- Air laut terasa asin karena kandungan mineral terlarut hasil pelapukan batuan daratan dan aktivitas hidrotermal dasar laut.
- Sungai membawa miliaran ton mineral terlarut ke laut setiap tahun yang terakumulasi akibat penguapan air laut.
- Tingkat keasinan air laut berbeda di setiap wilayah karena pengaruh penguapan, curah hujan, sungai, dan es.
Penyebab Perbedaan Kadar Salinitas Air Laut
Meskipun seluruh laut mengandung garam, tingkat salinitasnya dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan keseimbangan antara air yang masuk ke laut dan air yang hilang melalui proses hidrologis.
1. Penguapan
Semakin tinggi penguapan di suatu wilayah, semakin banyak air yang berpindah ke atmosfer sementara garam tetap tertinggal.
Akibatnya, salinitas permukaan laut dapat meningkat. Sebaliknya, penguapan yang rendah cenderung membuat pengaruh pemekatan garam menjadi lebih kecil.
2. Curah hujan
Hujan memasukkan air tawar ke laut sehingga dapat mengencerkan garam yang sudah terdapat di dalamnya.
Karena itu, wilayah dengan curah hujan tinggi cenderung mengalami penurunan salinitas permukaan, terutama jika masukan air tawar berlangsung terus-menerus.
3. Aliran sungai
Sungai membawa air tawar sekaligus mineral terlarut dari daratan ke laut.
Di sekitar muara dengan masukan air sungai yang besar, salinitas air permukaan dapat menjadi lebih rendah dibandingkan perairan laut terbuka.
4. Pencairan dan pembentukan es
Pencairan es memasukkan air tawar ke laut sehingga dapat menurunkan salinitas.
Sebaliknya, ketika air laut membeku menjadi es, sebagian besar garam tetap berada di air sekitarnya sehingga air laut yang tersisa menjadi lebih asin dan lebih padat.
5. Arus laut
Arus laut memindahkan massa air dengan karakteristik salinitas berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Proses pencampuran dan perpindahan tersebut ikut menentukan distribusi garam di permukaan maupun bagian laut yang lebih dalam.