Flagship, Intip Bocorannya
-
25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 13 Januari 2026, Klaim Hadiah Pemain Premier League Gratis
-
5 Pilihan HP RAM 4 GB Harga Rp900 Ribuan, Stabil untuk Multitasking Ringan
-
7 HP Baterai Jumbo 7000 mAh Dibawah Rp2 Juta, RAM Gede Anti Lelet Cocok untuk Ojol
-
7 Tablet Pakai Sim Card Dibawah Rp3 Jutaan untuk Pelajar, Harga Murah Spek Dewa
-
RedMagic 11 Air Debut Pekan Depan: HP Gaming Tipis RAM 24 GB dengan Baterai Jumbo
-
5 HP Memori 128 GB Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking Pelajar
-
WASPADA! 12 Aplikasi Ini Diduga Bisa Intip Chat WhatsApp Anda, Segera Cek dan Hapus dari HP