Tekno / Internet
Kamis, 07 Mei 2026 | 11:02 WIB
Ilustrasi wartawan. [The Climate Reality Project/unsplash]
Baca 10 detik
  • Bakom RI resmi menggandeng New Media Forum sebagai mitra strategis untuk memperluas diseminasi informasi pemerintah kepada masyarakat luas.
  • Kemitraan yang diumumkan pada 6 Mei 2026 di Jakarta ini merangkul puluhan platform media sosial populer di Indonesia.
  • Kolaborasi ini bertujuan meningkatkan tata kelola konten pada entitas media yang beroperasi sepenuhnya melalui platform media sosial pihak ketiga.

Berdasarkan data riset, sebanyak 73% Gen Z di Indonesia saat ini lebih memilih media sosial sebagai pintu utama untuk mencari berita harian ketimbang mengakses gerbang media konvensional.

Fleksibilitas media sosial membuat para pengelola homeless media dapat mengalokasikan fokus sepenuhnya pada kreativitas produksi konten tanpa perlu dipusingkan oleh kendala teknis pengelolaan server atau situs web.

Merujuk pada hasil kajian mendalam dari Remotivi yang bertajuk Understanding Homeless Media: A Study on Social Media Based Informal Local News in Five Indonesian Cities, ada tiga faktor krusial yang membuat ekosistem ini tumbuh subur, seperti algoritma media sosial, informasi yang disajikan dapat menyebar secara instan langsung ke gawai pengguna yang menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia maya.

Selain itu, narasi yang dibangun cenderung sangat melokal dan dikemas secara kasual sehingga mudah dipahami. Contoh nyatanya adalah akun-akun informasi kewilayahan seperti @lombokinfo yang memfokuskan seluruh kontennya pada dinamika lokal di Pulau Lombok.

Selain itu, untuk mendirikan sebuah media informasi berbasis media sosial, seseorang hanya perlu membuat akun baru secara gratis tanpa perlu melewati birokrasi perizinan usaha yang rumit. Hal ini berbeda jauh dengan syarat pendirian perusahaan pers konvensional yang harus berbadan hukum resmi.

Kendati memiliki daya pikat yang tinggi bagi audiens muda dan efisien dari segi bisnis, model homeless media bukan tanpa celah. Terdapat sejumlah tantangan fundamental yang kerap memicu kritik seperti minimnya validasi dan verifikasi data sering kali terabaikan. Hal ini memperbesar celah penyebaran informasi yang keliru atau bahkan hoaks. 

Load More