Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution membeberkan beberapa paket kebijakan ekonomi yang akan dikeluarkan pemerintah dalam waktu dekat.
Paket kebijakan ekonomi bertujuan untuk mendongkrak nilai tukar rupiah atas dolar AS akibat pelemahan ekonomi global. Kebijakan ini juga diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan perekonomian.
"Paketnya itu dikelompokkan menjadi empat bagian. Per kelompok sedikitnya ada 6-7 poin. Pokoknya ini untuk menjaga perekonomian Indonesia. Saya juga sudah mempresentasikannya ke Presiden," kata Darmin saat ditemui di kantornya, Rabu (2/9/2015).
Kelompok pertama, lanjut Darmin, paket kebijakan di sektor fiskal dan keuangan. Paket mengatur tentang apartemen kepemilikan asing dan pinjaman luar negeri.
"Jadi pembahasannya itu soal apartemen kepemilikan asing itu, terus sama soal aturan pinjaman ke luar negeri. Jadi nanti ada aturannya. Kalau modalnya kecil nggak usah minjem-minjem. Kalau minjem nanti nyusahin masyarakat kecil. Terus soal dana desa yang Rp48 triliun itu kan kita fokuskan aja ke pembangunan jalan dan jembatan di pedesaan. Jadi yang di desa punya penghasilan tambahan dan ada lapangan pekerjaan," katanya.
Kelompok dua terkait deregulasi kebijakan, khususnya bidang investasi. Darmin mengatakan Presiden Joko Widodo minta paket ini segera diselesaikan.
"Ini ada sekitar 100-160 peraturan di investasi. Ini ada yang kita pangkas ada juga yang kita sederhanakan peraturannya. Nah pak Jokowi minta diselesaikan dalam minggu ini," katanya.
Kelompok tiga adalah paket kebijakan yang akan berhubungan dengan pangan. Kebijakan tersebut salah satunya dengan mengeluarkan beras raskin yang ke 13 dan ke 14 dalam setahun. Hal ini dilakukan guna menanggulangi permasalahan kekeringan yang kerap melanda Indonesia.
"Rencananya sekitar bulan September atau November begitu lah. Namanya juga kata ibu Khofifah mau diubah menjadi beras untuk sejahtera," katanya.
Kelompok keempat mengenai paket yang bersifat insentif untuk menarik para investor untuk membangun smelter di Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produk bernilai tambah yang dihasilkan meningkat di dalam negeri.
"Kalau yang di sektor Minyak, Gas dan Tambang itu insentif sih masuknya. Jadi kayak pembangunan smelter di Indonesia akan kita dorong terus," katanya.
Rencananya, untuk paket kebijakan deregulasi peraturan investasi akan dirapatkan kembali dalam minggu ini. Rapat nantinya akan dipimpin Presiden Jokowi dari Istana Bogor.
"Karena deregulasi minta diselesaikan minggu ini, nanti akan ada rapat di bogor. Nah di sana akan di bahas semuanya. Langsung dipimpin Pak Presiden," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok
-
Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah
-
Pelaku UMKM hingga Investor Asing Kini Bisa Urus Bisnis dalam Satu Platform