- Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menyatakan teknologi kecerdasan buatan dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk mengotomatisasi serangan di Jakarta.
- Metode keamanan konvensional dinilai sudah tidak memadai sehingga perusahaan wajib mengadopsi sistem pertahanan otomatis yang responsif.
- Peningkatan risiko serangan siber tersebut mendorong proyeksi kenaikan investasi yang signifikan pada sektor keamanan digital perusahaan.
Suara.com - Kecerdasan buatan (AI) tidak hanya mempercepat inovasi teknologi, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan secara lebih otomatis. Kondisi ini mendorong kebutuhan investasi keamanan siber di Indonesia diproyeksikan meningkat signifikan.
Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher mengatakan, pertumbuhan kebutuhan keamanan siber tidak terlepas dari meningkatnya risiko serangan yang memanfaatkan AI.
"Teknologi yang sama-sama digunakan untuk memperkuat pertahanan kini juga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi serangan," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, belum lama ini.
AI memungkinkan penyerang mempercepat pemindaian kelemahan sistem dan menjalankan berbagai aktivitas berbahaya dalam skala yang lebih besar.
"Akibatnya, metode keamanan konvensional dinilai semakin sulit menghadapi pola serangan yang terus berkembang," tambah dia.
Menurut Patrick, perubahan tersebut membuat perusahaan dan industri perlu menyesuaikan strategi pertahanan mereka. Ketika serangan berlangsung secara otomatis, sistem keamanan juga harus mampu merespons dengan kecepatan serupa.
Pertahanan Siber Tak Bisa Lagi Mengandalkan Cara Lama
Patrick menilai, meningkatnya risiko serangan berbasis AI akan mendorong adopsi teknologi pertahanan baru. Otomatisasi menjadi salah satu kebutuhan penting agar perusahaan dapat menghadapi ancaman yang bergerak lebih cepat.
"Pendekatan tradisional yang mengandalkan proses manual dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi serangan yang dapat dijalankan secara otomatis dan berulang," ungkapnya.
Karena itu, dia menambahkan, teknologi AI dan keamanan siber diperkirakan semakin dibutuhkan untuk membantu perusahaan mendeteksi kelemahan, merespons ancaman, serta memperkuat perlindungan sistem digital.
Perubahan ini turut memengaruhi arah investasi industri. Perusahaan tidak hanya perlu meningkatkan kemampuan mendeteksi serangan, tetapi juga menyiapkan sistem pertahanan yang dapat bekerja lebih cepat dan efektif.
Risiko Serangan Jadi Pendorong Investasi
Patrick menjelaskan, pertumbuhan permintaan terhadap layanan keamanan siber menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan investasi di sektor tersebut.
Menurutnya, komitmen investasi dapat terlihat dari masuknya pendanaan ke perusahaan, modal ventura, dan berbagai proyek yang berkaitan dengan keamanan siber.
Ia memperkirakan investasi di bidang ini akan meningkat secara signifikan karena risiko serangan terus bertambah, sementara teknologi pertahanan harus berkembang untuk mengimbanginya.