Peneliti menduga bahwa organisme tersebut kemungkinan telah beradaptasi dengan memproduksi lebih banyak protein penangkap cahaya agar fotosintesis tetap efisien.
Namun, ketika memodelkan skenario perubahan iklim di masa depan, terdapat pergeseran yang signifikan dalam komposisi fitoplankton. Tim melakukan simulasi skenario, di mana manusia terus memancarkan gas rumah kaca hingga tahun 2100. Dalam skenario ini, kenaikan suhu sebesar 3 derajat Celcius akan mengurangi cakupan es secara drastis.
Dengan hilangnya penghalang es, sinar matahari menjadi lebih mudah tersedia bagi organisme untuk diserap. Akibatnya, fitoplankton tidak lagi memerlukan protein penangkap cahaya dalam jumlah besar, sehingga kadar protein total diproyeksikan menurun hingga 30%, sementara proporsi karbohidrat dan lipid akan mengalami peningkatan yang sesuai.
Dampaknya di Wilayah Subtropis
Selain wilayah kutub, penelitian ini juga mengamati dampak di wilayah subtropis dan lintang tinggi. Di wilayah laut ini, populasi fitoplankton diperkirakan akan menurun hingga 50%. Perlambatan sirkulasi laut akibat suhu yang lebih hangat akan membatasi nutrisi yang naik dari laut dalam.
Sebagai respons, fitoplankton subtropis kemungkinan akan bermigrasi ke kedalaman yang lebih dalam untuk mencapai keseimbangan antara kecukupan sinar matahari dan nutrisi. Di kondisi tersebut, mereka diperkirakan akan beralih ke komposisi yang sedikit lebih kaya protein, menggunakan protein fotosintetik yang sama yang dibutuhkan lebih sedikit oleh organisme kutub.
Para peneliti melangkah lebih jauh dan menemukan bahwa hasil pemodelan mereka selaras dengan sampel fitoplankton aktual yang sebelumnya dikumpulkan dari wilayah Arktik dan Antartika.
Sharoni mengatakan dari data yang didapat, menunjukkan bahwa di area yang esnya telah mencair, protein dalam plankton telah menurun sementara karbohidrat dan lipid meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa dasar rantai makanan laut sudah mulai mengalami perubahan kualitas gizi.
Penulis: Vicka Rumanti
Baca Juga: Dapur MBG Kembali Beroperasi Usai Libur Lebaran, Relawan: Kangen Suara Ompreng
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Galaxy S25 Ultra Bisa Ditukar Gratis ke S26 Series, Ini Cara dan Syaratnya
-
7 HP Samsung Galaxy Seri A Sudah Tahan Air dan Harga Mulai dari Rp3 Jutaan
-
30 Kode Redeem FF 1 April 2026, Klaim Voucher Gratis dan Tunggu Kehadiran Gintama
-
Cara Pakai Quick Share Galaxy S26 ke iPhone Tanpa Aplikasi, Kirim File Jadi Super Cepat!
-
28 Kode Redeem FC Mobile 1 April 2026, Amankan Hadiah Spesial dan Kunci Jawaban Kuis Level Susah
-
Samsung Galaxy A07 5G Resmi Rilis, Baterai 6000mAh Tahan Seharian, Harga Rp2 Jutaan
-
Harga Samsung Galaxy A37 di Indonesia Tembus Rp7 Juta, Lawan Deretan HP Spek Gahar
-
5 Tablet Samsung Paling Awet: Dipakai Bertahun-tahun Tak Turun Performa
-
5 Rekomendasi HP Murah Layar Anti Gores 2026, Worth It untuk Jangka Panjang
-
Daftar Harga Samsung Galaxy A57 di Indonesia Terungkap, Tambah Mahal Hampir Rp2 Juta