Suara.com - Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo mengatakan, proses globalisasi telah menciptakan suatu sistem yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait.
Ketidakpuasan terhadap globalisasi datang dalam kekuatan besar terutama disebabkan oleh perbedaan pendapatan dan kurangnya tingkat lapangan pekerjaan.
"Kepentingan politik berulang kali mengganggu dan menggunakan ketidakpuasan ini untuk menyangkal manfaat dari globalisasi dan dengan panik mengarah ke kebijakan-kebijakan berbahaya yang berwawasan ke dalam yang dapat menciptakan kerusakan yang lebih besar," kata Mardiasmo, Selasa (10/9/2018).
"Situasi ini dapat menyebabkan perang dagang yang hanya akan menghambat pengembangan pemulihan global," Mardiasmo menambahkan.
Ia menuturkan, Indonesia adalah negara terbuka dan mendukung globalisasi yang akan memberikan keuntungan bersama.
Namun, dalam proses globalisasi, ada kesenjangan kapasitas antara berbagai kelompok. Oleh karena itu, tidak mungkin menerapkan globalisasi murni karena mempertimbangkan mandat konstitusional bagi pemerintah untuk menjaga kesetaraan, integritas dan kedaulatan.
"Tujuan kemitraan adalah mencari solusi win-win. Ini bukan permainan zero-sum. Indonesia percaya bahwa interaksi global mengarah pada saling menguntungkan, perdamaian dan keadilan," kata Mardiasmo.
"Kami menentang tindakan tidak adil yang hanya akan menciptakan kerusakan ekonomi global seperti yang telah ditampilkan oleh beberapa ekonomi besar baru-baru ini," tambahnya.
Ia mengatakan, dunia yang terintegrasi dan keterbukaan telah menciptakan peluang bagi negara melalui perdagangan, spesialisasi, teknologi, dan penyebaran pengetahuan.
Faktor-faktor ini berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas, pertumbuhan, kemakmuran negara dan rakyatnya.
"Data menyatakan bahwa, misalnya, satu dekade sebelum krisis keuangan global ketika integrasi perdagangan meningkat, pertumbuhan volume perdagangan bisa mencapai 6,9 persen dan pertumbuhan PDB global mencapai rata-rata 4,3 persen," ucap Mardiasmo.
"Namun, setelah krisis keuangan global di mana intensitas perdagangan cenderung datar bahkan melambat, pertumbuhan perdagangan global telah menurun lebih dari setengah dan pertumbuhan PDB turun di bawah 3 persen," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Sebut Dasco Dulu Provokator Sekarang Profesor, Prabowo: Co, Hati-hati Co!
-
Review Film WIND UP: The Movie, Perjuangan Manis Mengejar Mimpi Masa Remaja
-
Prabowo Singgung Londo Ireng 'Nyamar' jadi Pengamat dan Wartawan, Kok Bisa?
-
25 Ton Ikan Nila Mati Massal Akibat Letupan Belerang di Danau Batur
-
Harga Minyak Naik Jadi USD 100 per Barel, Perang Merembet ke Selat Bab el-Mandeb
-
Delapan Bulan Pasca Bencana, Ratusan Siswa SD di Aceh Masih Belajar Darurat
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi