Suara.com - Dua orang pria yang menggunakan kaos oblong serta celana Bermuda mondar-mandir di sebuah ruangan. Mereka ditemani 20 karyawan tetap serta lima orang pekerja lepas.
Dua pria itu adalah Jan Koum (36 tahun) warga negara Ukraina dan Brian Acton (40 tahun) warga Amerika. Keduanya adalah pendiri WhatsApp Inc, perusahaan yang membuat aplikasi chatting di smartphone.
Kantor WhatsApp Inc di Mountain View sama sekali tidak menggambarkan perusahaan itu adalah pembuat aplikasi paling populer di smartphone. Sebagai pendiri, Jan dan Brian tidak punya ruangan sendiri. Mereka bergabung dengan 25 karyawan lainnya.
“Kami bukan perusahaan besar yang mempekerjakan ribuan karyawan,” kata Koum.
Keduanya juga lebih senang dengan kehidupan yang low profile. Sangat jarang media menulis tentang sepak terjang Koum dan Acton. Koum dan Acton sempat kerja bareng di Yahoo. Acton sempat kehilangan pekerjaannya sebagai Wakil Presiden bidang teknik di Yahoo.
Dia sempat melamar ke Facebook dan Twitter. Namun, dua perusahaan itu menolak lamarannya. Acton tidak putus asa. Dia kemundian mengajak bekas teman sekantornya Jan Koum untuk membuat sebuah aplikasi untuk smartphones.
Menciptakan produk yang bagus, adalah tujuan utama Acton dan Koum. Baru pada 2009, mereka menciptakan WhatsApp. Tidak lama kemudian, WhatsApp langsung menarik minat pengguna smartphones. Hanya dalam waktu singkat, aplikasi itu sudah diunduh oleh 50 juta pengguna dari Google’s Play Store.
Sukses tidak membuat Acton dan Koum jumawa. Ketika WhatsApp mendapat penghargaan sebagai aplikasi terbaik dalam Mobile World Congress d Barcelona, Koum memenuhi undangan itu. Namun, dia meminta salah satu karyawan pemasaran untuk menerima penghargaan itu di atas panggung.
“Saya tidak bisa menerima penghargaan itu karena tengah ada rapat,” ujar Koum.
Kehadiran WhatsApp membuat pengguna Smartphone secara perlahan mulai mneninggalkan layanan SMS. Dengan WhatsApp, pemilik smartphone bisa mengirim pesan pendek, foto, video dan suara tanpa harus bayar. Bukan itu saja, WhatsApp juga lintas platform sehingga bisa digunakan untuk iPhone, Blackberry, Windows Phone, Android dan Symbian.
Kini, sekitar 1 miliar pesan dikirim setiap hari melalui WhatsApp. Aplikasi ini menjadi yang populer di 40 negara seperti Uni Eropa, Asia, Timur Tengah dan Amerika Latin. Namun, Koum dan Acton masih tetap menjalani kehidupannya dengan normal.
“Kami tidak terlalu memperhatikan tentang berapa banyak jumlah download, pesan yang dikirim atau berapa lama orang chat. Kami tumbuh cepat karena dunia bergerak menuju smartphone dan kami hanya mengambil keuntungan dari revolusi itu,” kata Acton.
Pengguna smartphone bisa mengunduh WhatsApp dengan gratis dan hanya akan dikenai bayaran 1 dolar Amerika atau sekitar Rp 12.000 per tahun. Hanya pada platform Apple, tidak ada pungutan iuran tahunan.
Acton dan Koum mengungkapkan, sukses yang mereka raih bukan karena harga tetapi karena kualitas.
“Harga adalah nomor dua. Orang hanya ingin saling berhubungan. Smartphones sudah semakin murah dan terjangkau, hingga di negara berkembang dan mereka punya data plan. Dengan penetrasi itu, ada migrasi dalam sistem kita, karena kami menyediakan pelayanan yang baik. Pada akhirnya, semua terkait dengan pemasaran,” jelasnya.
Hari ini, Facebook resmi membeli aplikasi WhatsApp sebesar 19 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp228 triliun. Penolakan Facebook dan Twitter justru membuat Acton mampu melakukan inovasi dengan membuat WhatsApp dan menjadi akuisisi dengan nominal terbesar dalam sejarah industry media social. (dari berbagai sumber)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Wacana Rokok Murah untuk Masyarakat Bawah Dikritik, Ancam Penerimaan Cukai Negara
-
cashUP Perkuat Ekosistem UMKM Digital, Satukan Pembayaran, Pembiayaan, dan Teknologi
-
IHSG Tertekan! Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp1,1 Triliun
-
Tiket Pesawat Gratis PPN dan Diskon Kereta, Ini Rincian Stimulus Ekonomi Rp26,3 Triliun
-
BI Siapkan Wirausaha Baru dan Jutaan Peluang Kerja lewat Program Transformasi UMKM Nasional
-
Gejolak Timur Tengah Bikin LNG Mahal, Indonesia Tak Bisa Menghindar
-
Pertamina: Investasi Terbaik Bukan Teknologi, Tapi SDM Unggul
-
BUMN RI Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Sumber Cuan, Biaya Pakan Ternak Turun 60%
-
IHSG Belum Aman, MNC Sekuritas Prediksi Koreksi Berlanjut Sebelum Menguat
-
Pemerintah Umumkan Stimulus Transportasi Rp 1,54 T, Lengkap dari Pesawat hingga Kapal