Suara.com - Pada tahun 1981, Howard Schultz berkunjung ke sebuah kedai kopi kecil di kota Seattle, Amerika Serikat. Nama kedai kopi itu Starbucks. Ketika itu, Starbucks hanya kedai kopi kecil dan Schultz masih bekerja di perusahaan Xerox. Namun, kunjungan itulah yang menjadi awal dari sukses Starbucks di dunia.
Satu tahun setelah berkunjung ke kedai kopi Starbucks, Schultz melakukan perjalanan bisnis ke Italia. Budaya orang Italia dalam minum kopi menginspirasi Schultz. Dia meminta pemilik Starbucks untuk meniru model kedai kopi di Italia: kedai kopi kecil di setiap ujung jalan, menyajikan secangkir kopi, di mana pengunjung tidak datang dan pergi tetapi menghabiskan waktu luang mereka.
Namun, Schultz gagal membujuk pemilik Starbucks untuk menjalankan ide tersebut. Tidak putus asa, Schultz memutuskan keluar dari pekerjaannya di Xerox dan mendirikan kedai kopi yang diberi nama Il Giornale. Meski suidah mempunyai kedai kopi sendiri, Schultz belum menyerah untuk meyakinkan pemilik kedai kopi Starbucks.
Setelah tiga tahun, pemilik kedai kopi itu memutuskan untuk menjual kepemilikannya di Starbucks kepada Schultz sebesar 3,8 juta dolar. Mimpi Schultz pun terwujud. Dia mulai mengubah imej Starbucks menjadi kedai kopi yang nyaman untuk orang bersantai. Selain menjual kopi, Starbucks juga menyediakan teh, jus, roti hingga salad.
Mungkin tidak banyak yang tahu, angka turnover atau karyawan yang keluar di Starbuck sangat kecil. Sebagian besar karyawan kedai kopi itu sangat loyal karena Schultz menerapkan aturan yang menguntungkan karyawan. Antara lain tanggungan kesehatan kepada karyawan tetap dan kontrak serta pemberian saham.
Pria kelahiran Brooklyn pada 1953 itu memberikan jaminan kesehatan kepada semua karyawan karena pengalamannya di masa kecil. Dia melihat salah satu teman ayahnya yang tidak bisa berobat karena tidak mendapat jaminan kesehatan yang penuh.
Schultz juga dengan jitu mengadaptasi budaya local ke kedai kopinya. Di Amerika, budaya minum kopi yang sering dilakukan adalah take away alias dibawa pulang. Ini berbeda dengan budaya minum kopi di Cina di mana konsumen lebih senang duduk berlama-lama di kedai kopi.
Bukan itu saja, Schultz juga menyesuaikan menu dengan cita rasa local. Misalnya, dia menghidangkan menu teh hijau yang cocok dengan lidah orang Cina. Itulah yang membuat Starbucks sangat diterima di Cina. Keuntungan Starbucks di Cina ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan di Amerika.
Pada 2011, keuntungan operasional di Cina mencapai 34 persen sedangkan di Amerika hanya 21 persen. Kini, Starbucks mempunyai lebih dari 17.000 cabang di seluruh dunia. Mungkin anda mengira bahwa Starbucks adalah perusahaan yang melakukan franchise. Dalam kenyataannya, hampir sebagian besar kedai kopi Starbucks di seluruh dunia adalah milik perusahaan yang dipimpin Schultz.
Sejak 1992, saham Starbucks naik hingga 5.000 persen. Sukses Starbucks terletak pada kemampuan menciptakan konsumen mendapatkan pengalaman personal, stimulasi pertumbuhan bisnis, menghasilkan untung, memberdayakan pegawai serta menumbuhkan loyalitas secara bersamaan.
Majalah Fortune menobatkan Starbucks sebagai salah satu perusahaan yang paling dikagumi di dunia. Kebijakan Schultz yang menjadikan karyawan sebagai partner telah membuat kedai kopi kecil itu menjadi perusahaan dengan nilai 1,5 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp18 triliun. (Dari berbagai sumber)
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Harga Minyak Turun di Bawah 100 Dolar Imbas Perkembangan 'Positif' Nego Perang Iran
-
Krisis Global? Tabungan Orang Kaya Semakin Gemuk
-
Lebih Rentan Meledak, Distribusi CNG Lebih Baik Lewat Jargas
-
Pertamina Jajaki SLB sebagai Mitra Teknologi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
Harga MinyaKita Mahal, Pedagang: Mending Beli Minyak Goreng yang Lain!
-
Laba Bank Jago Melonjak 42 Persen di Kuartal I 2026, Tiga Arahan Jadi Kunci
-
Dorong Reintegrasi Sosial, Kemnaker Siapkan Akses Kerja bagi Eks Warga Binaan
-
Integrasi Holding Ultra Mikro Jangkau 33,7 Juta Pelaku Usaha, Bukti BRI Berpihak pada Rakyat
-
Purbaya Bebaskan Pajak untuk Merger BUMN, Kasih Waktu 3 Tahun
-
Direktur Pegadaian Raih Penghargaan Women in Business Leadership 2026