Jangan Asal Beli Kripto, Investor Bisa Boncos Kalau Abaikan Hal Ini

Selasa, 06 Oktober 2026 | 11:35 WIB
.Ilustrasi Kripto. [Unsplash]
BACA 10 DETIK
  • Investor kripto diminta riset mandiri sebelum membeli aset digital.
  • DCA bisa menjadi strategi investasi kripto yang lebih disiplin.
  • Kripto tetap berisiko karena harga fluktuatif dan modal bisa hilang.

Suara.com - Investasi aset kripto semakin mudah diakses masyarakat. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko bagi investor yang masuk ke pasar tanpa memahami karakter aset dan kemampuan menanggung risiko.

Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), OSL Indonesia, mengingatkan investor agar tidak sekadar mengikuti pergerakan harga ketika memutuskan berinvestasi di aset digital.

Head of Marketing OSL Indonesia Vincent Salaka mengatakan, salah satu tantangan terbesar investor bukan hanya membaca arah pasar, tetapi juga memahami karakter diri sendiri sebagai investor.

"Bagi investor baru dan ingin berinvestasi pada aset kripto, sangat penting untuk selalu melakukan riset terlebih dahulu. Jangan pernah berinvestasi pada aset investasi yang belum dikenal dan belum mengerti sepenuhnya," ujar Vincent.

Menurut dia, investor perlu mengenali aset yang akan dibeli sekaligus memahami profil risikonya. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) sebelum melakukan transaksi.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena setiap aset digital memiliki karakteristik, mekanisme, dokumentasi, serta tingkat risiko yang berbeda. Investor juga perlu memperhitungkan kemungkinan fluktuasi harga hingga risiko kehilangan modal.

Di tengah kondisi tersebut, strategi investasi secara berkala atau Dollar-Cost Averaging (DCA) menjadi salah satu pendekatan yang dapat digunakan investor untuk membangun konsistensi.

Melalui DCA, investor melakukan pembelian secara terjadwal sehingga tidak harus terus-menerus menentukan waktu pembelian secara manual. Strategi ini lebih menekankan disiplin dan konsistensi investasi dibandingkan upaya menebak titik harga terbaik.

OSL Indonesia sendiri menyediakan fitur Auto-Invest (DCA) yang menggunakan pendekatan investasi berkala tersebut. Fitur ini ditujukan untuk membantu investor yang ingin menjalankan strategi investasi secara lebih teratur, khususnya untuk tujuan jangka panjang.

Di sisi lain, OSL juga memperkenalkan OSL Elite yang menyasar investor dengan kebutuhan transaksi lebih tinggi dan nilai investasi lebih besar.

Selain itu, terdapat OSL Launchpool yang memungkinkan pengguna yang memenuhi persyaratan mengikuti program alokasi aset kripto tertentu dengan mengalokasikan aset yang dimilikinya selama periode program.

Namun, alokasi aset melalui program tersebut tidak dijamin dan bergantung pada ketentuan masing-masing program. Nilai aset kripto yang dialokasikan juga dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

Vincent menilai strategi investasi tidak bisa diseragamkan kepada seluruh investor. Perbedaan tujuan, kebutuhan transaksi, kemampuan finansial, dan toleransi risiko membuat investor perlu menentukan pendekatan yang sesuai dengan kondisinya masing-masing.

"Setiap investor memiliki karakter yang berbeda, karena itu pendekatan investasi juga tidak dapat disamaratakan," kata Vincent.

Dengan semakin luasnya akses terhadap aset digital, investor pada akhirnya tidak hanya dituntut mampu melihat peluang keuntungan, tetapi juga memahami risiko di balik keputusan investasi.

Perdagangan dan investasi aset digital memiliki sejumlah risiko, termasuk volatilitas harga, potensi kehilangan modal, risiko likuiditas dan teknologi, serta perubahan regulasi.

Karena itu, investor tetap perlu melakukan riset secara mandiri, memahami karakteristik aset yang dibeli, serta mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com