Suara Bandung Barat - cerita horor, kisah horor, Kerusuhan itu dimulai dari ketidakpuasan dan kebosanan masyarakat Indonesia atas kepemimpinan otoriter presiden Soeharto.
Kurs dollar terhadap rupiah naik berkali-kali lipat, menyebabkan kenaikan harga bahan pokok dan lainnya yang membuat rakyat semakin sengsara dan menderita.
Marsinah, seorang buruh pabrik yang sehari-harinya menghabiskan waktu bekerja untuk menghidupi kedua anaknya-ia hidup sendirian, suaminya telah meninggal, ditembak petrus.
Satu hari di bulan April, kerusuhan meletus, amarah rakyat meledak-ledak. Kebakaran ada di mana-mana, penjarahan toko-toko sekaligus juga pemerkosaan terhadap wanita-wanita.
Marsinah keluar dari pabriknya, berlari tergopoh-gopoh menuju rumahnya, jaraknya memang tidak jauh, hanya 10 menit dengan berjalan kaki.
Dengan setengah berlari, di tengah kekecauan, harap-harap cemas hati Marsinah. Berharap rumah dan kedua anaknya masih baik-baik saja.
Biasanya, ketika Marsinah bekerja dari pukul 07.00 pagi sampai 17.00 sore, anaknya dititipkan pada sepasang kakek-nenek Tionghoa yang menjadi tetangga baiknya.
Jarak yang biasanya ditempuh 10 menit itu, ternyata banyak memakan waktu yang lama, sebabnya banyak orang berdesak-desakan, ribut dan saling menjarah.
Saat Marsinah melewati sebuah toko milik orang keturunan China, hatinya menangis, getir melihat seorang gadis tionghoa diperkosa beramai-ramai, bapak si gadis itu telah mati di pojok sepi toko barang elektronik itu.
Baca Juga: Analis Menilai Ada Endorsement Jokowi untuk Ridwan Kamil Saat Puji Investasi Jawa Barat
Singkat cerita, Marsinah sampai ke rumahnya. Dan bagusnya, rumahnya tidak diapa-apakan oleh masyarakat-tahu, itu memang rumah seorang pribadi. Begitu juga rumah sepasang kakek-nenek tionghoa tadi.
Tetapi, Marsinah tidak menemukan kedua anaknya, ia pergi ke rumah si kakek-nenek. Saat memasuki halaman rumah, dag dig dug hatinya.
Rumah itu sepi, tidak seperti biasanya. Ia buka perlahan-lahan pintu rumah, aneh! kok tidak kunci? pikir Marsinah.
Rumah itu benar-benar sepi, bahkan suara burung peliharaan kakek-nenek tidak juga terdengar.
Ia perlahan-lahan memasuki ruang utama, tidak ada siapa-siapa, "Kek...Nek...Arko...Nindi?" ia memanggil kakek-nenek dan kedua anaknya. Namun tidak ada sahutan balasan.
Marsinah mencoba mencarinya di dapur, tidak ada. Ia pergi ke belakang rumah, tidak ada. Hanya sepi dan kosong. Ke mana mereka?-tanya lirih Marsinah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
Terkini
-
IHSG Terus Terjun ke Zona Merah, Nyaris ke Level 6.900
-
Persaingan Sengit Skuad Timnas Indonesia: Wajah Baru, Harapan Baru
-
Sopir Taksi Green SM Diperiksa Polisi Terkait Kecelakaan KRL di Bekasi Timur!
-
TelkomGroup Dukung Menkomdigi, Ciptakan Ruang Digital Aman Bagi Anak Melalui PP Tunas
-
Korban Jiwa Berjatuhan, Lebanon Selatan Digempur Artileri Israel Meski Ada Kesepakatan Damai
-
Siapa Saja Kru Masinis Argo Bromo? Ungkap Masalah Sinyal Usai Kecelakaan Tabrak KRL
-
Pemprov DKI Sampaikan Duka, Guru SDN Pulogebang 11 Jadi Korban Tabrakan KRL
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Usai Rilis Global, HP Murah POCO C81 Pro Bersiap Masuk ke Indonesia
-
Proses Identifikasi Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Terus Dilakukan, RS Polri Ungkap Kendalanya