Tekno / Gadget
Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:31 WIB
Ilustrasi PC dan laptop (Unsplash/Domenico Loia)
Baca 10 detik
  • Menurut IDC, pengiriman PC global diproyeksikan turun hingga 9 persen pada 2026 karena krisis pasokan chip memori.
  • Krisis terjadi sebab permintaan memori kelas atas melonjak tajam untuk pembangunan pusat data dan server kecerdasan buatan (AI).
  • Kenaikan harga PC berpotensi mencapai 8 persen, menekan penjualan konsumen sekaligus mengancam merek-merek PC kecil.

Ironisnya, tekanan ini datang di saat industri komputer tengah gencar memasarkan PC berbasis AI. Perangkat jenis ini justru membutuhkan memori besar agar fitur AI dapat berjalan optimal.

Ilustrasi kecerdasan buatan. [Unsplash]

Sebagai contoh, beberapa fitur AI terbaru Microsoft bahkan mensyaratkan minimal 16GB RAM. Namun di tengah naiknya harga memori, PC AI otomatis menjadi lebih mahal.

IDC mencatat harga PC baru berpotensi melonjak hingga hampir 8 persen, membuat konsumen merasa harus membayar semacam “pajak AI” untuk fitur yang belum tentu mereka butuhkan saat ini.

Raksasa Bertahan, Pemain Kecil Tertekan

Dalam situasi penuh tekanan ini, pemain besar seperti Dell, HP, dan Lenovo berada di posisi lebih aman. Mereka memiliki modal kuat dan kontrak jangka panjang untuk mengamankan pasokan komponen.

Sebaliknya, merek kecil, perakit PC independen, hingga pasar PC gaming rakitan diprediksi akan menghadapi tantangan paling berat akibat keterbatasan pasokan dan kenaikan harga.

Padahal, tahun 2026 sempat diproyeksikan menjadi momentum kebangkitan pasar PC berkat berakhirnya dukungan Windows 10.

Namun kini, harapan itu terancam berubah menjadi realitas pahit, yakni stok terbatas, harga lebih mahal, dan pasar yang kian menyempit.

Baca Juga: Lebih dari 30 Persen Warga Indonesia Curhat ke AI saat Sedih, Fenomena Baru di Era Digital

Load More