Tekno / Tekno
Rabu, 05 Agustus 2026 | 15:36 WIB
National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo (kedua dari kanan) dalam peluncuran Sharp Airest di Jakarta, Rabu (5/8/2026). [Suara.com/Dythia]
Baca 10 detik
  • PT Sharp Electronics Indonesia meluncurkan produk Airest di Jakarta pada Rabu, 5 Agustus 2026.
  • Sharp mencatat produksi 70.000 unit AC per bulan dengan tingkat komponen dalam negeri mencapai 70 persen.
  • Perusahaan menaikkan target pendapatan tahunan menjadi Rp13 triliun menyusul tingginya permintaan pasar domestik.

Suara.com - Bagi masyarakat urban, AC kini bukan lagi perangkat luks, melainkan kebutuhan primer untuk menjaga produktivitas. Namun, ketergantungan pada komponen impor dan teknologi filtrasi standar menjadi titik lemah bagi industri ini.

Menjawab tantangan tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) melakukan langkah berani dengan memperkuat kemandirian manufaktur domestik dan meluncurkan inovasi teknologi yang melampaui sekadar pendinginan.

Dominasi 25 Persen: Kemenangan Inovasi Lokal atas Gempuran Impor

Sebagai pemimpin pasar (market leader) dengan pangsa pasar mencapai 25 persen, Sharp membuktikan bahwa penguasaan teknologi manufaktur lokal adalah kunci memenangkan "perang udara" di tanah air.

Saat kompetitor mulai kesulitan menyuplai unit akibat regulasi Standardisasi Nasional Indonesia (SNA) untuk barang impor, Sharp justru memacu kapasitas produksinya hingga ke titik maksimal.

National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Andry Adi Utomo, mengungkapkan betapa agresifnya permintaan pasar saat ini.

"Kita produksi sampai kewalahan, 70.000 unit AC setiap bulan habis terserap pasar. Semester pertama (Januari-Juni) perjalanannya luar biasa melampaui ekspektasi kami," ujar Andry di sela-sela peluncuran AIREST di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Inovasi Material: Adaptasi Teknologi di Tengah Krisis Tembaga Dunia

Salah satu aspek inovasi yang paling tajam dari Sharp adalah kemampuan adaptasi komponen. Melonjaknya harga tembaga global hingga tiga kali lipat menjadi batu sandungan bagi banyak produsen.

Baca Juga: Sharp Airest Satukan AC dan Air Purifier, Hadirkan Teknologi MERV 14 Bikin Udara Makin Sehat

Sharp merespons krisis ini bukan dengan menurunkan kualitas, melainkan dengan melakukan rekayasa material menggunakan aluminium yang lebih adaptif secara biaya namun tetap memiliki durabilitas tinggi.

Hal ini didukung oleh nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang kini telah menyentuh angka 56 persen hingga 70 persen. Sharp mengintegrasikan seluruh proses produksi di dalam negeri, mulai dari injeksi kabinet, pemrosesan metal, hingga pembuatan evaporator secara mandiri.

"Ini adalah bentuk kemandirian teknologi. Dengan TKDN yang tinggi, kami tidak hanya mengamankan suplai bagi konsumen Indonesia, tetapi juga memastikan harga tetap kompetitif di tengah fluktuasi dolar," tambah Andry.

Anomali Pasar: Saat Kualitas Udara Menjadi Prioritas Utama

Tahun 2026 mencatatkan fenomena unik dalam perilaku konsumen Indonesia. Meskipun Sharp telah melakukan penyesuaian harga hingga tujuh kali sejak akhir tahun lalu akibat kenaikan biaya material dan fluktuasi mata uang, angka penjualan justru terus meroket.

Andry Adi Utomo menyebut fenomena ini sebagai 'Anomali Indonesia'.

Load More