/
Sabtu, 14 Oktober 2023 | 10:43 WIB
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad, mantan Pemimpin Redaksi Tempo, mengungkapkan kekecewaannya terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Goenawan Mohamad sebelumnya pernah menyebut Jokowi sebagai presiden terbaik dalam sejarah Indonesia, namun kini ia berbalik kecewa.

Dalam sebuah tulisan yang diunggah di media sosial, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa Jokowi telah terkena "madat" kekuasaan dan pujian. Ia menjadi tidak mudah dikritik dan tidak mendengarkan saran-saran akal sehat.

Salah satu contohnya, Jokowi tidak mendengarkan saran untuk membangun ibu kota baru secara bertahap. Ide tersebut dinilai Goenawan Mohamad akan berantakan jika tidak direalisasikan dengan seksama.

Goenawan Mohamad juga kecewa dengan perlakuan istimewa yang diberikan Jokowi kepada anak-anaknya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep. Ia menilai bahwa Jokowi telah melakukan hal yang sama seperti Suharto, yang memberi keistimewaan kepada anak-anaknya.

"Semula saya dan banyak orang pernah kagum, juga terharu, melihat Gibran dan Kaesang bekerja sebagai pengusaha biasa (jual martabak dan pisang goreng), bukan dengan memonopoli bidang bisnis besar seperti anak-anak Suharto," kata Goenawan Mohamad.

"Tapi ketika dengan mudahnya — tanpa kompetisi terbuka, tanpa prosedur yang benar — putra-putra Jokowi naik ke kursi kekuasaan, saya mulai ragu dan meneliti. Ternyata Jokowi, presiden saya, presiden yang dicintai rakyat, telah memberi mereka keistimewaan secara tak adil."

Goenawan Mohamad mengaku kecewa dan sedih melihat hal tersebut. Ia menilai bahwa demokrasi Indonesia mulai retak karena orang-orang yang dipercaya ternyata culas.

"Saya sadar saya dan banyak orang lain seperti saya, tak berdaya melawan," kata Goenawan Mohamad. 

Baca Juga: Pengangguran dan Konsensus Keadilan: Persoalan Individual atau Hambatan Sosial?

"Tapi tak bisa saya akan hanya diam; saya akan bersalah kepada negeri kita yang satu-satunya ini jika saya hanya diam."

Goenawan Mohamad mengatakan bahwa ia masih memiliki harapan untuk Indonesia. Ia masih bisa menulis dan melukis, kegiatan yang menurutnya masih bisa menjadi sarana untuk melawan ketidakadilan. Ia juga masih memiliki teman-teman yang setia kepada prinsip.

"Saya masih mendengar mereka yang menggertakkan geraham berkata: “Cukup! Hentikan!” — mereka yang tahu apa yang bakal hancur, bakal direnggutkan dari generasi Indonesia yang akan datang," kata Goenawan Mohamad.

Load More