Kenapa Kita Selalu Mengecek HP Padahal Tidak Ada Notifikasi? Ini Penjelasannya

Rabu, 23 September 2026 | 11:39 WIB
Ilustrasi pengguna HP. [magnific]
BACA 10 DETIK
  • Dopamin dan Phantom Vibration Syndrome memicu kebiasaan mengecek ponsel.
  • Phantom Vibration Syndrome terjadi akibat ilusi getaran ponsel pada kulit.
  • Kurangi Phantom Vibration Syndrome dengan mematikan mode getar pada ponsel.

Suara.com - Tanpa sadar, jempol kita sering kali bergerak sendiri meraih HP, menyalakan layarnya, lalu mendapati tampilan yang bersih tanpa satu pun notifikasi masuk hanya untuk mengulanginya lagi beberapa menit kemudian.

Perilaku spontan ini sebenarnya bukan sekadar kebiasaan “iseng”, melainkan respons alami otak yang sedang berburu pasokan hormon dopamin secara instan.

Fenomena yang kerap berkaitan dengan checking habit atau phantom notification ini dipicu oleh sistem antisipasi di dalam pikiran kita.

Setiap kali membuka ponsel dan menemukan pesan, like, atau kabar terbaru, otak melepaskan sedikit dopamin yang memunculkan rasa senang. 

Lama-kelamaan, otak merekam pola tersebut dan menciptakan dorongan refleks untuk terus memeriksa layar, berharap mendapatkan "hadiah" berupa interaksi digital baru bahkan saat ponsel sedang sepi.

Sistem saraf kita pada dasarnya sudah terlatih untuk selalu siaga menantikan stimulasi, membuat tangan bekerja lebih cepat daripada kesadaran kita sendiri.

Dopamin Menjadi Salah Satu Aktornya 

Ilustrasi pengguna ponsel. [Envanto]

Dikutip dari STANZ, Dopamin merupakan senyawa kimia di otak yang bertindak sebagai pemicu utama motivasi kita. Otak akan melepaskannya saat kita melakukan sesuatu yang menyenangkan. 

Secara sederhana, dopamin adalah "pengatur motivasi" di dalam otak kita. Banyak orang mengira dopamin baru keluar saat kita merasa senang, padahal dopamin justru paling banyak bekerja sebelum hal menyenangkan itu terjadi.

Senyawa inilah yang menciptakan rasa penasaran dan dorongan semangat. 

Selain mengatur motivasi dan suasana hati, dopamin memiliki peran vital dalam mengontrol gerakan fisik manusia dan juga sebagai instrumen dalam pengambilan keputusan secara rasional. 

Phantom Vibration Syndrome 

Ilustrasi pengguna HP. [Google AI]

Fenomena psikologis dan neurologis ketika seseorang merasa telepon genggam atau smartphone bergetar, padahal pada kenyataannya tidak ada notifikasi maupun getaran yang masuk sama sekali ini dikenal dengan Phantom Vibration Syndrome. 

Dalam kajian ilmiah yang dipublikasikan di ScienceDirect, fenomena ini dikategorikan sebagai salah satu bentuk halusinasi taktil (tactile hallucination), yaitu ketika otak keliru memproses dan menafsirkan sensasi sentuhan pada kulit. 

Studi menunjukkan bahwa kecenderungan ini sangat marak terjadi di kalangan generasi muda dan mahasiswa, dengan angka kejadian mencapai hampir setengah dari total populasi yang diteliti.

Munculnya fenomena ini tidak lepas dari bagaimana kebiasaan harian kita dalam berinteraksi dengan teknologi membentuk cara kerja otak.

Penyebab utamanya berakar pada penggunaan mode getar (vibration mode) secara terus-menerus. Ketika seseorang mengaktifkan mode getar dalam jangka panjang, otaknya mengalami proses pembelajaran persepsi (perceptual learning). 

Faktor fisik juga memegang peranan penting, seperti menyimpan perangkat di saku depan celana atau di dalam tas selempang yang menempel langsung pada tubuh meningkatkan frekuensi terjadinya ilusi getaran ini. 

Meskipun Phantom Vibration Syndrome umumnya tidak berbahaya secara medis, fenomena ini menjadi indikator nyata dari tingginya tingkat ketergantungan psikologis dan kecemasan teknologis pada masyarakat modern.

Untuk mengurangi dampaknya, pengguna disarankan mulai mengistirahatkan mode getar, memindahkan tempat penyimpanan ponsel, serta membatasi durasi penggunaan layar secara berkala.

Kontributor : Muhammad Ikhwan Nur Ariyansyah

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com