SuaraBandung.id - Mantan komisioner KPU RI periode 2012-2017, Haidar Nafis Gumay menjelaskan pengalamannya tentang banyak dari orang-orang yang terlibat langsung.
Namun meski mendapatkan banyak pengakuan serupa dari rekan-rekannya di Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang ada di daerah, nyatanya mereka tidak ingin membuka suara.
Adapun rekan-rekan yang menceritakan hal tersebut berasal dari berbagai wilayah, mulai dari tingkat kabupaten atau kota, juga provinsi. Cenderung hampir seluruh wilayah di Indonesia.
"Sebetulnya banyak yang bercerita ke saya hanya saja mereka tidak mau untuk terbuka."
"Dan kalau mendapatkan cerita dari mereka itu ya."
"Terjadi dibanyak hampir disemua wilayah provinsi atau kabupaten/kota kita," jelas eks komisioner KPU itu di kanal Youtube Narasi Newsroom pada Selasa (17/1/2023).
Dilansir dari kanal youtube tersebut, Hadar Nafis Gumay juga menjelaskan bahwa meskipun sistem dan aturan sudah ada tapi yang dipilih oleh oknum tersebut adalah tidak membuka datanya.
Dampaknya kita sebagai warga negara pun tidak bisa mengikuti semua alur atau sistem yang ada secara rinci atau mendetail.
"Nah jadi sistem, aturan sebetulnya sudah ada disana."
Baca Juga: Jaksa Sebut Putri dan Brigadir Yosua Selingkuh, Febri Diansyah: Tuduhan Tak Berdasar
"Tetapi kemudian yang dipilih adalah tidak membuka datanya secara cukup."
" Sehingga kita tidak bisa mengikuti semua ini dengan rinci,"pungkas Haidar Nafis Gumay. Dikutip bandung.suara.com pada Rabu (18/1/2023).
Lebih lanjut, Haidar Nafis Gumay kembali menegaskan bahwa ia pun tidak tahu pasti namun ia menyampaikan mendapat banyak informasi dan data terkait dugaan manipulasi KPU yang sering terjadi.
"Apakah ini suatu kesengajaan dalam rangka untuk menciptakan ruang bisa menciptakan manipulasi."
"Saya tidak tahu pasti yang jelas kami dikoalisi, saya secara pribadi mendapatkan banyak informasi dan data bahwa manipulasi itu terjadi," ungkapnya. (*)
Sumber: YouTube Narasi Newsroom
Berita Terkait
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Nadiem Makarim Tantang Audit BPKP di Sidang Banding, Minta Hakim Periksa Ulang Bukti
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis