- PT Ormat Geothermal Indonesia, afiliasi Ormat Technologies dari AS, berkomitmen investasi US$1 miliar hingga 2030 untuk energi panas bumi nasional.
- Perusahaan yang hadir sejak 2015 ini terlibat proyek panas bumi Ijen dan memenangkan tender WKP Telaga Ranu pada Januari 2026.
- Ormat Technologies memiliki akar historis dan keterikatan struktural mendalam dengan Israel, memicu perdebatan kebijakan di Indonesia.
Suara.com - Nama PT Ormat Geothermal Indonesia kini tengah menjadi pusat perhatian di sektor energi nasional.
Perusahaan ini merupakan kepanjangan tangan dari Ormat Technologies, Inc., sebuah korporasi energi terbarukan global yang bermarkas di Amerika Serikat, namun memiliki sejarah panjang dan keterikatan struktural yang mendalam dengan Israel.
Di Indonesia, Ormat memposisikan dirinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengejar target Net Zero Emission 2060.
Melalui teknologi biner yang menjadi keunggulannya, perusahaan ini berkomitmen menyuntikkan investasi hingga US$1 miliar (sekitar Rp16,2 triliun) hingga tahun 2030 mendatang.
Hadir sejak tahun 2015, Ormat telah mengamankan posisi penting dalam peta panas bumi Indonesia. Berikut adalah beberapa jejak operasional mereka:
- Proyek Strategis: Memiliki andil besar dalam pengembangan fasilitas panas bumi Ijen di Jawa Timur.
- Penyedia Teknologi: Menjadi pemasok utama peralatan dan keahlian teknis untuk berbagai lapangan panas bumi besar, termasuk wilayah Salak.
- Konsesi Terbaru 2026: Pada 8 Januari 2026, melalui Keputusan Menteri ESDM No. 8.K/EK.04/MEM.E/2026, perusahaan ini resmi memenangkan tender Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Telaga Ranu di Halmahera Barat, Maluku Utara.
Meskipun secara administratif PT Ormat Geothermal Indonesia adalah anak perusahaan dari entitas Amerika Serikat, identitas korporasinya tidak dapat dilepaskan dari ekosistem industri Israel.
Pasalnya, sang induk usaha, Ormat Technologies didirikan pada tahun 1965 di Yavne, Israel, oleh pasangan insinyur Lucien dan Yehudit Bronicki.
Hingga saat ini, perusahaan masih mempertahankan fasilitas manufaktur utama di Israel. Sahamnya pun tercatat secara ganda (dual listing) di bursa efek New York (NYSE) dan Tel Aviv (TASE).
Selain itu, pengembangan sistem panas bumi yang digunakan secara global, termasuk di Indonesia, dikembangkan melalui jaringan penelitian dan pasar energi di Israel.
Baca Juga: Jeffrey Epstein Minta Bantuan Israel untuk Caplok Aset dan Tambang Libya
Kemenangan Ormat dalam tender Telaga Ranu pada awal 2026 memicu perdebatan hangat, terutama terkait konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia.
"Beberapa kritikus menyoroti adanya kontradiksi antara dukungan politik Indonesia terhadap Palestina dengan pemberian konsesi energi besar kepada perusahaan yang secara struktural tertanam dalam sistem ekonomi Israel."
Selain isu geopolitik, proyek di Telaga Ranu juga menghadapi tantangan lokal. Para aktivis lingkungan dan masyarakat setempat menyuarakan kekhawatiran terkait:
- Dampak Ekologis: Risiko gangguan pada pola air tanah dan ekosistem hutan akibat pengeboran eksplorasi.
- Transparansi: Kritik mengenai minimnya konsultasi publik yang mendalam sebelum penetapan pemenang tender.
Ketahanan Sosial: Potensi pembagian keuntungan yang tidak merata bagi komunitas lokal di Halmahera Barat.
Pengamat Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat bahkan menegaskan,"Selama puluhan tahun, Indonesia memosisikan diri sebagai pembela hak-hak Palestina yang konsisten. Menyetujui proyek yang terikat pada perusahaan dalam sistem ekonomi Israel secara langsung memotong identitas tersebut".
DISCLAIMER: Profil perusahaan ini disusun berdasarkan data keterbukaan informasi dan laporan resmi hingga Februari 2026.
Berita Terkait
-
Ulasan Buku Julid Fi Sabilillah: Strategi Warganet Indonesia Membongkar Propaganda Israel
-
Israel Resmi Gabung BoP, Pakar UGM Sebut Indonesia Terjebak Diplomasi 'Coba-Coba' Berisiko Tinggi
-
SBY Minta Pemerintah Dalami Aturan Board of Peace Sebelum Bayar Iuran Rp17 Triliun
-
Isarel Gabung Board of Peace, Kemlu Jelaskan Sikap Indonesia
-
AS Siapkan Kirim Kapal Induk Kedua ke Wilayah Iran di Tengah Ancaman Perang
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
AFTECH Rilis Buku Panduan Kolaborasi Pindar-Bank Perluas Akses Kredit
-
WOOK Group Investasi Talenta Digital Lewat Beasiswa
-
Kapitalisasi Pasar Saham RI Kembali Naik Tembus Rp 14.889 triliun
-
BRI Barca Week 2026 Jadi Momentum Peluncuran BRI Debit FC Barcelona
-
DEWA Tuntaskan Buyback Saham Hampir Rp 1 Triliun, Rampung Lebih Awal
-
Pemerintah Kaji Larangan Ekspor Timah Mentah, Bahlil Minta Bank Biayai Hilirisasi
-
Saham MGLV Naik 4.271 Persen, Kini Resmi Dikuasai Raksasa Data Center
-
Profil PT Hillcon Tbk (HILL), Harga Sahamnya Anjlok Parah Usai Gugatan PKPU
-
Harga Emas dan Perak Menguat, Sinyal Penguatan Jangka Panjang?
-
Saham BUMI Diborong Lagi, Target Harganya Bisa Tembus Level Rp500?