wawancara / wawancara
Arsito Hidayatullah
Ilustrasi wawancara. Ketua Umum Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Nunung Rusmiati. [Foto: Dok. pribadi / Olah gambar: Suara.com]

Suara.com - Hampir di sepanjang pandemi Covid-19, sektor pariwisata yang notabene melibatkan banyak aktivitas fisik termasuk kontak antar-manusia, bisa dikatakan termasuk yang paling terpukul dan mengalami kemerosotan besar. Bahkan sampai saat ini pun, meski angka kasus Covid-19 sudah cenderung melandai dan banyak wilayah di Indonesia sudah pada kategori relatif aman, sektor wisata masih belum bisa disebut pulih.

Sehubungan itu, apalagi memasuki periode pergantian tahun di mana normalnya sektor pariwisata ramai dan para pelaku industrinya bisa bersenang hati, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menilai sebenarnya ini bisa menjadi salah satu momen untuk kembali bangkit. Apalagi dengan memastikan bahwa Asita selaku salah satu stakeholder penting sektor pariwisata juga senantiasa mengikuti berbagai kebijakan dan protokol terkait penanganan pandemi Covid-19 yang diatur pemerintah.

Setidaknya, itulah yang terungkap dari pandangan Ketua Umum Asita, Dr Nunung Rusmiati, dalam bincang-bincang online di forum FGD bersama Suara.com, baru-baru ini. Lebih lengkapnya, berikut petikan pembicaraan dengan Nunung Rusmiati, yang ditulis ulang dalam format wawancara khusus tanya-jawab:

Setelah terjadi perubahan ke arah yang lebih baik dalam pariwisata, beberapa waktu waktu lalu terdapat kebijakan PPKM level 3, bagaimana pendapat Ibu sebagai Ketua Asita mengenai hal tersebut?

Baca Juga: Wawancara Amar Alfikar: Saya Transpria yang Beruntung, Banyak yang Justru Miris Nasibnya

Saya sangat mendukung akan kebijakan tersebut untuk mencegah kenaikan kasus covid 19. Kita sudah belajar 2 tahun, kita sudah tau persis, 2 tahun itu tidak sebentar apalagi untuk pengusaha. Pengusaha itu bebannya sangat berat, tidak ada pemasukan tapi harus ada pengeluaran. Saya sebagai ketua umum, saya memberikan wejengan yang positif. Janganlah karena baru 6 bulan untuk staf kita dikurangi staf kita gajinya atau haruslah karena kita sudah bertahun-tahun mendapatkan keuntungan dan itu alhamdulillah di ikuti dalam arti postitif karena kita saling berbagi. Tapi kan artinya sama, kalau sudah akhirnya 6 bulan atau setahun lagi, saya cuma punya satu tahun lagi. Nah saya sudah tidak bisa memaksakan mereka untuk jangan nggak bayar ya karena memang sudah waktunya gitu, apalagi kita sudah melihat situasi sudah mulai melandai, kita juga bisa melihat bahwa kita ini penduduknya 280-290 juta dan kita juga harus bangga karena itu adalah kekuatan kita. Seperti yang saya bilang sangat besar dari 34 provinsi dan 515 kabupaten, sebenarnya dari awal banyak sekali kabupaten-kabupaten yang sangat tidak, bahkan tidak lebih dari 10-20. Kita ini besar, punten tidak seperti singapur yang sangat belok-belok deh. Nah jadi di sini kekuatan kita, jadi tolong dipisahkan, bener yang tadi itu yang tadi level 3. Pertama, setiap saya kemana-mana, saya ke lombok ketemu dengan gubernur, ke kepulauan riau itu ketemu gubernur, ke padang ketemu dengan gubernur, ke bali ketemu dengan gubernur, kemarin ke surabaya ketemu wakil gubernur, bupati, kepala dinas, intinya mereka semua sama berusaha untuk menjadikan level 1 dan 2 dan mereka berusaha keras sekali. Jadi mohon untuk baremeter tersebut dilakukan. Tentu saja saya mendukung, tapi saat ini, tolong mengerti juga pemerintah mudah-mudah yang daerah level 1 dan 2 tetep 1 dan 2 cuma pelaksanaannya, tapi tetap pelaksanaannya itu juga memang protokol kesehatan yang kuat tapi tidak perlu diketatkan sekali karena kasihan ini banyak sekali, ini kalo di asita desember itu adalah panennya, jangan karena kita sudah berharap panen ada terus ditutup kembali. Jadi waktu itu (kita) berharap ada panen sedikit (dan) kita bisa bertahan, jadi ke tutup kembali. Nah mudah-mudah, kemarin saya dengar ini sedang di diskusikan. Kita bisa melihat negara-negara lain, seperti kuala lumpur dari awal itu lockdown sampe sekarang itu masih lockdown cuma langkawi, tetapi kita belajar seperti yang misalnya turki dari september tahun lalu itu sudah buka dan saya pergi ke sana ingin tahu, tahun lalu di desember, di Uzbekistan, sampai sekarang bebas, sekarang dia lagi mid-season. Sampe hotel penuh di bulan desember. Nah yang kita usahakan untuk pandemi (kita) menjadi endemy. Misalnya (kemarin) inggris udah ini-ini, kita optimisi jangan yang di ungkapkan yang jeleknya. Kan inggris tadinya karena terlalu ini, naik lagi. Kita lihat kuala lumpur persis bener-bener mengikut sampai sekarang cuma dari langkawi, langkawi pun bulan kemarin ga buka-buka sampe sekarang masih lockdown, saya pun ke kuala lumpur ga bisa baru kemarin.

