Tekno / Game
Rabu, 22 Juli 2026 | 17:46 WIB
Director PT Bukalapak.com Tbk, Victor Putra Lesmana dalam media gathering di Jakarta, Rabu (22/7/2026). [Tangkapan layar]
Baca 10 detik
  • PT Bukalapak.com Tbk menutup layanan marketplace fisik pada awal 2025 untuk menghentikan kerugian finansial yang besar.
  • Perusahaan mengalihkan fokus bisnis ke teknologi gaming, investasi digital, dan ekosistem UMKM demi profitabilitas berkelanjutan.
  • Segmen gaming mendominasi pendapatan perusahaan hingga hampir 90 persen serta telah berekspansi ke pasar global melalui Joytify.

Suara.com - Di tengah kompetisi yang menguras modal dan margin keuntungan, PT Bukalapak.com Tbk memilih langkah berbeda dengan meninggalkan bisnis marketplace produk fisik dan mengalihkan fokus ke teknologi gaming, investasi digital, hingga ekosistem UMKM.

Transformasi tersebut kini mulai menunjukkan hasil, dengan bisnis gaming menjadi mesin pertumbuhan baru perusahaan.

Director PT Bukalapak.com Tbk, Victor Putra Lesmana, mengatakan persepsi publik terhadap Bukalapak masih identik dengan marketplace, padahal perusahaan telah berevolusi menjadi perusahaan teknologi dengan portofolio bisnis yang jauh lebih luas.

"Awalnya kita adalah marketplace. Sampai IPO pada 2021, Bukalapak identik dengan e-commerce. Namun seiring berjalannya waktu, sebagai startup kami banyak melakukan inovasi dan membangun bisnis-bisnis baru, mulai dari Mitra Bukalapak, gaming, investment, hingga retail," ujar Victor dalam media gathering di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Transformasi tersebut semakin dipercepat setelah Bukalapak melakukan evaluasi bisnis pada 2024.

Salah satu keputusan paling besar adalah menghentikan layanan marketplace produk fisik pada awal 2025, keputusan yang sempat memicu spekulasi bahwa perusahaan akan menutup operasinya.

Situs resmi Lapakgaming. [Tangkapan layar]

Namun menurut Victor, keputusan itu didasarkan pada analisis data bisnis, bukan sekadar strategi efisiensi.

"Marketplace produk fisik kontribusinya sebenarnya kurang dari 3 persen terhadap total pendapatan. Secara bisnis dampaknya tidak besar, tetapi terhadap profitabilitas justru sangat membantu karena itu adalah bisnis dengan kerugian terbesar di Bukalapak," jelasnya.

Ia menilai, model kompetisi e-commerce di Indonesia masih sangat bergantung pada promosi dan subsidi harga sehingga sulit menghasilkan profit yang berkelanjutan.

Baca Juga: MLBB x Street Fighter 6 Ubah Land of Dawn Jadi Arena Fighting Ultra-Responsif!

"Kalau mau bersaing dengan terus bakar uang sebenarnya bisa saja. Tapi kami melihat perilaku konsumen Indonesia masih sangat tergantung pada diskon. Begitu promosi berhenti, konsumen akan berpindah ke platform yang lebih murah. Kami memutuskan lebih baik melakukan transformasi ketika perusahaan masih memiliki sumber daya," bebernya.

Hasil transformasi tersebut terlihat dari perubahan struktur bisnis Bukalapak. Sejak 2025 perusahaan mulai melaporkan kinerja dalam empat segmen utama, yakni Gaming, Mitra Bukalapak, Retail, dan Investment.

Di antara seluruh lini bisnis tersebut, teknologi gaming berkembang paling cepat.

Victor mengungkapkan, kontribusi bisnis gaming kini mencapai hampir 90 persen dari total pendapatan Bukalapak, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 80 persen pada awal transformasi.

"Gaming sekarang bisa dibilang sudah sekitar 90 persen dari total pendapatan Bukalapak. Dari sisi profitabilitas juga terus meningkat," ujarnya.

Tidak hanya tumbuh di Indonesia, Bukalapak juga memperluas platform gaming digitalnya ke Asia Tenggara, Eropa, hingga Amerika Serikat melalui brand internasional Joytify.

Load More