- Country Director YouTube Indonesia Veronica Utami menyatakan kecerdasan artifisial memberdayakan kreativitas kreator dalam jumpa pers di Jakarta pada Rabu (7/10/2026).
- YouTube mewajibkan kreator mencantumkan label transparansi apabila konten video atau musik mereka melibatkan teknologi kecerdasan artifisial.
- Sistem perlindungan hak cipta Content ID milik YouTube tetap berlaku efektif untuk melacak pelanggaran materi buatan kecerdasan artifisial.
Suara.com - Punya ide konten belum tentu berarti seseorang bisa langsung mewujudkannya menjadi video. Ada yang punya konsep, cerita, atau ide visual, tetapi terbentur kemampuan teknis untuk membuatnya.
Kondisi tersebut mulai mendapat jalan keluar dari perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan konten, tetapi juga membantu kreator melewati sejumlah proses dalam pembuatan video, mulai dari mencari ide, menyusun skrip, hingga mengembangkan konsep visual.
Country Director YouTube Indonesia, Veronica Utami, mengatakan AI seharusnya dipandang sebagai alat yang memberdayakan kreativitas, bukan menggantikan peran kreator.
“Iya, kalau untuk Google AI mengenai kreativitas itu kita melihatnya Google AI itu memberdayakan kreativitas, bukan untuk menggantikan,” ujar Veronica dalam jumpa pers YouTube Festival 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, AI dapat digunakan dalam berbagai tahap proses kreatif. Kreator bisa memanfaatkannya untuk membuat thumbnail lebih menarik, membantu menyusun skrip, hingga melakukan brainstorming untuk menemukan ide baru.
Namun, penggunaan AI juga bisa membantu kreator yang sebenarnya sudah memiliki ide tetapi belum mampu menerjemahkannya menjadi sebuah video.
AI Jadi Teman dalam Proses Kreatif
Menurut Veronica, kemampuan AI tersebut membuat teknologi dapat berfungsi seperti teman dalam proses kreatif. Kreator tetap memiliki gagasan dan arah cerita, sementara AI membantu menerjemahkan ide tersebut menjadi bentuk yang lebih mudah diwujudkan.
Dengan pendekatan ini, AI tidak harus selalu menghasilkan sebuah video dari awal sampai akhir. Teknologi dapat digunakan pada bagian tertentu yang selama ini menjadi hambatan bagi kreator.
Misalnya, kreator yang kesulitan membuat visual dapat memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan elemen visual. Sementara mereka yang mengalami kebuntuan ide dapat menggunakan AI sebagai alat untuk melakukan brainstorming.
“It’s a tool to empower the creative process, bukan untuk replacing,” ujar Veronica.
Bagi kreator, pendekatan tersebut membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk menghasilkan konten tanpa harus menguasai seluruh kemampuan teknis produksi video sejak awal.
Konten AI Tetap Harus Transparan
Meski AI semakin banyak digunakan dalam proses kreatif, YouTube tetap menekankan pentingnya transparansi.
Veronica mengatakan, kreator yang menggunakan AI untuk membuat atau memodifikasi konten diwajibkan mengungkapkan penggunaan teknologi tersebut. Informasi itu ditampilkan melalui label agar penonton mengetahui apakah sebuah konten dibuat sepenuhnya oleh kreator atau melibatkan AI.