Waspada APK hingga Deepfake, IMS Bedah Keamanan Siber di Gen Z Impact Fest 2026

Senin, 14 September 2026 | 16:21 WIB
Executive Editor Suara.com sekaligus trainer cek fakta GNI Arsito Hidayatullah menyampaikan materi saat mengisi sesi keempat rangkaian Gen Z Impact Fest 2026 di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
  • IMS bahas keamanan siber Gen Z Impact Fest 2026 bagi kreator muda.
  • Modus APK hingga deepfake disorot di keamanan siber Gen Z Impact Fest 2026.
  • Lima pilar perlindungan dipaparkan pada keamanan siber Gen Z Impact Fest 2026.

Suara.com - Intensitas aktivitas digital membuat kreator konten dan jurnalis muda menghadapi risiko keamanan yang semakin beragam. Tawaran sponsorship palsu, file APK berbahaya, doxing, hingga manipulasi wajah dan suara berbasis AI menjadi sejumlah modus yang dibedah dalam sesi “Digital Security Awareness to Keep You Safe” di Gen Z Impact Fest 2026.

Sesi ke-empat yang berlangsung di UC Hotel UGM, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026), menghadirkan Digital Journalist Advisor (DJA) International Media Support (IMS) Asep Saefullah, pendiri Celebrithink.com sekaligus trainer keamanan siber GNI Reren Indranila, serta Executive Editor Suara.com dan trainer cek fakta GNI Arsito Hidayatullah. Diskusi tersebut diarahkan pada kebutuhan praktis kreator dan pengelola media dalam melindungi aset digital.

Asep membuka sesi dengan menjelaskan perubahan lanskap bisnis media lokal. Menurutnya, penurunan pendapatan iklan digital dalam tiga tahun terakhir membuat media dan kreator perlu mencari sumber pendapatan melalui program, acara, serta kolaborasi komunitas. Kondisi tersebut membuat keamanan akun menjadi bagian mendasar dari keberlangsungan ekosistem digital.

Materi Keamanan Digital atau Digital Security ini menjadi pilar paling dasar. Aset digital yang sudah dibangun bertahun-tahun dengan pengikut besar jangan sampai hilang dalam sekejap hanya karena kelalaian elemen dasar siber,” ujar Asep dalam pemaparan di Gen Z Impact Fest, Sabtu (12/9/2026).

Reren kemudian memetakan posisi kreator sebagai sasaran menarik bagi pelaku kejahatan siber. Kebiasaan mengunggah konten satu hingga tiga kali sehari menciptakan jejak digital yang terbuka. Akun dengan ribuan hingga jutaan pengikut juga memiliki nilai ekonomi yang dapat memancing upaya pengambilalihan akun.

Salah satu modus yang disoroti ialah phishing berkedok tawaran sponsorship bernilai puluhan juta rupiah. Pelaku dapat mengirimkan berkas APK palsu atau dokumen Excel berbahaya yang disamarkan sebagai materi kerja sama. Reren juga menyebut kasus love scamming berkedok lowongan kerja customer service di kawasan Jalan Gito-Gati, Sleman.

Ancaman lain datang melalui doxing serta manipulasi AI. Data seperti NIK, alamat, nomor kontak, dan foto lama dapat disebarkan tanpa izin. Teknologi deepfake dan voice cloning kemudian membuka kemungkinan pemalsuan wajah atau suara untuk menipu korban maupun orang di sekitarnya.

Lima pilar perlindungan diri digital yang perlu diperhatikan adalah kata sandi unik dan panjang, autentikasi dua faktor, pemisahan identitas email, kontrol informasi pribadi, serta delay publishing dan refleksi tiga detik sebelum mengunggah konten sensitif,” ujar Reren dalam sesi tersebut.

Arsito Hidayatullah melengkapi pembahasan dengan instrumen teknis. Ia menyarankan penggunaan passphrase yang terdiri dari empat hingga lima kata acak karena lebih mudah diingat sekaligus lebih panjang daripada pola kata sandi konvensional. Pengelola akun juga dianjurkan memakai password manager terenkripsi dan menghindari penyimpanan kata sandi di Notes, percakapan WhatsApp, atau perangkat publik.

Gunakan passphrase, rangkaian empat sampai lima kata acak yang membentuk frasa panjang. Mudah diingat oleh pemilik, namun sangat sulit dibobol oleh mesin brute-force,” ujar Arsito saat memberikan contoh pengamanan akun di Gen Z Impact Fest 2026.

Arsito juga menekankan pentingnya verifikasi sebelum transaksi dan publikasi. Calon mitra dapat diperiksa melalui CekRekening.id, sementara foto atau video perlu ditelusuri menggunakan reverse image search seperti Google Lens. Pemeriksaan metadata dengan Exif Viewer juga dapat membantu menguji informasi mengenai waktu, tanggal, dan lokasi pembuatan foto.

Penerapan protokol tersebut turut dibahas ketika Reren mengajak salah satu peserta untuk membagikan pengalamannya. Dalam peliputan aksi massa di Yogyakarta, ia mengaku melakukan kurasi materi sebelum mengunggahnya ke media sosial. Jeda publikasi digunakan untuk mengurangi risiko doxing serta menjaga keselamatan jurnalis dan narasumber.

Jangan memasang nomor telepon pribadi yang terhubung dengan akun perbankan atau e-wallet di bio media sosial. Saat meliput demo, lakukan kurasi dulu mana materi yang aman diunggah,” ujar Reren menegaskan pentingnya kontrol informasi pribadi.

Bagi kreator dan jurnalis yang bekerja di ruang publik, delay publishing akhirnya menjadi lebih dari sekadar strategi distribusi konten. Jeda beberapa menit dapat memberi kesempatan untuk memeriksa informasi, menyembunyikan data sensitif, mengamankan posisi fisik, serta mempertimbangkan dampak publikasi.

Di tengah eskalasi phishing, doxing, dan deepfake, refleksi tiga detik sebelum menekan tombol unggah menjadi bagian dari etika keselamatan digital.

Reporter: Muhamad Fairus Farizki

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com