Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga saat ini belum mengambil keputusan terkait perhitungan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan berubah setiap tiga hingga enam bulan sekali.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas, I Gusti Nyoman Wiratmaja mengatakan, penentuan harga BBM baru belum akan dilakukan dalam beberapa bulan ke depan. Pasalnya menurutnya, kondisi perekonomian di Indonesia saat ini sedang bergejolak dan tidak kuat. Jika pemerintah mengeluarkan harga BBM baru dalam beberapa bulan ke depan, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak di masyarakat.
"Ekonomi kita saat ini sedang tidak kuat, sedang bergejolak. Apalagi mau puasa dan Lebaran. Ini bisa mengganggu. Jadi, belum akan ada kenaikan dulu sampai puasa dan Lebaran," tutur Nyoman Wiratmaja, saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2015).
Menurut Nyoman, pihaknya pun mengakui perhitungan harga BBM baru ini telah mempengaruhi kondisi perekonomian. Tidak dipungkiri, meski sempat terjadi penurunan harga BBM, harga kebutuhan pokok tidak mengalami penurunan.
"Memang perubahan harga BBM ini sangat mengganggu masyarakat, karena saat BBM turun ternyata kebutuhan pokok tidak turun. Makanya kita masih tunggu dulu ini, sampai kondisi perekonomian negara dan masyarakat kuat, baru kami kaji kembali," jelasnya.
Menurut Nyoman pula, hingga saat ini pemerintah masih melakukan evaluasi terkait perhitungan harga BBM baru yang akan berubah setiap tiga hingga enam bulan sekali. Hal ini untuk mengantisipasi gejolak yang akan timbul di masyarakat.
"Saat ini sedang dievaluasi. Paling tidak tenang dulu, sampai puasa dan Lebaran. Itu fokus kami saat ini," pungkasnya.
Seperti diketahui, pemerintah berencana tak lagi menerapkan penyesuaian harga bensin Premium dan solar bersubsidi setiap sebulan sekali, tetapi antara tiga bulan atau enam bulan sekali. Hal ini dilakukan untuk menghindari gejolak di masyarakat.
"Kenaikan itu kan tergantung pergerakan minyak dunia. Kalau nanti naik-turunnya terlalu sering, akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Kalau terlalu sering naik atau turun, ternyata dampak inflasinya terhadap ekonomi cukup signifikan. Setiap naik, barang ikut naik. Turun, tapi barangnya belum tentu turun. Makanya mekanismenya kita ubah," jelasnya beberapa waktu lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Finansial, Nanovest Ajak Investor Susun Portofolio Sehat
-
S&P Peringatkan Indonesia soal Tekanan Fiskal, Ada Risiko Penurunan Rating
-
Kementerian ESDM: Perusahaan Amerika Tetap Harus Investasi Jika Mau Akses Mineral Kritis Indonesia
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus
-
BRI Cetak Laba Rp57,13 Triliun di 2025, Kredit Tumbuh 12,3% dan NPL 3,07%
-
Indeks Kepercayaan Industri Merosot di Februari ke Level 54,02
-
Tanpa Tim HR, UKM Kini Bisa Rekrut Karyawan Pakai AI
-
Menkop Mau Evaluasi Jarak Alfamart-Indomaret dengan Pasar Tradisional
-
Gandeng Inggris, OJK Pecut Perbankan Percepat Pembiayaan Iklim
-
56,3 Juta Pengguna QRIS, Indonesia Jadi Target Ekspansi AI Perbankan