Suara.com - Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Kemenag Anggito Abimanyu menyatakan pengelolaan dana haji saat ini memasuki masa transisi, yaitu peletakan dasar sistem keuangan agar memiliki nilai manfaat yang besar bagi jamaah haji ke depan.
"Itu (pengelolaan dana haji antara Rp8 hingga Rp10 miliar setiap tahun yang berasal dari setoran jamaah) godaan besar bagi siapa pun yang mengelola uang sebesar itu," katanya dalam dialog publik bertajuk 'Manajemen Pengelolaan Haji dan Pembangunan Ekonomi Umat' di Jakarta, Jumat (28/3/2014), seperti dilansir Antara.
"Setahun terakhir, dana haji yang ada di sejumlah bank konvensional secara bertahap dialihkan ke 17 Bank Penerima Setoran (BPS) syariah. Itu sesuai dengan amanat UU No.13 tahun 2008 tentang penyelenggaraan ibadah haji," katanya.
Ia menyebut dana abadi umat (DAU) hingga kini tercatat mencapai Rp2,3 triliun, sedangkan dana setoran awal jamaah haji ditambah nilai manfaat setelah dikurangi dana operasional kini mencapai Rp64,5 triliun.
Sejak ia menjabat Ditjen PHU, ada tiga dimensi penting, yaitu dimensi pertama yang menyangkut aspek ibadah. Persoalan ibadah itu menjadi ruh setiap orang melaksanakan haji. Esensinya, bagaimana seseorang mencapai haji mabrur, kesalehan sosialnya meningkat dan kualitas ibadahnya makin bagus.
Dimensi kedua adalah aspek sosial. Haji menjadi status sosial yang bisa digambarkan ketika dalam acara kenduri seorang yang sudah berhaji diberi kursi terhormat.
Atau, dalam shalat di masjid diberi tempat tiga baris pada shaf terdepan. Kenyataan ini mendorong terjadinya antrean panjang calon jamaah haji di daerah tertentu.
Di Indonesia, ada daerah yang punya antrean panjang daftar haji; yaitu di Kabupaten Wajo sampai 20 tahun, lalu disusul daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Aceh.
"Kita memang menggunakan sistem first-come-first-serve, sistem pelayanan dengan mendahulukan orang pertama pendaftar haji yang didahulukan," katanya.
Dimensi ketiga adalah aspek keuangan. Hal ini yang menarik perhatian publik. Sementara aspek sosial dan ibadah kurang mendapat tempat di media massa. Kalaupun ada persentasenya kecil. Apalagi untuk membicarakan rukun haji dan kemabruran haji. (Antara)
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
Terkini
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Timur Tengah Hadapi Kiamat Kecil Jika Iran Serang Instalasi Desalinasi Negara-negara Arab
-
Anggaran Dana Pensiun DPR-Pejabat Diusulkan untuk Guru Honorer hingga Nakes
-
Perhatian Pemudik! Rest Area KM 52B Bisa Ditutup Sewaktu-waktu Saat Arus Balik
-
Purbaya Yakin Pertumbuhan Ekonomi RI 5,7% di Q1 2026 Meski Ada Perang AS vs Iran
-
Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Capai 5,6 Persen Berkat Mudik Lebaran 2026
-
285 Ribu Kendaraan Bakal Padati Jalan Tol Trans Jawa pada 24 Maret
-
LPEI Ungkap Risiko Konflik Timur Tengah ke Kinerja Ekspor Indonesia Masih Terbatas
-
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 120 Dolar AS per Barel Sepanjang 2026, Naik 2 Kali Lipat
-
Kendaraan Arus Balik Mulai Ramai, Rest Area di Tol Semarang Terapkan Pola Buka-Tutup