- Danantara targetkan 2026 jadi tahun pembuktian eksekusi restrukturisasi BUMN dan penggerak pasar.
- Fokus pada disiplin neraca dan konsolidasi untuk perbaiki kualitas laba emiten fundamental.
- Potensi re-rating saham LQ45 terbuka setelah mencapai titik terendah pada tahun 2025.
Suara.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memproyeksikan tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan bagi saham-saham berfundamental kuat di pasar modal Indonesia.
Melalui laporan Danantara Economic Outlook 2026, lembaga ini mengklaim siap menjadi motor penggerak utama untuk mengakhiri tren pelemahan indeks saham unggulan LQ45 yang tertinggal dari bursa regional dalam dua tahun terakhir.
Dalam laporan yang dilihat Selasa (13/1/2026), Danantara menegaskan bahwa jika 2025 adalah tahun 'reset' atau pembersihan masalah, maka 2026 adalah fase pembuktian eksekusi. Pasar kini tidak lagi sekadar menanti janji, melainkan menuntut hasil nyata dari restrukturisasi dan konsolidasi BUMN yang telah berjalan.
Kebangkitan kinerja saham fundamental ini akan dikawal langsung oleh Danantara Asset Management dan Danantara Investment Management. Fokus utamanya adalah menyuntikkan disiplin pada tiga aspek krusial seperti memastikan BUMN berjalan secara efisien dan kompetitif, memperbaiki struktur permodalan untuk mengurangi beban utang dan menghilangkan tumpang tindih antar BUMN guna meningkatkan kualitas laba.
Sinyal positif mulai tertangkap radar pasar. Emiten seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Timah Tbk., dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. telah menunjukkan pergerakan harga yang signifikan. Fenomena ini dipandang sebagai bentuk apresiasi investor terhadap perbaikan fundamental yang mulai terukur.
Optimisme Danantara tidak berdiri sendiri. Pemulihan laba emiten domestik diprediksi akan mendapat dorongan dari transmisi penuh pelonggaran moneter tahun lalu serta kebijakan fiskal 2026 yang lebih pro-pertumbuhan.
Namun, Danantara memberikan catatan realistis. Kecepatan pemulihan blue chip masih akan dibayangi oleh keterbatasan likuiditas pasar dan dominasi investor asing. Kendati demikian, dengan ekspektasi laba saham unggulan yang sudah mencapai titik terendah (bottomed out), ruang untuk re-rating atau peningkatan penilaian harga saham kini terbuka lebar.
"Kinerja terburuk dinilai telah tercermin dalam harga. Kini, saatnya fundamental bicara," tulis laporan tersebut.
Baca Juga: Target Lifting Minyak Pertamina di 2025 Terlampaui, Pakar Bilang Begini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
Negosiasi Pasokan BBM dan LPG dari Rusia, Menteri ESDM: Hasilnya Memuaskan
-
Pasar Modal Lebih Sehat dan Kredibel Berkat Reformasi OJK
-
Ketahanan Ekonomi Indonesia Raih Pengakuan Internasional di Tengah Ujian Geopolitik
-
IHSG Terus Menguat Bukti Reformasi Pasar Modal OJK Berbuah Manis
-
Reformasi OJK Sukses Tingkatkan Transparansi Pasar Modal Indonesia
-
Berlayar Sampai ke Pulau Sumbawa, Pertamina Pastikan Kompor Warga Tetap Menyala
-
Pertamina Sebaiknya Segera Naikkan Harga BBM Nonsubsidi, Awas Merugi
-
PT PGE dan PT PLN IP Sepakati Tarif Listrik, PLTP Lahendong Bottoming Unit Mulai Operasi 2028
-
Bukan KPR Biasa, Ini Rahasia Punya Properti dengan Biaya Terjangkau di BRI
-
Aturan Baru Purbaya, APBN Tanggung Cicilan Utang Kopdes Merah Putih