Suara.com - Harga minyak dunia diperdagangkan sedikit lebih tinggi pada Rabu (2/3/2016) atau Kamis pagi WIB, karena spekulasi potensi kesepakatan para produsen membatasi produksi mereka mengimbangi lonjakan persediaan minyak Amerika Serikat (AS).
Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik 26 sen menjadi berakhir di 34,66 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea, patokan Eropa, untuk pengiriman Mei bertambah 12 sen menjadi menetap di 36,93 dolar AS per barel.
Persediaan minyak mentah komersial AS melonjak 10,4 juta barel menjadi 518 juta barel untuk pekan yang berakhir 26 Februari, 73,6 juta barel lebih besar dari satu tahun sebelumnya, menurut data yang dirilis oleh Badan Informasi Energi AS (EIA), unit dari Departemen Energi AS (DoE).
Persediaan minyak distilasi, termasuk minyak pemanas rumah, juga meningkat tajam. Pada sisi lain, data menunjukkan bahwa produksi minyak AS turun untuk minggu ke-16 berturut-turut.
Produksi minyak mentah AS kehilangan 25.000 barel menjadi 9,077 juta barel per hari pekan lalu.
Persediaan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak AS, naik 1,2 juta barel menjadi 66,26 juta barel.
"Angka-angka EIA jelas 'bearish', tidak ada keraguan tentang hal itu," kata Andy Lipow dari perusahaan konsultan Lipow Oil Associates.
Namun para analis mengatakan harga terangkat oleh pembicaraan antara para produsen tentang rencana untuk mengkoordinasikan batas untuk produksi. Arab Saudi, Rusia dan lain-lainnya telah mengatakan mereka akan berupaya membatasi produksi jika produsen lainnya mengikuti.
Tim Evans, analis di Citi Futures, mengatakan pasar minyak naik karena "dukungan nyata dari pernyataan Venezuela yang menjanjikan pertemuan antara 15 atau lebih produsen minyak 'segera'." Lipow juga mengutip laporan bahwa Arab Saudi telah mencari pinjama internasional sebesar 10 miliar dolar AS, sebagai salah satu faktor pendukung dalam harga.
"Saya pikir pasar mengartikan itu bahwa mereka berada di bawah tekanan keuangan" lanjutnya, mereka juga akan segera mendukung aksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk memotong produksi. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik
-
Sah! SIG Putuskan Tebar Dividen Rp190,8 Miliar ke Investor
-
Direktur Pegadaian Selfie Dewiyanti Dianugerahi Indonesia Leading Women Awards 2026
-
Harga Beras Meroket! Pemerintah Gandeng 'Raksasa' Pangan Turun Gunung, Ada Apa?
-
Mengapa Pemerintah Mau Ganti LPG ke CNG? Apa Untung dan Bahayanya?
-
Rokok Ilegal Bikin Negara Boncos Rp 25 Triliun per Tahun
-
Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026
-
INDEF Ungkap Bahaya Baja Impor Murah Terhadap Proyek Infrastruktur
-
ASDP Genjot Digitalisasi Layanan Kapal Feri