Sebelumnya Ibu mengatakan bahwa Asita meminta untuk peraturan level 3 diberi tahu dahulu, jangan serba mendadak. Apakah dari pemerintah tidak memberitahu dahulu sebelum mengumumkan, Bu?

ya sekarang ini kan memang sebetulnya, ini tidak rahasia umum, dalam arti kita bisa lihat di media-media. Walaupun bukan level 3 ini, misalkan dari tadi antigen sekarang jadi pcr, ya walaupun menurut pemerintah, punten sudah disosialisasikan seminggu. Tapi kan yang tadi lagi-lagi, rakyat kita itu banyak. Jangan kan cuma bicara news gitu lho, pertama, mungkin dia ga punya tv kedua, dia ga punya handphone ketiga, yang penting aja untuk edukasi anaknya dia tidak punya handphone apalagi Cuman membaca berita gitu lho. Jadi ini juga tolong betul sekali kita bisa lihat, kita semua harus belajar, nah ppkm emang masih di diskusikan. Mudah-mudah saya meminta memang kalau itu, cepat di beritahukan dan juga jangan misalnya baru wacana atau apa, tolong betul-betul ini dipikirkan, jangan asal, misalkan oh nanti dilakukan level 3, ternyata kemarin pak gubernur (katanya) menurut saya sih pelaksanaannya bukan begini. Itu masih mereka-reka. Termasuk kemarin juga waktu saya diskusi dia bilang masih bingung. Tolonglah ini rakyat di Indonesia ini cukup besar, kalau saya karena saya ketua umum, saya betul-betul melihat akhirnya (di) tv tuh news aja karena saya juga ingin update kan, saya kan ingin anggota saya khususnya 7.000 bergeliat, intinya saya ingin pariwisata ini berjalan sehingga anggota saya ada bisnis lagi jadi penekanannya melakukan sesuatu (itu) satu, jauh-jauh hari, kedua harus ada barometernya ketiga, ini sudah cukup, dua tahun, jadi saya setuju waktu itu (mengenai) kesehatan keempat, ikuti kata-kata, saya selalu ikuti kata-kata pak jokowi, injek rem, tancap gas, kita harus balance. Tolong empat itu jadi patokan untuk kita. Apalagi tahun baru bisa di bilang panenlah, kalau meraup keuntungan kita ya di situ. Kita kalau desember itu bisa 3-2 bulan bisa tenanglah untuk membayar gaji dan operasional kantor kita bahkan kalo sampe bening kita bisa sampe satu tahun mengesave. Nah ini yang paling penting, asita itu proven, saya sudah bisa membuktikan, seluruh anggota saya itu yang mempromosikan ke seluruh negara, Amerika, Eropa, Australi, Jepang, Korea, ASEAN dan itu mendapatkan devisa nomor 2 pariwisata, nah tolong saya setuju dengan pak luhut, apa yang sudah dilakukan oleh warga negara indonesia, jangan bicara aja tapi juga kita buktikan, nah saya ini, anggota saya ini telah proven membuktikan pada saat covid saya mendapatkan devisa nomor 2, yang satu travel ada yang 10.000, ada yang 30.000, ada yang 100.000 mendatangkan, karena asita itu adalah benar-benar priuk nasi kita, jadi kita mempromosikan indonesia tanpa dukungan pemerintah apalagi sekarang saya bersyukur, pak jokowi itu concern sekali dengan tourism, kalau turism sangat mudah nantinya, tinggal dipoles nanti juga jalan, nah saya juga terimakasih kepada pak sandi, jadi intinya bagaimana untuk membangkitkan pariwisata disini, kita itu disini benar-benar proven, saya meminta kepada pemerintah apa yang bisa memudahkan anggota saya yang sudah proven.

