Suara.com - Perubahan iklim merupakan salah satu isu yang cukup mengkhawatirkan saat ini. Salah satu dampak yang dihasilkan dari perubahan iklim adalah cuaca yang semakin panas. Data dari Copernicus Climate Change Service (C3S) , menyatakan bahwa rata-rata suhu global Pada Januari 2025 naik 1,75 derajat Celcius.
Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melakukan pengamatan terhadap suhu udara di stasiun pengamatan BMKG.
Hasilnya dalam 10 tahun terakhir terjadi perubahan suhu yang signifikan, dengan tahun 2024 menjadi tahun terpanas. Kondisi ini tentu membuat aktivitas menjadi tidak nyaman. Tidak hanya itu, cuaca yang semakin hari kian memanas juga bisa berdampak langsung terhadap manusia.
Sebuah penelitian dari The Nature Conservancy menyebutkan bahwa panas ekstrem dapat mengurangi harapan hidup manusia.
“Perubahan iklim tidak hanya membuat panas semakin intens, tetapi juga mengurangi waktu yang dapat dihabiskan orang untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka dengan aman,” Ujar Luke Parsons, seorang ilmuwan iklim di The Nature Conservancy dan penulis utama studi tersebut.
Penelitian tersebut juga mengungkap bahwa rata-rata orang dewasa muda sekarang mengalami sekitar 50 jam keterbatasan hidup akibat dari panasnya cuaca yang semakin meningkat. Sementara itu, pada kelompok usia yang lebih tua panas ekstrem dapat mengurangi hingga 900 jam atau lebih dari satu bulan. Angka ini juga mengalami peningkatan dari tahun 1950, dimana masing-masing dari angka tersebut adalah 25 jam untuk orang dewasa muda dan 600 jam untuk kelompok usia yang lebih tua.
World Health Organisation (WHO) juga mengatakan bahwa terjadi 489.000 kematian akibat cuaca panas ekstrem dari tahun 2000-2019, dengan 45% diantaranya terjadi di Asia.Di Indonesia sendiri, pada periode tahun 2004-2018, tercatat 702 kematian setiap tahunnya akibat panas ekstrem.
Kenapa Bisa Sampai Mengurangi Usia Hidup?
Temuan lain dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan suhu dapat berpengaruh dalam membatasi kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan atau beraktivitas di luar ruangan. Hal ini terjadi karena tidak mampu mentoleransi panas dalam jangka waktu yang panjang.
Baca Juga: Perubahan Iklim dan Letusan Gunung Jadi Penyebab Punahnya Hobbit Flores
Tentunya hal ini akan berdampak terhadap munculnya penyakit, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan otot dan sendi, dan defisiensi vitamin D karena kurangnya aktivitas fisik di luar ruangan. Selain itu, heat stroke atau serangan panas dapat menyebabkan kerusakan organ vital yang dapat mengancam jiwa. Dehidrasi akibat panas ekstrem berisiko menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan baik.
Melalui berbagai temuan tersebut kita dapat melihat bahwa panas ekstrem dapat mempersingkat usia harapan hidup manusia. Oleh karena itu, sebaiknya kita mulai memperlakukan gaya hidup berkelanjutan dan mulai bertransformasi kepada energi yang lebih terbarukan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?