Suara.com - Bank Indonesia membantu petani untuk mengembangkan kluster cabai merah besar organik di Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Keterlibatan Bank Indonesia dalam kegiatan pengembangan usaha di sektor pertanian tersebut karena cabai termasuk komponen bahan pokok makanan sehingga ada kaitannya dengan tugas BI dalam melakukan pengendalian inflasi atau pengendalian harga.
"Pengembangan kluster cabai organik itu sebagai upaya untuk menekan laju inflasi karena mahalnya harga cabai sering berpengaruh pada tingginya angka inflasi di Jember," kata Manajer Akses Keuangan dan UMKM BI Jember Sigit Suryadi, Selasa (29/4/2014)
Kluster cabai organik itu dikembangkan mulai tahun ini di Jember dan diharapkan prospek ke depan lebih baik dengan mendapat sambutan positif dari petani. Menurut Sigit, BI Jember melakukan kerja sama dengan sebuah koperasi holtikultura" Lestari" di Kecamatan Wuluhan yang memiliki mitra kerja dengan produsen saos cabai merk terkenal sebagai pembeli cabai organik tersebut.
"Dalam nota kesepahaman (MoU) tersebut tercatat target produksi cabai merah besar organik itu sebanyak 1.500 ton per tahun dengan luas lahan mencapai 250 hektare," jelasnya.
Sistem kerja sama itu diharapkan akan memberi kepastian harga cabai bagi petani dan untuk menekan gejolak inflasi di daerah karena harga cabai menjadi salah satu penyumbang inflasi dalam kelompok bahan makanan.
"Kesepakatan harga antara kelompok tani dengan salah satu produsen saos cabai itu sebesar Rp8 ribu per kilogram. Apabila harga melebihi Rp15 ribu di pasaran, maka harganya akan disesuaikan dengan angka yang sudah dihitung oleh pihak produsen," paparnya.
Ia menjelaskan BI Jember akan memberi bantuan teknis dengan menyediakan tenaga ahli dari Universitas Muhammadiyah Malang untuk melakukan pembinaan terhadap kelompok tani di Koperasi Holtikultura Lestari, sehingga dharapkan petani bisa mengembalikan kesuburan tanah dengan pola tanam organik tersebut. "Kami juga akan mendampingi para petani untuk membuat pembukuan keuangan secara sederhana, sehingga mereka bisa menghitung keuntungan dan kerugian yang didapat selama menanam cabai organik," katanya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Purbaya Mau Naikkan Anggaran Transfer ke Daerah hingga Rp 90 Triliun di 2027
-
IHSG Bangkit ke Level 6.000 di Sesi I, Saham TPIA dan TOWR Bersinar
-
Isu Kelangkaan Batu Bara Bikin Listrik Padam, Pengamat Soroti 'Pengusaha Nakal'
-
Produk UMKM Lokal Bakal Diprioritaskan Muncul di Laman Marketplace, Begini Aturannya
-
Setujui Tenor KPR FLPP hingga 40 Tahun, Pemerintah Pertahankan Bunga Rumah Subsidi 5 Persen
-
HSBC Indonesia Nilai Akses Pembiayaan Modal Kerja Penting Buat UMKM
-
Cara UMKM Agar Tidak Kena Potong Pajak e-Commerce saat Jualan Online
-
Terbitkan Panda Bond, Purbaya: Bunga Utang China Lebih Murah Dibanding Amerika
-
Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
-
Purbaya Heran Lembaga Asing Terus Sorot Ekonomi RI, Bandingkan Nasib dengan AS-Eropa