Bagaimana strategi Asita untuk PPKM level 3 yang tanpa di-support pemerintah ini?

Yang pertama tentunya saya berharap level 3 tidak diberlakukan tetap yang (level) tadi, itu disesuaikan dengan barometer 1 dan 2 tapi untuk pelaksaannya seperti level 3 itu masih bisa saya terapkan ke anggota saya. Yang kedua, tentunya kita kalau strategi dan segala macem itu sudah membuat strategi 2 tahun yang lalu sampai kita membuat jenjang bisnis astra bagaimana caranya stretegi pasca covid ini betul-betul kita manfaatkan, jangan tertunda, jadi kita betul-betul kerjasama dengan dengan beberapa pihak termasuk hotel dan restaurant supaya harga bisa murah dan menarik, yang ketiga kita saling mengisi antara provinsi. Jika ada yang datang, tolonglah misalnya dari lampung datanglah ke palembang karena kan sekarang sudah ada tolnya cuma 3-4 jam, makan bakso aja udah (bisa) dilakukan. Jadi (kita) itu seperti family, itu strategi-strategi yang sudah kita lakukan. Jangan lupa lagi asita membuat prokes kesehatan tidak sendiri, kita bekerjasama dengan gustugas, kementrian pariwisata, bank Indonesia dan DPR jadi prokes yang kita buat itu dari pusat sehingga dirubah-rubah sedikit setiap provinsi, tinggal ditambah atau dikurangi hampir sama, tergantung level 1,2 atau 3.

Baca Juga: Wawancara Khusus Moeldoko: Kita Punya Komitmen Serius Atasi Perubahan Iklim

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno dalam salah satu kegiatan kunjungan. (Dok: Istimewa)

Masyarakat sudah terbiasa dengan prokes saat ini kemudian apakah pemerintah masih kurang akan hal tersebut sehingga menetapkan PPKM level 3?

Nah itu juga, Sebetulnya itu juga saya aneh. Saya tau persis untuk vaksin hampir 100% itu yang pertama. Kemudian, seluruh stakeholder tourism sudah mantapkan CHSE yang betul-betul diikuti, nah itulah, saya juga termasuk gubernur kalau memang itu benar tadi, mudah-mudahan barometernya jelas. Memang keraguan itu biasanya kalo lagi tahun baru dan natal itu biasanya kerumunan, nah mudah-mudahan kerumunan kemarin ada dalam hati sekarang sudah bisa kita lihat sudah bisa di meeting-meeting sudah 200-300 itu tidak masalah, lagi-lagi kita percayakan kepada masyarakat, masyarakat juga sudah cukup bosan dan mengerti, yang mana hal tersebut akan mempengaruhi dia juga apalagi balik lagi travel sudah mengikuti apa yang diminta, karena kita juga tidak ingin dengan adanya pembukaan dan pembubaran akhirnya harus menjadikan yang tadinya sudah landai menjadi naik lagi. Jadi mudah-mudahan sedikit-sedikit, karena kan itu baru prediksi dan belum tentu. Mudah-mudah kita diberi keringanan sesuai PPKM yang dilakukan 1 dan 2.

Apabila dilakukan PPKM level 3 berapa persen turunnya minat masyarakat?

Oh itu bisa sampe di atas 70%, saya yakin. Itu udah yang lalu-lalu. Jangankan PPKM cuma karena antigen ke PCR aja udah bisa sampe 35-40% gitu lho. Oleh karena itu, saya bilang kepada pemerintah untuk melakukan sesuatu itu betul-betul dipikirkan dampak perekonomiannya, karena itu sangat drastis penurunannya, untuk di antigen ke pcr itu nyata di bali bulan Oktober.

Jika kondisi seperti itu, apakah bisnis perjalanan wisata akan tetap bisa beroperasi atau akan terseok-seok Bu?

Pasti akan terseok-seok lagi dan kita juga memulainya sangat sulit, kita disini banyak staf kurang lebih 7.000 agen tapi mempengaruhi jutaan orang untuk pariwisata sekitar 13 juta, bayangkan itu sudah berharap (malah) mulai down, nah tolong mudah-mudahan ini mulai tambah semangat. Pemerintah concern, tolonglah untuk pariwisata ini dilakukan, semua sudah siap dengan prokes.

Tips untuk masyarakat yang ingin berwisata terutama di kondisi PPKM level 3?

Tentunya level 3 kan yang pertama, harus PCR tentunya harganya pasti mahal. Kedua, tidak juga dari segi mahal karena PCR itu sangat lama dalam waktu 24 paling cepat 6 jam, kalau antigen selain murah itu cepat jadi walaupun kita mendadak atau sibuk kita bisa. Tipsnya itu, mudah-mudahan pemerintah itu jauh-jauh hari. Memang masih ada, umumnya sekitar 70%, 30% masih mampulah untuk membayar PCR untuk ada waktu dan dia betul-betul yakin dia akan jalan. Tapi kan tidak semua harus adillah, yang mampu dan tidak mampu. Tips untuk yang sudah mampu ikuti semua protokol kesehatan seperti sudah pasti PCR dan kedua, harus memakai travel agen yang betul-betul berlisensi terutama asita yang ketiga, tentunya kepada pemerintah jika memang ada kegiatan pemerintah, tolonglah jangan langsung ke hotelnya dan airlanenya karena harganya juga sama tapi kita bisa berbagi, bisa mempengaruhi ekonomi yang tergerakan, bukan hanya untuk orang tertentu hotelnya atau airlanenya. Tetapi kalau kita intinya mengambil tanam-tanam waktu, tidak lanjut covid, kitalah yang promosikan. Nah pada saat ini tolonglah juga dibalik, kita yang butuh, kalo waktu tidak covid kita tidak mengandalkan lokal karena kita lebih banyak mengandalkan wisatawan mancanegara karena itu proven dan banyak uangnya yang beredar di Indonesia. Jadi waktu itu kita yang bekerja keras, istilahnya lokal (hanya) tambahan tapi bagaimana mancananegara itu datang. Nah inilah pada saatnya pemerintah memberikan kebalikannya, waktu kita di bali pun tidak ada satupun wisatawan asing yang nyampe, nah itulah kita mengharapkan lokal, untuk pemerintah tolonglah memanfaatkan travel egent khususnya Asita.

Selain itu, siapkan minyak kayu putih dan dari kita sendiri harus sering mencuci tangan. pada tanggal 7 dan 8 desember di sahid arsita memiliki event dan bisa hybrid untuk melakukan keseluruhan transaksi yang ada paket-paket menarik.

Adakah tempat wisata rekomendasi yang jarang dikunjungi terutama untuk kalangan muda?

