/
Rabu, 05 Oktober 2022 | 12:20 WIB
Kondisi mengerikan di satu pintu masuk dan keluar Kanjuruhan. (suara.com)

SuaraBandung.id – Sampai saat ini masih menjadi misteri siapa sosok dibalik perintah penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan Malang.

Gas air mata menjadi penyebab jatuhnya banyak korban yang terjadi saat kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (1/10/2022).

Seperti diketahui, FIFA telah melarang pemakaian gas air mata di dalam stadion karena memiliki efek yang tidak main-main. 

FIFA telah menuangkan aturan mengenai keamanan stadion, yakni "FIFA Stadium Safety" dan "Security Regulations" dalam pasal 19 b, berbunyi: "Senjata api atau 'gas pengendali massa' tidak diperkenankan dibawa dan dipakai."

Karena dampak dari gas air mata menyebabkan resiko jangka pendek dan panjang, bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Hingga saat ini, data terbaru menunjukkan bahwa 131 orang meninggal dunia atas kejadian tersebut. Dan ini menyebabkan duka mendalam bagi sepakbola Indonesia.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkapkan bahwa hingga saat ini tim investigasi masi menelusuri terkait siapa sosok dibalik komando penggunaan gas air mata untuk mengurai massa.

"Ini kami teliti. Karena saat itu Kapolres Malang sedang di luar akan mengamankan pemain (Persebaya) yang akan keluar," kata Wahyu dilansir dari ANTARA (5/10/2022).

Wahyu menjelaskan, pada saat Kapolres Malang (nonaktif) AKBP Ferli Hidayat tersebut berada di luar, di dalam Stadion Kanjuruhan terjadi kericuhan dan kemudian petugas menggunakan gas air mata untuk mengurai massa.

Baca Juga: Rizky Billar Didepak dari Dangdut D'Academy 5 Indonesiar, Netizen: Alhamdulillah..Setuju

Dengan kondisi tersebut, katanya lagi, diduga ada pejabat di dalam yang memerintahkan anggota untuk menggunakan gas air mata tersebut.

"Kejadian itu di dalam, berarti ada pejabat di dalam yang memerintahkan. Siapa orangnya, sedang disidik. Tapi sembilan orang sudah dicopot. Tim sedang bekerja," ujarnya pula.

Load More