- Kebijakan Presiden Prabowo tahan harga BBM subsidi sukses dongkrak Indeks Kepercayaan Industri.
- Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 melesat ke 53,56 berkat inflasi yang terkendali.
- Daya beli domestik jadi kunci, karena 80% produk manufaktur RI diserap pasar dalam negeri.
Suara.com - Keputusan berani Presiden Prabowo Subianto untuk tidak mengotak-atik harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi berbuah manis bagi roda perekonomian nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kebijakan ini sukses mendongkrak rasa percaya diri para pelaku industri manufaktur di tanah air sepanjang Mei 2026.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengungkapkan, langkah taktis pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi terbukti ampuh menjinakkan laju inflasi. Efeknya, kantong dan daya beli masyarakat tidak tertekan di tengah ketidakpastian global.
Optimisme ini bukan isapan jempol belaka. Sinyal positif tersebut langsung tercermin dari lonjakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 yang melesat ke angka 53,56. Angka ini naik signifikan jika dibandingkan dengan rapor bulan sebelumnya yang tertahan di level 51,75.
"IKI yang naik signifikan ini, menurut Kemenperin, merupakan ungkapan optimisme pelaku industri atas keputusan Bapak Presiden Prabowo yang tidak menaikkan harga BBM subsidi," ujar Febri dalam konferensi pers IKI Mei 2026 di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Febri menjelaskan, keputusan menahan harga BBM penugasan ini memberikan efek domino yang sangat positif bagi sektor raksasa manufaktur. Ketika inflasi berhasil diredam, gairah konsumsi masyarakat otomatis ikut terpompa.
"Kebijakan tidak menaikkan harga BBM subsidi tersebut membuat inflasi tetap terkendali, sehingga daya beli masyarakat, terutama daya beli atas produk manufaktur, meningkat," imbuhnya.
Lebih lanjut, Kemenperin mengingatkan bahwa pasar domestik masih menjadi urat nadi dan tameng utama bagi industri kelangsungan nasional. Pasalnya, mayoritas hasil bumi dari pabrik-pabrik di Indonesia memang ditargetkan untuk mengenyangkan perut pasar lokal, bukan pasar internasional.
"Kita tahu bahwa 80 persen output manufaktur untuk memasok kebutuhan dalam negeri dan sisanya 20 persen ekspor," pungkas Febri.
Dengan ketergantungan yang sangat tinggi pada konsumsi lokal, menjaga stabilitas daya beli masyarakat bawah dan menengah pun menjadi harga mati agar industri dalam negeri tetap bisa bernapas lega dan terus ekspansif.
Baca Juga: Prabowo Salat Id di Paris, Seskab Teddy: Perkuat Posisi Indonesia di Eropa
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok
-
Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah
-
Ini Cara Miliki Rumah Lelang BTN, Harga Bisa 40% di Bawah Pasar
-
ESDM Bersiap Implementasi B50 pada 1 Juni, Jamin Tak Ganggu Stabilitas Industri Sawit