SUARA BANDUNG - Pemanasan global bukan fenomena alam biasa, seberapa sanggup manusia menghentikan perubahan iklim?
Ada pertanyaan besar, apa yang akan terjadi jika pemanasan global terus terjadi? Apakah manusia bisa menghentikan perubahan iklim?
Sebelum menjawab dua pertanyaan tersebut ada deskripsi tentang bahayanya pemanasan global.
Kemudian yang harus diketahui sebagai pengetahuan bersama adalah jika pemanasan global bukan fenomena alam biasa.
Hal yang harus diperhatikan adalah pemanasan global dan perubahan iklim terjadi akibat perubahan intensitas matahari, variasi orbit bumi, letusan gunung api, dan lainnya.
Melihat itu semua, perubahan iklim dari zaman ke zaman bukan hanya fenomena alam biasa.
Saat ini dinilai paling mengerikan dan menakutkan adalah perubahan iklim terjadi jauh lebih cepat dan parah, dibandingkan siklus yang diperkirakan.
Dikutip dari konten Youtube Context ID berjudul Akibat Perubahan Iklim, Nasib Dunia di Ujung Tanduk? Jika dulu suhu maksimal paling tinggi sebesar 58 derajat celcius, nanti akan jauh lebih tinggi daripada itu.
Perubahan tersebut, sangat dipengaruhi oleh penduduk dunia yang terus bertambah dan jauh lebih banyak dibandingkan ribuan tahun yang lalu.
Hal mengerikan dari dampak itu semua adalah, jika pemanasan global akan membuat es di kutub mencair, lalu permukaan air terus naik, maka akan ada bencana dialami banyak orang di pesisir pantai yang rumahnya tenggelam.
Nah, hal paling mengerikan, penyebab bencana akibat perubahan iklim ini bukan cuma kenaikan air laut saja.
Akan ada dampak domino yang juga mengancam kehidupan dengan jatuhnya banyak korban jiwa dan kerugian lainnya.
Misal, bencana akibat dampak mengerikan dari perubahan iklim adalah banjir di Pakistan pada Agustus kemarin telah menewaskan 1000 penduduk setempat.
Bencana banjir Pakistan tersebut adalah dampak perubahan iklim yang jauh lebih besar dibandingkan ratusan tahun yang lalu.
Bagaimana dampak banyaknya bencana lain di dunia? Bagaimana bisa?
Benarkan semuanya gara-gara gas rumah kaca?
Kita harus tahu apa itu gas rumah kaca? Teorinya, gas rumah kaca merupakan gas yang memerangkap panas di atmosfer.
Sederhananya, apabila sinar Matahari sangat terik masuk ke Bumi, maka akan dipantulkan lagi ke luar bumi.
Hal itu bisa dilakukan dari air laut, es di kutub, ataupun lain-lainnya.
Dengan kondisi tersebut, maka suhu permukaan bumi akan sangat bergantung pada energi panas yang masuk dan keluar.
Masalah besar saat ini adalah sinar matahari yang dipantulkan justru tertahan. Tidak bisa keluar dari Bumi, karena terhalang gas-gas itu.
Padahal keadaan yang sudah menjadi siklus alam, sinar matahari dari luar terus masuk.
Jika terus tertahan, alhasil suhu bumi pun meningkat secara drastis.
Nah, kondisi ini diperparah dengan kandungan gas yang paling bahaya, yakni karbon dioksida yang malah meningkat drastis yang disebabkan revolusi industri.
Belum lagi adanya aktivitas manusia yang memperparah perubahan iklim. Uap air bisa memblokade sinar Matahari yang mau keluar dari bumi.
Jika kenaikan masif CO2 terus berlanjut, maka dahsyatnya bencana pada zaman es bisa terjadi.
Artinya jumlah gas rumah kaca di setiap belahan dunia sama besarnya, tidak peduli negara mana yang paling banyak melakukan produksi.
Dan harus diketahui, jika untuk mencegah hal ini, tidak bisa dilakukan oleh komunitas orang atau satu dua negara, melainkan dunia.
Perlu digaris bawahi, kita semua tidak bisa menghentikan perubahan iklim. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Kenapa HP Muncul Iklan Terus? Ini 3 Rekomendasi Ponsel Bebas Iklan!
-
Cerita Rocky Gerung Bantu Prabowo 'Serang Balik' Jokowi lewat Buku Francis Fukuyama
-
5 Cushion Wudhu Friendly untuk Makeup Bukber, Praktis dan Natural!
-
Kenapa Ban Mobil Sering Kempes? Cek 5 Rekomendasi Merek Ban Super Kuat Anti Bocor
-
IHT Disebut Kunci Prabowonomics, Mampukah Dongkrak Target Ekonomi 8%?
-
Super Air Jet Punya Siapa? Bikin Penumpang Terlantar 5 Jam hingga Tinggalkan Bayi
-
Dianggap Pilih Kasih, Geni Faruk Tanggapi Panggilan Cucu Kesayangan untuk Anak Thariq Halilintar
-
35 Ucapan Imlek 2026 untuk Bos yang Sopan dan Profesional, Siap Di-copas!
-
Profil PT Ormat Geothermal Indonesia, Benarkah Perusahaan Asal Israel?
-
CEK FAKTA: Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Mulai 5-28 Februari, Benarkah?