Suara.com - Perilaku kucing dan anjing yang tiba-tiba sibuk mengunyah rumput sering membuat pemiliknya heran. Di satu sisi, hewan peliharaan dikenal sebagai karnivora atau setidaknya pemakan daging utama. Namun di sisi lain, banyak pemilik justru mendapati hewan kesayangannya menikmati daun hijau seperti sapi di padang rumput. Fenomena ini ternyata cukup umum dan telah lama menarik perhatian para peneliti .
Dalam beberapa tahun terakhir, urusan nutrisi hewan peliharaan memang menjadi semakin kompleks. Pemilik tidak hanya memikirkan kualitas makanan, tetapi juga aspek etika, keamanan pangan mentah, hingga kemungkinan diet nabati. Karena itu, perilaku makan rumput sering dianggap janggal, bahkan memicu kekhawatiran apakah hewan sedang sakit atau kekurangan nutrisi tertentu.
Mengutip IFL Science (15/12/2025), sebuah studi pada 2019 yang melibatkan lebih dari 1.000 pemilik kucing memberikan gambaran menarik. Para responden, yang menghabiskan setidaknya tiga jam sehari bersama kucing mereka, melaporkan bahwa kebiasaan makan tanaman ternyata sangat umum.
Sekitar 71 persen kucing diketahui pernah makan tanaman setidaknya enam kali dalam hidupnya. Sementara itu, hanya 11 persen kucing yang sama sekali tidak pernah terlihat menyentuh tanaman hijau .
Selama ini beredar anggapan bahwa kucing makan rumput untuk memicu muntah ketika merasa tidak enak badan. Namun temuan penelitian justru membantah asumsi tersebut.
Sebanyak 91 persen pemilik menyatakan bahwa kucing mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sebelum makan rumput. Dengan kata lain, muntah yang kadang terjadi lebih dianggap sebagai efek samping, bukan tujuan utama dari perilaku tersebut .
Mengutip IFL Science (15/12/2025), para ilmuwan menduga kebiasaan ini merupakan “jejak evolusi” dari nenek moyang kucing liar. Di alam bebas, parasit usus merupakan ancaman serius. Mengonsumsi tanaman seperti rumput diyakini dapat meningkatkan aktivitas otot di saluran pencernaan, sehingga membantu mengeluarkan parasit. Meski kucing rumahan modern jarang terpapar parasit seperti leluhurnya, dorongan naluriah tersebut tampaknya masih tersimpan kuat .
Fenomena serupa juga ditemukan pada anjing. Studi lain pada 2008 yang melibatkan pemilik anjing menunjukkan bahwa 79 persen responden mengaku anjing mereka gemar makan rumput atau tanaman lain.
Peneliti kemudian memperluas survei hingga lebih dari 3.000 responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas. Hasilnya, sekitar 68 persen anjing dilaporkan makan tanaman setiap hari atau setiap minggu, dengan rumput sebagai pilihan favorit bagi 79 persen anjing tersebut .
Baca Juga: Pengadilan Ungkap Curva Sud Milan Jalankan Bisnis Ilegal, Curva Nord Inter Anjing Penjaga Mafia
Menariknya, hanya sebagian kecil anjing yang makan tanaman ketika sedang sakit. Sekitar 9 persen dilaporkan mengunyah rumput karena merasa tidak enak badan, dan muntah hanya terjadi pada 22 persen kasus.
Tidak ditemukan hubungan yang kuat dengan jenis kelamin, ras, status reproduksi, maupun pola makan. Faktor usia justru lebih berpengaruh, di mana anjing yang lebih muda cenderung makan lebih banyak jenis tanaman dibandingkan anjing yang lebih tua .
Peneliti mencatat bahwa kebiasaan makan tanaman juga ditemukan pada serigala dan hewan liar lainnya. Fakta bahwa perilaku ini tetap bertahan meski anjing telah lama didomestikasi menunjukkan adanya kemungkinan manfaat biologis. Salah satunya adalah peningkatan pergerakan saluran cerna atau membantu mengusir parasit usus, meski penelitian lanjutan masih dibutuhkan untuk memastikannya .
Namun, tidak semua penjelasan harus selalu rumit. Beberapa ahli berpendapat bahwa anjing dan kucing mungkin makan rumput karena mereka menyukainya. Tekstur, aroma, atau rasa rumput segar bisa saja menarik bagi hewan peliharaan, sama seperti manusia yang menikmati camilan tertentu tanpa alasan khusus.
Kesimpulan sementara dari para peneliti menyebutkan bahwa kucing dan anjing sebenarnya tidak membutuhkan rumput sebagai bagian penting dari diet mereka. Meski demikian, kebiasaan ini juga tidak dianggap berbahaya selama dilakukan dalam batas wajar.
Pemilik hanya perlu memastikan hewan peliharaan tidak mengakses rumput yang telah disemprot pestisida atau bahan kimia berbahaya. Di luar itu, membiarkan kucing dan anjing menikmati sesekali “camilan hijau” dinilai aman dan mungkin saja menyenangkan bagi mereka.
Kontributor : Gradciano Madomi Jawa
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Harga Redmi K90 Ultra Hampir Setara POCO X8 Pro Max, tapi 'Rasa Snapdragon'
-
Pre-Order GTA 6 Resmi Hadir Pekan Ini: Bocoran Harga dan Cuplikan Anyar Beredar
-
Spesifikasi Lenovo Aurora GH15: Headset Gaming Murah dengan Baterai 1000 mAh
-
Vivo X Fold 6 Beri 'Sinyal Bahaya' pada Galaxy Z Fold 8, Apa Saja Fiturnya?
-
5 HP Gaming Rp2 Jutaan dengan RAM Besar dan Baterai Jumbo Menurut Review
-
Sony Luncurkan 1000X THE COLLEXION dengan Audio Premium dan Noise Cancelling Generasi Terbaru
-
Poco F8 Ultra Kembali Ready Stock, Usung Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Performa Gaming Kelas Konsol
-
Kaspersky Ungkap Malware Argamal yang Menyamar dalam Game Dewasa, Hacker Bisa Kuasai Komputer Korban
-
Punya Uang Rp1,2 Juta Dapat HP Apa? Ini 5 Pilihan dengan Performa Terbaik Juni 2026
-
Microsoft Perluas Literasi AI di Indonesia, 50 Ribu Peserta Kantongi Sertifikasi Kecerdasan Buatan