- Kaspersky memblokir puluhan juta serangan siber dan ratusan ribu ransomware di Asia Pasifik sepanjang Januari hingga Juni 2026.
- Pelaku kejahatan siber menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mempercepat pengembangan perangkat lunak berbahaya serta memperbesar skala serangan.
- Hampir sepertiga organisasi mengalami insiden keamanan akibat kerentanan pada rantai pasok perangkat lunak dan komponen open-source.
Suara.com - Ancaman siber di Asia Pasifik belum menunjukkan tanda mereda. Sepanjang Januari–Juni 2026, Kaspersky mencatat 75 juta serangan dari sumber daring berhasil diblokir, termasuk sekitar 250.000 serangan ransomware.
Data Kaspersky Security Network (KSN) juga mencatat 3,4 juta serangan backdoor dan 2,4 juta serangan pencuri kata sandi berhasil dicegah selama paruh pertama 2026.
Namun, angka tersebut bukan satu-satunya ancaman yang menjadi perhatian. Kaspersky melihat pelaku kejahatan siber mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat pengintaian, pengembangan malware, hingga memperbesar skala serangan.
“Pelaku kejahatan siber semakin memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pengintaian, mempercepat pengembangan malware, dan meningkatkan skala serangan,” ujar Kepala unit riset Asia Pasifik dan Timur Tengah, Turki dan Afrika (META) di Kaspersky Great, Sergey Lozhkin.
Rantai Pasok Jadi Celah Baru
Ancaman juga bergeser ke rantai pasok perangkat lunak. Kaspersky menemukan hampir satu dari tiga organisasi mengalami insiden yang berkaitan dengan rantai pasok dalam setahun terakhir.
Sejumlah kasus menunjukkan bagaimana aplikasi atau layanan yang dipercaya justru dimanfaatkan sebagai pintu masuk serangan. Penyerang antara lain menyusup melalui infrastruktur pembaruan software, installer aplikasi, hingga paket open-source yang digunakan pengembang.
Risiko ini semakin besar karena komponen open-source telah menjadi bagian penting dalam pengembangan aplikasi modern. Kaspersky mencatat 19.484 paket berbahaya terdeteksi sepanjang 2025, naik 37 persen dibandingkan 14.197 paket pada 2024.
Asia Pasifik menjadi wilayah yang sangat menarik bagi kelompok serangan tingkat lanjut atau Advanced Persistent Threat (APT). Lima negara di kawasan ini adalah China, India, Myanmar, Pakistan, dan Vietnam.
Baca Juga: AI Ubah Cara Konsumen Cari Brand, Bisnis Dituntut Makin Adaptif
Kelimanya masuk daftar 12 negara yang paling sering menjadi target APT secara global. Menurut Kaspersky, kombinasi transformasi digital yang cepat, adopsi AI, dan situasi geopolitik membuat kawasan Asia Pasifik menjadi target bernilai tinggi bagi kelompok siber.
Artinya, ancaman kini tidak hanya datang dari file mencurigakan atau ransomware yang menyerang langsung. Software yang dipercaya, rantai pasok, hingga teknologi AI justru menjadi medan baru pertarungan keamanan siber.
Berita Terkait
-
25 Prompt AI Edit Foto Hari Kemerdekaan RI ke-81, Hasil Natural Cocok untuk Medsos
-
Laptop Gaming Bukan Cuma Buat Mabar: ASUS Bongkar Rahasia AI Lokal Biar Kerja 2x Lebih Cepat!
-
AI Masuk Kelas, Bali Uji Cara Baru Atasi Masalah Numerasi Siswa
-
Ancaman Siber Berbasis AI Makin Canggih, Industri Keuangan Diminta Perkuat Ketahanan Digital
-
LG Siapkan Robot Humanoid Generasi Baru Pakai AI NVIDIA, Bakal Dipamerkan 2027
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kaspersky Blokir 250 Ribu Serangan Ransomware di Asia Pasifik, AI Bikin Ancaman Makin Adaptif
-
Bukan Cuma Tempat Barang Kuno, Ini Wajah Baru Museum NTB yang Siap Mendunia
-
6 Cara Pakai Essence agar Menyerap Maksimal untuk Kulit Wajah, Makin Glowing dan Kenyal
-
5 Mesin Cuci 2 Tabung yang Hemat Listrik dan Murah untuk Rumah Tangga, Harga Rp1 Jutaan
-
Dadah-dadah Prabowo dengan Latar Asap Kebakaran Kalimantan, Publik: What Next Mr Presiden
-
Mauro Zijlstra Terdepak dari Skuad Persija, Arema FC Jadi Kesempatan Kedua
-
Cek Fakta: Bahlil Sebut Baterai Nikel di Mobil Listrik Lebih Paten Dibanding LFP, Benarkah?
-
Status Waspada! Gunung Karangetang Terus Muntahkan Lava Sejauh 1.000 Meter
-
Dari Aceh ke Flores, Safrizal ZA Soroti Pentingnya Respons Cepat di Lokasi Bencana
-
3 Bedak Mengandung Iron Oxide untuk Menangkal Flek Hitam Wajah