Tekno / Sains
Jum'at, 19 Desember 2025 | 13:14 WIB
Ilustrasi kota (Pexels)

Namun, laporan ini memperkirakan sekitar 99 persen populasi dunia menghirup udara dengan kadar PM2.5 yang melampaui batas tersebut.

Bahkan, sekitar sepertiga penduduk dunia tinggal di wilayah dengan tingkat PM2.5 yang melebihi 35 mikrogram per meter kubik, jauh di atas target sementara yang ditetapkan para ahli.

Dampak polusi udara tidak berhenti pada paru-paru dan jantung. Laporan ini juga mengaitkan paparan polusi dengan gangguan fungsi otak.

Diperkirakan terdapat sekitar 626 ribu kematian akibat demensia yang berkaitan dengan polusi udara, serta hilangnya 11,6 juta tahun fungsi otak sehat pada kelompok usia lanjut.

Partikel polusi yang masuk ke aliran darah dapat mencapai otak dan organ vital lainnya, memperparah risiko penyakit degeneratif.

Ketimpangan global turut menjadi sorotan. Sekitar 90 persen kematian akibat polusi udara terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kondisi ini dipengaruhi oleh tingginya tingkat polusi serta terbatasnya akses layanan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Ironisnya, laporan juga mencatat sekitar 11 persen populasi dunia tinggal di negara yang belum memiliki standar kualitas udara nasional sama sekali.

Di negara maju, situasinya tidak selalu lebih baik. Meski banyak kota berhasil menekan kabut asap dan emisi industri, rata-rata tingkat polusi tahunan mereka masih berada di atas pedoman kesehatan WHO.

Artinya, sebuah kota bisa saja memenuhi batas hukum nasional, tetapi tetap memiliki tingkat polusi dua kali lipat lebih tinggi dari standar kesehatan global.

Baca Juga: Stop Iritasi! Brand Skincare Korea Berbasis Sains Ini Teruji Kuat Melawan Polusi dan Kelembapan

Laporan ini juga menegaskan bahwa perubahan kebijakan dapat membawa hasil nyata. Sejumlah kota yang beralih ke bahan bakar lebih bersih, mengurangi penggunaan batu bara, serta memperbaiki sistem transportasi publik terbukti mengalami penurunan polusi signifikan. 

Instrumen analisis kesehatan masyarakat kini dapat digunakan untuk menilai efektivitas kebijakan seperti zona emisi rendah, jaringan bus ramah lingkungan, hingga program memasak bersih.

Bagi masyarakat umum, langkah awal yang disarankan adalah lebih sadar terhadap kualitas udara di sekitarnya. Memeriksa indeks kualitas udara harian dapat membantu menentukan aktivitas luar ruang.

Saat tingkat polusi meningkat, pilihan sederhana seperti memilih rute yang lebih sepi kendaraan atau menggunakan masker yang pas dapat mengurangi paparan.

Kontributor : Gradciano Madomi Jawa

Load More