Saya kalau mention tempat, pasti kalian pendengar (bilang) “kenapa bu ketum ngomongnya itu”. Pak presiden sudah menetapkan 10 destinasi di bali dan 5 prioritas. Itu aja komplain, kenapa provinsi-provinsi saya tidak, padahal saya lebih bagus. Tapi intinya kita berpindah-pindah di 34 provinsi ini, misalkan memang ada kelebihan masing-masing. Jadi kalo sudah kesini, pindah kesini dan ada 514 kabupaten. Jadi indonesia ada surga dunia harus dicoba 34 provinsi cuman sekarang itu lebih banyak yang outdoor, indonesia juga inovatif dan kreatif. Jadi lebih baik 34 provinsi dan berpindah-pindah karena berbeda daya tariknya dari mulai makanannya, culturenya, beachnya, dan gunungnya. Karena saya suka treveling, saya sudah hampir (mengunjungi) 500 kabupaten. Kemarin saya juga ke jember, saya udah sering (kesana) dan saya pergi ke beach pada tengah malem, waktu kita mau ke airport sempet-sempetin karena saya sudah kesana (dan) belum mengunjungi beachnya. Nah semoga dengan adanya ini, cintailah negara kita yang sangat perfect dan surga dunia.

Apa aman kita jika kita memaksakan berwisata meski ada imbauan liburan akhir tahun?

Aman, saya menjamin. Tentunya pemerintah dan stakeholder terutama saya lagi-lagi sebagai ketua umum yang mengikuti travel, travel-travel egent yang sudah berlisensi dan anggota asita aman, karena protokol kesehatan itu betul-betul dijalankan. Contohnya, kalau airlane sudah memiliki protokol sendiri, sampai di sana dijemput misalnya mobilnya harusnya 8 orang cuma 4 orang paling banyak 6 orang tergantung dimana provinsinya biasanya minimal 4 orang dan kemudian, kita lebih banyak outbond dan itu betul-betul kita lakukan segala macem sudah betul-betul mengikuti protokol kesehatan. Dan insya allah aman.

Jika kondisi saat ini kembali normal, apakah bisnis perjalanan bisa kembali normal kah?

Mudah-mudahan setelah Desember ini kembali normal. Kalo normal saya berharap juga protokol kesehatan tetap dilaksanakan. Mudah-mudahan januari-febuari tidak ada masalah, saya juga tau, saya sudah bosen, tapi disini kan ada semua dan menjaga diri. Saya juga berdoa mudah-mudahan sesudah desember, the end of january sudah benar-benar normal semua kehidupan jadi terutama tourism. Dari seluruh perekonomian, pariwisata adalah garda perekonomian terutama UKM yang tadi deh dari restoran-restoran terpencil sampai sovenir yang perak hingga jutaan kalo pesawat dan hotel sudah pasti. Kalo kita harus berpikir dari pariwisata. Mudah-mudahan ini juga doa sehingga kita bisa bangkit khususnya pada saat ini.

Bagaimana antisipasinya jika PPKM level 3 setelah tanggal 3 Desember nanti banyak yang liburan?

Kalau sampai saat ini masih wacana, seperti yang saya bilang semoga tidak dan tetap level 1 dan 2. Tapi jika betul diterapkan, pastikan itu akan turun sekitar 60-70% dan itu masih ada sekitar 30%. Dari 30% di setiap provinsi jangan berkumpul di satu tempat misalkan yang satu ke puncak semua ke puncak. Nah nanti akan saya promosikan, ini loh ada 514 kabupaten, jadi kalo separuh-separuh akhirnya bisa menyebar.

Seberapa kapasitas pengunjung untuk satu tempat wisata?

Tergantung dari levelnya, level 1,2 dan 3. Kalau level 1 kan sudah lebih bebas, kalau level 3 50%. Kalau level 4 sama sekali. Ya sama seperti level 1 dan 2 kan sudah lebih bebas, kalau level 3 itu penuh, ada yang 50 ada yang 70% itulah barometer juga tidak sama penetapannya, termasuk di airlane tadinya 70 jadi 50.

[Kontributor: Maria Merry Christin Nainggolan - mahasiswa magang]

Komentar

terkini